
Seperti biasa, keseharian Yuma mengelola tokonya dengan sangat semangat tanpa mengeluh sedikit pun.
"Anran sini," Luna mengkode, suaranya begitu membisik. Anran yang tengah berada di depan kasir melangkah cepat karena Luna masih mengkode agar mendekatinya.
"Apa?" Anran pun dengan peka nya merendahkan pita suara nya.
"Ada momen baik apa sampai kak Yuma terus tetsenyun dan bersenandung seperti itu ?." Anran mengerenyitkan kening nya.
Memang benar adanya, di dapur yang tak jauh dari tempat kasir, Yuma bersenandung. Luna dan Anran heran, bukan nya apa namun ini adalah kali pertama selama mereka bekerja di sana.
"Sepertinya akan ada berita besar" Siapa yang tidak akan bahagia melihat Yuma bahagia, kecuali musuh nya mungkin.
Yuma tak menggubris Luna juga Anran yang tengah mengintip, dia terlihat melanjutkan aktifitas nya dengan penuh kegembiraan
"Pasti ada berita besar, ini !" Tebak Anran, di kepala kedua pelayan toko itu terus menduga-duga akan tingkah aneh bos nya, sampai di mana suara seseorang meretakkan praduga-praduga yang akan terjadi dalam otak dan bayangan Luma juga Anran.
"Maaf, bisa kalian panggil kan Yuma ?," Daniel berdiri dengan memiringkan pandangan nya secara utuh agar pandangan nya lurus dengan mata Luna juga Anran yang lebih pendek dari nya.
"Uh ? Oh sebentar." Luna yang tersadar langsung menuju ke tempat di mana Yuma berada.
Yuma terlihat tengah melepas celemek nya setelah membersihkan tangan nya dan saat itu pula Luna sampai di hadapan Yuma.
" Ada kak Daniel di depan" Intonasi dari ucapan Luna seakan seperti anggota prajurit tengah melapor pada atasan nya.
" Daniel." Yuma nampak tengah berpikir, namun sebenarnya tidak karena ekspresi alami dari Yuma memeng seperti itu.
Luna mengangguk berulang di sertai dengan senyum centil sesekali wajah nya menoleh ke samping di mana pintu dibiarkan terbuka.
"Kak boleh ya aku minta di photo bersama kak Daniel, please !." Luna cengir kuda, kedua telapak tangan nya dia katup kan memohon agar Yuma membantu nya dan mengizinkan.
'Tuk...
"Aw sakit," Luna mengusap-usap kepala nya akibat jitakan dari tangan Yuma. " Iya aku nurut, ko!." Ketus nya masih menunduk sembari mengusap kepalanya sendiri.
" Hahaha." Yuma hanya bisa tertawa puas saat bawahan nya merajuk dan memilih mencari keberadaan Daniel sesekali mengecek jam di tangan nya.
"Hai tampan." Goda Yuma saat mendapati Daniel tengah sibuk dengan handphone nya. Perhatian Daniel tentu terundang.
Cahaya matahari yang berwarna silver itu seakan berkilapan saat secara langsung menyoroti wajah tampan milik Daniel.
"Ayo kita makan siang," Daniel kembali berdiri dan dengan agresif menggandeng Yuma dari samping. Yuma tentu tidak menolak, dia ingin merobek rasa trauma nya dan belajar kembali dari nol.
Yuma membalas pelukan Daniel dan ikut merangkul pinggang Daniel.
"Kita akan makan siang di mana ?," Tanya nya saat sabuk pengaman hendak di pakaikan.
"Kita makan masakan tradisional China di restauran A." Balas Daniel dengan tangan kiri terus menggenggam tangan Yuma, sesekali mengecup.
Pasangan yang sangat serasi terlihat, namun tidak ada yang tahu banyak jika di belakang pasangan harmonis itu ada salah satu dari mereka yang berniat balas dendam di atas cinta suci yang terikat.
Setibanya di restauran yang di maksud, mereka pun masuk dengan sudah reservasi terlebih dahulu agar tempat nya di kosongkan.
Yuma terlihat begitu bahagia saat ini tak elat kedua sudut bibir nya terus melengkung, membentuk senyuman yang seperti dewi yang baru saja turun.
Tawa kecil pun terdengar mengesankan. Daniel memperhatikan Yuma dengan mata elang nya, tanpa ekspresi atau semacamnya. Yang di lakukan Daniel hanyalah mengepalkan tangan nya begitu erat.
Bayangan seorang gadis yang tertawa dan bayangan seorang pria yang tengah mengepalkan tangan nya, membuat sepasang mata milik pria yang sama tampan nya dengan Daniel menautkan alis dan mengerutkan kening nya.
"Yuma."
Ya, dia adalah Axel Yu, mantan kekasih dari Yuma yang kini tengah berdiri di antara Daniel dan juga Yuma.
"Kau ?." Jantung Yuma, dia kini mulai tidak baik-baik dengan jantung nya, cairan dalam ditubuh Yuma tak lagi mumpuni untuk sekedar mengalir. Jika seperti ini bisa dikatakan jika darah nya begitu enggan untuk mengalir, alhasil di meja makan yang di tempati hening seketika.
"Apa kabar ?." Axel mengulurkan tangan nya tanpa mengindahkan Daniel yang tengah menatap tajam.
Dengan senyum dan juga tanpa memperlihat masalalu pahit di kening nya, Yuma membalas uluran tangan nya meraih tangan Axel.
"Baik ! Seperti yang kau lihat," Ucap Yuma sedikit demi sedikit mendekati Daniel.
" Perkenalkan, ini calon suami saya." Dengan polos nya Yuma memperkenalkan Daniel agar Axel tidak macam-macam.
Suasana restauran menjadi semakin mencekam, dua pandangan berbeda saling melempar lirikan tajam.
" Daniel, Daniel Chen!." Tegas Daniel dengan tangan kiri tengah merangkul posesif tubuh calon istri nya.
" Sepertinya aku harus segera pergi, iya kan sayang ?!." Ucap nya pada Daniel namun matanya melirik pada Axel.
Axel tentu tak dapat berkutik, dia hanya bisa diam kala Yuma dan juga Daniel tak lagi ada di depan nya. " Maafkan aku." Sendu nya dengan bola mata banyak penyesalan