
...***...
Yuma dan juga Gary pun bergegas mengunjungi alamat yang di berikan oleh Liam dan saat ini mereka telah sampai.
Langit pun mulai menggelap kembali, begitu tak terasa.
Yuma berdiri di samping pintu mobil menunggu Gary ke luar.
"Ayo" Ucap Gary.
Mereka pun masuk ke dalam dan naik ke lantai tiga dari bangunan itu. Lift pun berhenti dan terbuka,
"Ini pintu nya," Ucap Gary memeriksa.
Dari sela pintu yang terkunci terlihat terang, itu memungkinkan jika pemilik apartemen ada di dalam.
ting...
nong..
ting..
nong..
Gary menekan bel berulang dan menjeda sejenak. Tatapan kakak beradik itu pun saling bertemu, seolah tengah berbicara.
tok..
tok.
tok..
Giliran Yuma, hanya saja dia mengetuk pintu, bukan menekan bel.
Klek..
Pintu terbuka, Yuma juga Gary mundur selangkah agar tak menghalangi.
Rambut di lipat ala korea, baju kaos putih big size, di padukan dengan celana pendek berkaret di pinggang, itulah Erina.
"Iya ?." Seru Erina menatap Yuma dan juga Gary bersamaan, namun kelopak mata itu seketika membulat penuh berhenti pada wajah Gary.
"Kau ?. Tunjuk Erina menekan, menatap kesal dan selidik. Beralih pada wajah Yuma dan itu sama saja, Erina pun menatap selidik pada Yuma.
" Selamat petang,"
" Benar dengan nona Erina Chen ?." Senyum Yuma ramah seakan tengah tak terjadi apapun, padahal baru saja dia menangis sesenggukan di hadapan kakak nya, tapi sekarang sudah kembali seperti Yuma yang tegar tanpa masalah.
Erina tentu terkejut, dia pun langsung awas dan berati-hati.
"Dengan siapa ya, kak?." Tanya Erina lugas. Bukan nya tidak sopan, tapi dia tengah menjaga diri, apalagi sekarang ada Gary membuat keberadaan pria itu semakin mencurigakan bagi Erina.
Walau dia tahu jika Gary adalah pria itu namun kedatangan nya membuat Erina was-was.
"Apa dia kekasih nya ? Atau istri nya ?." Batin Erina terus bergumam tanpa henti, tapi apa tujuan nya sekarang.
"Bisa kita bicara sebentar ?." Seru Yuma menyadarkan. Gary terus menatap Erina dengan lekat, tatapan nya melembut namun berbinar.
Sebagai lelaki, dia tak menyangka jika perempuan di hadapan nya ini telah tersakiti oleh kelakuan bejat nya.
"Bisa!,"
"Silahkan masuk." Ucap Erina dengan sopan.
Mereka pun duduk di sofa.
Erina hendak mengambil minum untuk mereka, namun lebih dulu di cegah oleh Gary.
"Duduk saja, tidak perlu repot ! Apa perintah dari dokter masih kau langgar, nona ? Kau harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah dan stres."
Ucapan Gary membuat Erina kembali duduk.
"Aku hanya mau mengambil air untuk kalian ! Jangan salah kan aku jika tidak sopan." Ketus nya kembali menoleh pada Yuma.
"Apa yang dikatakan dia benar nona, harus ekstra jaga kesehatan agar bayi dalam kandungan mu sehat." Ucap Yuma menimpali.
Erina terdiam, bukan terdiam sesaat tapi dia terdiam kaget kenapa wanita di hadapan nya itu tahu, seperti tahu lebih banyak dari sekedar mengandung saja.
"Erina"
Ucap Gary. Bulu kuduk Erina merinding, melihat ekspresi dari dua tamu yang tidak dikenali nya.
Erina membiarkan masuk karena mengenal pria di depan nya dan dia rasa tidak ada niatan jahat.
Duduk Erina mulai tidak nyaman, semakin mereka menatap semakin pula dirinya canggung. Mendapati dua orang asing, dia menduga jika perempuan di samping Gary adalah istri nya untuk itu dia tidak terlalu berharap.
"Uh ?." Sahut nya reflek.
"Dia sedang ke luar ! Mungkin sebentar lagi akan sampai." Ucap nya bohong. Erina tidak sadar tengah membohongi siapa. Kakak ipar dan juga ayah dari bayi yang tengah dia kandung.
Tidak datang ke resepsi pernikahan membuat Erina tidak mengenali wajah kakak ipar nya sendiri, padahal dia memiliki poto pengantin nya.
"Benarkah ?." Seru Gary.
Erina mendelik, dia merasa sahutan Gary sangat tidak sopan untuk nya.
Sebelah bibir Erina menyungging, dia sangat tidak suka jika ada yang ikut campur terlebih dia orang asing.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya, silahkan kalian ke luar dari rumah saya,"
"Dan kau harus tahu, perkataan anda tadi sangat kurang sopan."
Usir Erina pada Gary, dia berdiri dengan kasar.
"Kau tidak memiliki suami kan ? Kau tak perlu untuk berusaha tegar di depan kami, semua nya kami sudah tahu !." Timpal Yuma. Erina menatap Yuma semakin tajam.
"Apa maksud mu ?." Erina sedikit kasar namun masih terkesan Sopan
"Maafkan saya." Suara Gary pun terlibat, Erina duduk kasar, menjatuhkan tubuh nya begitu saja.
"Ka.... u?!." Gagap Erina.
Air mata Erina kemudian ke luar dalam diam, menatap lekat wajah Gary dan Yuma bergantian.
Yuma mendekat, duduk di samping Erina. "Bagaimana kabar mu ?." Yuma memeluk Erina dari samping, membelai kepala nya begitu lembut. Senyum getir namun ulasan senyum sangat tulus.
Gary mengepalkan tangan nya, menatap adik yang sangat dia cintai dan juga menatap wanita yang dia cari selama ini.
Erina menangis, dia membalas pelukan Yuma. Jantungnya terpompa sangat cepat, jari jemari bergetar takut.
"Maaf hiks... hiks.. hiks.. maaf saya bersalah ! Itu benar-benar kecelakaan, saya tidak bermaksud mengganggu suami mu,"
Pikiran Erina benar-benar kacau, dia bersalah dalam hal ini, dia secara tidak langsung merebut pria yang sudah beristri. Itulah yang kini mengganjal di benak nya, dia tidak tahu jika Gary sudah beristri, dia sangat tidak tahu.
Baik Yuma maupun Gary saling pandang, mereka mencoba mencerna apa yang tengah di katakan oleh Erina.
Perlahan kedua kelopak mata mereka membulat penuh, bersamaan dengan itu pun mata mereka menajam.
Yuma melepaskan pelukan nya dan sedikit menjauhkan wajah Erina agar terlihat lebih jelas.
"Apa maksud perkataan mu ini ? Apa sekarang kau sedang merasa bersalah ?." Ucap Yuma. Erina sedikit menunduk namun Yuma masih dapat menyeka air mata yang masih menetes dari mata Erina.
Buliran air mata masih menggenang di pelupuk, Erina memberanikan diri menatap Yuma.
Ulasan senyum dia dapatkan, Yuma tersenyum hangat dan itu membuat kening Erina sedikit mengkerut.
"Yuma, saya Yuma istri dari Daniel Chen." Ucap Yuma menyadarkan tatapan Erina yang terlihat bingung.
"A,,, pa ?" Isak tangis kembali terdengar, Erina berhamburan memeluk Yuma.
"Apa kabar mu, Erina ?,"
"Ternyata kamu sangat cantik jika di lihat asli nya,"
Ucapan Yuma membuat Erina semakin mengeratkan pelukan nya. Yuma menepuk-nepuk punggung Erina menenangkan.
"Hiks,,, hikss maaf kak, aku tidak mengenali wajah mu" Seru Erina begitu lucu karena air mata nya masih mengalir namun wajah nampak bodoh.
"Tidak apa, kakak mengerti ! Sudah jangan menangis, kakak ada di sini bersamamu." Yuma kembali menyeka air mata Erina sampai kering.
Gary masih menatap mereka sampai tersadarkan oleh Yuma yang berdehem.
Ekhemm....
"Kak" Seru Yuma mengetuk berulang meja kaca di depan nya. Erina pun ikut menoleh.
Dia kembali menduga, berarti pria di hadapan nya ini mengantar kakak ipar nya, tapi kenapa bisa kebetulan seperti ini ? Pikir nya mungkin seperti itu.
"Dia ?." Ujar Erina bermaksud bertanya pada Yuma.
"Dia saudara kakak ! Kakak sepupu lebih tepat nya." Sahut Yuma. Gary pun mengulas senyum nya sejenak.
"Apa ?." Kaget Erina tak kepalang.
"Kenapa kaget ? Apa sekarang kau sedang berpikir dunia ini begitu sempit, eum ?"
"Tidak juga" Sahut nya dengan senyuman canggung.