Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 52


Tak dapat di harapkan, malam di bulan itu seakan sangat pendek dan pagi telah menjemput kembali saat ini.


"Kak semoga hari mu menyenangkan." Luna dan juga Anran begitu senang saat Yuma memutuskan kedua pegawai nya untuk bekerja setengah hari, kemudian dirinya tentu saja pergi ke butik yang sudah di beritahukan oleh mama Ella.


Di samping keelokan langkah dan juga senyum terlukis tulus dari Yuma, tidak di tempat lain, Handphone Daniel terus berbunyi, jam menunjukkan pukul sembilan pagi namun Daniel masih memejamkan mata nya


Xena, dia sudah terbangun lebih awal dan sudah membersihkan dirinya, kini masih mengenakan kimono membalut tubuh nya dengan rambut basah dibiarkan di lilit dengan handuk.


"Daniel." Guncang Xena pada wajah nya dengan lembut sesekali melihat layar handphone memeriksa siapa yang menghubungi nya di pagi hari.


'Adik idiot' Kira nya itu yang tercantum di sana.


Daniel tang tidur tengkurap segera bangun dan meraih handphone nya.


"Eum?."


"Tidak pulang ? Rumah mana yang lagi yang sekarang membuat kakak ku ini lupa jika masih memiliki rumah sendiri ?." Bawaan dari cara bicara Shen sangat penuh dengan sindiran.


"Aku akan langsung ke kantor ! Semalam banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Jangan lupa kabar terbaru dari perusahaannya, aku ingin kabar baik dari mu, Shen !."


Daniel mengabaikan Xena, dia berdiri dan pergi ke kamar kecil namun tertahan di ambang pintu.


"Kau sudah menyiapkan baju yang sudah saya perintahkan ?." Dengan lirikan dari ujung mata nya tak memerlukan lagi untuk seorang Daniel berbalik penuh ke arah lawan nya.


Xena terpaku, dia seakan terlibat perang dengan hati juga jantung nya akibat dari perubahan total dari Daniel. Frekuensi perubahan sikap Daniel sangat tipis sehingga di detik 0,5 bisa terjadi pergantian.


"Setidak nya kau tidak lupa pada ku, Daniel! ." Ucap Xena percaya diri kala tak lagi melihat punggung Daniel yang tertelan oleh pintu kamar mandi.


...**...


Yuma, dia sudah sampai di area butik yang juga berada di tengah pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota China.


"Yuma." Mama Ella melambaikan tangan mengkode keberadaan posisi nya saat ini.


Yuma berlari kecil dengan senyum merekah nya sampai udara yang ada di sana mungkin akan tersipu malu.


"Maaf ya, Daniel sepertinya memang sedang sibuk ! Sshh dia benar-benar tidak dapat di andalkan sama sekali, " Ucap maka Ella merasa tidak enak dengan sikap Daniel.


"Tidak apa ma, tidak perlu di ambil pusing ! Dia memang orang sibuk dan aku mengerti." Ucap Yuma penuh dengan tingkat kepedulian yang begitu tinggi terhadap calon suami nya itu.


"Aaaa kau memang menantu idaman hahaha ! Ayo kita masuk." Mama Ella langsung merangkul Yuma mengajak nya masuk.


"Ada apa ?" Mama Ella menoleh pada Yuma dan menghentikan dahulu perbincangan dengan teman desainernya itu.


"Daniel akan menjemput ku sebagai permohonan maaf ! Lihatlah ma, kau terlalu picik jika menganggap Daniel acuh pada ku, hahaha."


"Itu bagus, dia memang harus menjemput mu ! Awas saja, nanti saat bertemu mama jewer telinga nya sampai dia sadar ! Terus saja pekerjaan yang di urus." Kecak pinggang, itulah yang kini di lakukan oleh mama Ella saking kesal nya pada Yuma.


"Aey, mama ada-ada saja ! Baiklah, terserah mama saja apa yang akan di lakukan pada Daniel, aku tidak akan ikut campur." Seru Yuma.


" Memang harus seperti itu hahaha."


Mama Ella serta Yuma pun kembali sibuk fitting gaun sampai harus mengulang kembali melihat model-model dari gaun sebelum nya.


...**...


"Ini untuk rapat hari ini ! sebentar lagi kolega dari Irlandia akan sampai di perusahaan." Shen melapor dengan sangat hati-hati karena kolega eksternal ini begitu mendadak ingin mendiskusikan sesuatu. Investasi yang mereka tanamkan di Chen group pun bukan berjumlah kecil, untuk itu sepertinya ada hal yang mengganggu mereka sampai-sampai dari sekian tahun ingin berkunjung langsung.


Bukan melalui asisten atau sekretaris nya lagi sekarang, namun presdir nya langsung yang akan berhadapan dengan Daniel.


"Ini berita mendadak, kau seharusnya memberitahu ku lebih awal, Shen !." Daniel menjadi kesal, namun dia nampak berpikir sejenak.


"Jamu mereka dengan baik." Ucap Daniel. Shen pun pamit undur diri. "Dan apa papa sudah tahu kedatangan kolega nya itu ?."


"Sudah ! Papa sedang dalam perjalanan


Daniel merogoh handphone nya untuk menghubungi Yuma.


"Halo sayang." Sapa Daniel.


"Aku sudah mau selesai, kau sudah sampai mana sekarang ?." Ucap Yuma di seberang sana.


"Yuma pulang bareng mama saja ya, tidak apa bukan ?! Aku ada pertemuan mendadak sebentar lagi dengan kolega ku dan ini tidak dapat di wakilkan, maaf !." Tutur Daniel benar-benar merasa bersalah dari nada suara nya.


"Tak masalah, kau selesaikan saja pekerjaan mu, jangan khawatirkan aku ! Oh iya, aku buatkan makan untuk siang ya, sekalian buat Shen juga." Ucap nya menawarkan, Yuma harap respon Daniel akan baik.


"Baiklah aku tunggu ! Aku tutup telpon nya, sampai bertemu nanti siang."


Sambungan pun terputus dan Yuma sama sekali tak merasa kesal saat ini, dia terasa memang seperti bukan gadis manja pada umum nya.


"Berhati-hatilah, jangan terlalu lelah juga." Ucap mama Ella mengusap pundak Yuma berulang.


Mereka pun berpisah dengan Yuma berjalan ke arah berlawanan dengan sesekali mengedarkan pandangan nya.


Yuma pergi ke market yang menjual banyak sayuran segar, tidak hanya sayuran namun di sana pun banyak juga bahan-bahan masakan lain nya.


"Wah ada siapa ini ?."


Yuma menoleh ke samping kanan nya dan tepat di sana ada mama dari Axel dan juga kepala pelayan yang tengah mendorong troli belanja.


"Bibi." Sapa Yuma memberi salam dengan sopan.


"Yuma apa kabar mu, nak?." Dia pun memeluk Yuma dengan rasa rindu terpancar dari wajah nya.


"Kabat baik, bibi ! Bagaimana kabar kalian, Yuma harap semuanya sehat-sehat." Ucap Yuma.


"Semua nya baik, sayang ! Oh iya kenapa sekarang Yuma tidak pernah mengunjungi paman dan bibi ? Apa kau sudah melupakan kami ? Ssshh kenapa kau begitu jahat sekarang ini, pada kami ?!." Nyonya Yu begitu sendu dan prihatin, sepertinya dia memang sedang tidak berdrama.


"Sama sekali tidak bi, mana bisa Yuma melupakan paman dan bibi ! Aku memang bermasalah dengan Axel, tapi itu dulu dan aku sama sekali tidak melupakan kalian apalagi marah pada kalian. Sungguh ! Kau harus percaya pada ku." Tutur Yuma dengan kerutan di kening nya.


"Ssshhh rasanya kau memang tak ada duanya, Yuma."


Ya, dia adalah Nyonya Yu, ibu kandung dari Axel Yu.


"Senang bisa bertemu kembali dengan bibi ! Jika begitu saya pamit ke kasir." Ucap Yuma tanpa ingin lagi terlibat perbincangan panjang.


"Nona Yuma masih seperti dulu ya Nyonya ! Masih gadis lembut dan sopan, lagi !." Ucap kepala pelayan.


...***...


Perusahaan Chen Group tengah di hebohkan dengan berita kedatangan presdir dari perusahaan yang masih berada di posisi teratas sampai saat ini. Sedangkan Chen grup sendiri dia, pun sama hal nya dengan bisnis muda yang lain. Pepatah mengatakan jika di atas langit masih ada langit, begitupun dengan Chen, diatasnya masih ada seseorang yang jauh lebih hebat dalam urusan bisnis.


"Selamat datang, tuan !." Sambut Shen dengan beberapa staf kepala di depan pintu masuk perusahaan.


Mata elang itu mengintimidasi semua yang berdiri di sana termasuk perusahaan yang menjulang tinggi, dia merasa beda dengan gambar perusahaan pusat Chen Group awal nya.


Tak bertanya, dia diam seperti biasa nya.


"Mari" Ucap Shen dengan sopan, dia pun segan dengan Edward, ya dia adalah Edward kolega dari papa Chen. Sebetulnya Ruby pun ikut ke China, namun dia memilih untuk mengunjungi rumah kakek Han dan membiarkan Edward pergi bersama dengan asisten nya.


Levon, Laoda, Wufan dan juga Jingyi, mereka berjajar menatap orang barat memasuki perusahaan nya untuk pertama kali nya dalam sejarah pekerjaan mereka lima tahun terakhir ini.


"Karisma nya di tarik semua." Kagum Wufan begitupun dengan Lao Da.


"Daddy sugar nya aku !." Ucapan Jingyi mulai melantur kesana-kemari seakan mendadak buta.


Edward dan juga Shen serta asisten pribadi Edward tiba di depan pintu yang bertuliskan kantor CEO, Daniel Chen.


"Selamat datang tuan," Daniel pun menyapa dengan hormat dan sopan.


Edward menjabat tangan Daniel. "Terimakasih." Sahut Edward.


Shen menarik Daniel agar sedikit menjauh dari Edward yang begitu irit bicara.


"Tidak kah dia sangat menyeramkan, Daniel ? Dia tidak bicara dan tidak senyum, apa benar dia raja bisnis dari Irlandia itu ? Aku rasa berita itu keliru." Bisik Shen berkata tak kepalang.


"Orang juga mengatakan hal yang sama, persis seperti yang anda katakan barusan."


Suara Edward benar-benar menusuk langsung ke dalam jantung nya, tombak itu sedikit lagi melubangi jantung milik Shen.


Ekspresi Asisten Edward memerah, bukan karena hendak marah namun karena ingin tertawa akibat cemooh polos dari Shen. Dia berpikir, apa kedua anak muda di depan nya itu tidak tahu jika pendengaran tuan nya sangat tajam ?.


Shen dan juga Daniel menoleh bahkan dengan tampang bodoh, namun beruntungnya Daniel bisa merubah ekspresi nya dengan begitu singkat.


"Hehehe." Shen malah nyengir bodoh.


"Edward." Papa Chen pun tiba dengan jas membalut tubuh nya.


"Chen."


Mereka pun memberi pelukan singkat satu sama lain. " Apa kabar mu ? Mana Ruby, dia tidak ikut kah ? Ssshh tidak biasanya kau berkeliaran sendiri hahaha." Goda papa Chen.


"Dia ada urusan." Sahut Edward.


Shen yang masih kaget dengan pendengaran tajam Edward, di tambah suara mahal Edward akhirnya ke luar.