Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 128


"Paman ayo antar aku ke papa"


Si kecil Lin terus menarik-narik baju Liam dari beberapa menit lalu, dia terus merengek meminta bertemu dengan papa nya.


Liam akhirnya menyerah, Anran dan Luna yang tengah berada di sekitar mereka pun mendekat.


"Baiklah, tapi jika mama mu marah jangan salahkan paman okey !"


Seru Liam mengulurkan telunjuk di depan wajah Xiao Lin.


"Iya iya cerewet" Delik Xiao Lin dengan ekspresi cemberut nya.


"Ayo" Rengek nya lagi dan sekarang tangan Liam di tarik-tarik.


Liam mengembuskan nafas sabar, niat nya ingin mengajak Luna jalan mumpung dia masih berada di China, tapi belum juga bicara rencananya gagal total karena Xiao Lin.


"Lun, An, kita pamit ya ! Oh iya, nanti mungkin Yuma bakal ke sini dan sekalian bilangin kalau kita ke rumah Daniel sebentar" Ucap Liam seraya membawa Xiao Lin ke dalam pangkuan nya


"Lah, telpon saja pak !" Tukas Anran dan di angguki oleh Luna dengan mantap.


"Handphone saya ketinggalan, Anran!" Kicau nya.


"Ah iya lupa" Seru mereka berdua bersamaan.


...**...


Tidak lama kepergian Liam, Yuma terlihat memarkirkan mobil nya di depan toko kue.


Drtt...


drttt..


drrtt


Getaran handphone terdengar keras, Yuma merogoh benda pipih itu di dalam tas tanpa turun dahulu dari mobil nya.


"Daniel ?" Kerutan tipis di kening Yuma muncul dan dia perlahan menggeser ikon hijau di layar.


"Iya ?" Ucap Yuma lebih dulu, sebelum Daniel berbicara di seberang sana.


Belum ada suara terdengar, hanya ada nafas tak beraturan tak bertepi dan itu membuat Yuma sesekali mengecek layar di handphone nya.


"Yuma terimakasih"


"ah ? " Yuma malah bingung, dia reflek berkata dalam hati 'sudah gila ini orang'


"Yuma ini mama"


Baru saja mau merespon kembali, mulut Yuma yang terbuka terjeda akan suara di seberang sana.


"Mama?" Seru Yuma. Dia malah kebingungan sekarang, seperti orang linglung yang terus mengecek nama di layar bening itu.


"Yuma bisakah datang ke rumah mamah ? Ada sesuatu yang ingin kita bicarakan!" Tutur mama Ella dengan intonasi membendung kebahagiaan.


"Mama baik-baik saja kan ? Yuma ke sana sekarang"


Tanpa berpikir panjang, Yuma kembali menautkan sabuk pengaman dan kembali menyalakan mesin mobil.


Anran dan Luna yang baru saja menapak ke luar pintu toko keheranan, lambaian tangan dan suara ingin menyapa pun mereka urungkan, alhasil mereka berdua saling pandang dan saling menaik turunkan kedua pundak mereka tanda tak mengerti.


**


"Papa"


Teriak Xiao Lin dari arah luar rumah besar Chen. Suara itu begitu berbeda, suara yang mereka dengar adalah suara yang seakan sudah tersimpan dalam hati, begitu terdengar mereka akan sangat hafal.


Sorot mata orang-orang yang ada di sana beralih ke arah pintu. Dokter Arya pun yang tengah duduk di depan meja pun ikut ke luar dari kursi.


"Papa" Sepatu kecil dengan ketukan cepat menambah banyak pasang mata di sana penasaran.


Entah perasaan entah hanya pendengaran mereka yang salah, sekarang dalam suasana bahagia mereka merasa suara xiao Lin itu tabu.


"Nenek aku pulang"


"Lin jangan larii"


Liam pun berlari mengikuti langkah cepat kaki Xiao Lin.


"Pamaan aku datang"


Xiao Lin terus berlari dengan teriakan random nya. Shen, dia pun berlari ke arah ruang depan dengan cepat tanpa aba di saat yang lain nya terdiam saling pandang.


"Lin-lin ?!"


"Huffhhh, Shen tangkap bocah nakal itu"


Suara Liam sudah di ujung tenggorokan, nafas nya bergulum di dada.


"Hahaha Paman tangkap aku"


Tawa ceria, suara khas nya membuat Shen reflek membawa Xiao Lin ke dalam pangkuan nya.


"Lin " Panggil Papa Chen


" Kakek" Senyum manis si kecil memang membuat suasana semakin membara. " Paman turunkan aku, aku mau di gendong kakek" Berontak nya ingin turun.


Rumah yang sendu seketika berubah jadi riang dan bersuara. Liam duduk tegap, saling hunus pandang dengan Daniel.


"Heumm sepertinya kau sedang memikirkan cara bagaimana meminta maaf pada Yuma, bukan ?!". Wajah songong Liam terpancar, kedua alis pun serasa tengah merasa puas dengan mimik wajah Daniel.


Ya walaupun dia hanya menebak, tapi rasa celetukan nya tepat sasaran.


"Bagaimana bisa kau tahu ?" Dahi Daniel mengkerut.


"Nak Liam" Ucap Mama Ella.


Liam menoleh dengan sempurna. Nafas nya berhembus perlahan. " Heumm bagaimana lagi ? Toh itu memang kenyataan nya bukan, Bibi ? Tenang saja, perempuan itu memang keras kepala tapi cinta nya untuk Daniel masih ada"


"Marah nya hanya sebentar, hanya saja aku yang tidak rela jika dia kembali ke sini terutama kembali pada putra mu"


Pasang mata langsung tertuju padanya, otak mereka langsung berpikir dan berputar cepat, menduga-duga maksud dari Liam.


Mimik wajah Liam langsung melunak. "Tapi kakak nya ini bisa apa ?" Seru Liam.


Kata kakak yang ke luar dari mulut Liam seakan membuat debaran jantung mereka mereda terutama Daniel. Dia sudah sangat bersalah dan jika perkiraan dan dugaan dia benar maka rasa bersalah nya akan semakin besar, mungkin tidak hanya rasa bersalah, namun penyesalan nya pun akan sangat besar.


Tidak perlu Liam menjelaskan dengan rinci, mereka sudah dewasa, pastilah akan mengerti.


Ucapan Yuma tidak bisa di remehkan dan di anggap mengada-ada. Saat dia mengatakan akan pergi maka pergi, apalagi Daniel tidak percaya jika Lin adalah darah daging nya.


Tapi Tuhan punya rencana baik untuk semuanya.


...**...


Yuma pun sampai di kediaman Chen. Saat menuruni mobil, kedua matanya langsung tertuju pada mobil yang sangat dia kenal.


"Liam" Ucapnya di hati.


Langkah kaki nya semakin mendekat ke pintu masuk.


"Nona" Sapa pelayan di sana sembari membuka pintu.


"Yuma"


Badan tegap dan kekar tiba-tiba membawa tubuh Yuma ke dalam dekapan, pelukan yang sangat erat, terasa pula getaran dari jari jemari nya.


Yuma diam terpaku, kedua tangan terulur ke bawah, dia belum merespon pelukan itu. Ya, dia Daniel.


Yuma merasa basah di bagian pundak nya untuk itu kedua tangan yang seharusnya membalas pelukan tapi malah mendorong dada Daniel.


Pelukan itu terlepas. Kedua mata saling bertemu.


Yang satu hanyut dalam genangan air mata dan yang satu hanyut dalam keanehan.


"Ka—kau menangis ?!" Ucap Yuma merasa aneh dan memang hati nya penasaran pula.


...**...


"Liam"


Yuma menahan lengan Liam sehingga langkah laki-laki itu terhenti memasuki kamar hotel yang sudah dia sewa dari awal kedatangan nya ke China.


"Tidak apa, semua nya akan baik-baik saja Yuma" Liam menggenggam tangan Yuma dan mengelus pipinya.


"Aku takut" Matanya berembun, merasa takut kembali gagal tapi dia pun tidak ingin memulai dengan orang baru karena cinta nya masih ada untuk Daniel.


Liam tidak bisa lagi mengatakan apapun, trauma yang di alami Yuma sepertinya memang dalam seberapapun dan sedalam apapun dia menenangkan Yuma tapi sepertinya tidak akan cepat pulih.


Sedari kepulangan nya dari kediaman Chen, Yuma terdiam dan Liam hanya fokus menyetir. Daniel meminta nya untuk kembali bersama dan semua nya setuju termasuk Liam, hanya Yuma yang terdiam saat mereka silih bersahutan mengatakan setuju.


Entah apalagi yang di pikirkan Yuma tapi sepertinya bukan apa-apa, hanya ketakutan belaka.


...**...


Dua bulan kemudian,,


Kediaman Zhao sangat ramai, bukan karena pernikahan karena hal itu jauh dari dugaan. Para pelayan hilir mudik menata setiap piring berisikan makanan lezat.


Anak seusia Lin pun terlihat bermain begitu riang nya. Keluarga Chen pun berada bersama di sana.


Hari ini ada pesta kecil-kecilan, mereka merasa senang dengan kembali nya Yuma bersama dengan Daniel, bahkan mama dari Liam- nyonya Lee pun ikut bergabung.


Yuma mengundang anak-anak Yatim-Piatu untuk syukuran sekaligus merayakan hari ulang tahun Xiao Lin.


Tidak ada yang tidak bahagia saat ini, Jingyi pun berada di sana, tentu saja ada, di tambah dia calon dari Shen. Mereka semua sudah berpasang-pasangan, tinggal menunggu kartu undangan tersebar. Xian, Liam dan Shen tidak lagi menjomblo.


"Mama" Teriak Xiao Lin dengan senyum khas nya. Dia melambaikan tangan di tengah bercanda dengan teman-teman sebaya nya.


Yuma menoleh begitupun dengan Daniel. "Sayang terimakasih" Bisik Daniel dan memeluk Yuma dari samping.


"Tentu, tentu kau harus berterimakasih kepada ku" Ujar nya seakan menantang.


...**...


Di hari yang sama, kabar mengejutkan datang dari Yuwen, aktris sekaligus model yang tengah naik daun. Kabar di saluran televisi semua chanel penuh dengan wajah nya.


Setelah Yuma yang memegang kendali di dunia permodelan perusahaan itu, Yuwen merasa posisi nya semakin darurat untuk itu dia tidak sadar melakukan kesalahan besar.


Di tambah bisnis gelap nya bersama dengan mucikari di tingkat kakap semakin membuat nya terpojok. Berita itu semakin trending dan popularitas nya benar-benar anjlok.


...**...


***Tidak perlu menjatuhkan seseorang hanya karena ingin tinggi


Tidak perlu memadamkan cahaya hanya karena ingin terang


Tidak perlu melukai hanya karena ingin bahagia


Tidak perlu merendahkan hanya karena ingin terlihat hebat.


Semua nya dalam porsi masing-masing


Ingat ! Berlian akan tetap menjadi berlian, Permata akan tetap menjadi permata dan kerikil sekalipun, dia akan tetap menjadi kerikil.


*enjoy your life**