Cinta Yuma

Cinta Yuma
EPS 9


" Sepertinya kau sedang sakit, wajahmu sangat pucat ! pulanglah dan istirahat ". Ucap Yuma terdengar mengusirnya secara halus.


" Tidak, kaka tidak akan pergi sebelum kau ikut bersamaku ". Tolak nya.


Walau bagaimana pun, dia harus membawanya ke rumah sakit. Sifat kaka sepupu Yuma tidak ingin terkalahkan satu sama lain, ego mereka yang terlalu besar itu membuat mereka saling terpecah.


" Terserah, lakukan apapun yang kau mau ! Lagipula ada apa kakek ingin bertemu dengan ku, bukan kah aku tak sepenting itu ?!". Seruan Yuma membuat Xian mengunci pandangan nya.


" Entahlah aku tidak tahu ! ". Seru nya.


Yuma mengganti bajunya terlebih dahulu dan membiarkan kakak sepupunya sendirian. Xian beranjak dari duduk nya, melihat-lihat photo yang terpajang rapih di etalase. Setiap photo tak ada yang istimewa, hanya ada photo Yuma yang terpajang di sana.


Senyum ringan Yuma terus terulas dari bibir. Xian melembutkan pandangan nya saat menyaksikan bagaimana Yuma tersenyum manis di dalam photo.


Tidak ada sekalipun senyum seperti ini yang terulas dari bibir Yuma selama dia mengenal nya dan saat ini pun juga sama.


...**...


Sedangkan di rumah keluarga besar Chen, mereka sedang berkumpul bersantai dengan kesibukan mereka masing-masing.


" Ma kau tahu, Sepertinya ada wanita yang begitu cocok untuk putra dingin mu ini ". Ucap Shen yang terduduk di atas lantai dengan kaki nyonya Ella menghimpit tubuh nya. Ella terus mengelus kepala Shen seperti anak kecil.


Daniel menoleh tajam dengan perkataan Shen. " Yak jangan coba-coba menjodoh-jodohkan ". Tajam Daniel melempar Shen dengan kacang yang telah di kupas.


" Aku serius dengan perkataan ku Ma, pa ! ". Serius Shen dengan perkataan nya sesaat setelah bayangan wajah Yuma melintas di pikiran. Ella dan juga Chen pun ikut antusias dengan kebenaran yang ingin mereka ketahui.


" Katakan siapa gadis itu, cepatlah ?! ". Antusias Chen sesekali melirik Daniel.


" Aku juga belum tahu lebih detail mengenai dirinya, tapi dia bekerja di perusahaan kita ". Ucap Shen bercerita seperti anak kecil.


" Diam kau atau ku potong gaji mu ". Ancam Daniel. Ella dan juga Chen menatap Daniel tajam.


" Daniel jangan terus menggertak adik mu dengan ancaman bodoh seperti itu ". Bela Chen, Shen hanya tersenyum mengejek kepada Daniel.


" Adik ? Sejak kapan aku memiliki adik tengil seperti dirinya ?! ". Ujar Daniel terdengar meledek.


" Kau benar, aku memang bukan adik mu, tuan Daniel ! ". Cebik Shen melipat kedua tangan nya pura-pura marah seperti anak kecil.


" Yak yak yak, ingat umur ". Lempar Daniel menggunakan bantal sofa.


" Dasar maniak gila ". Ledek Shen segera bersembunyi di belakang mama Ella.


"Sudah sudah sudah, kepala papa pusing melihat kalian terus saja beradu mulut ". Lerai papa Chen sembari memijat dahi nya.


" Pa kau baik-baik saja ?! ". Ribut Shen segera mendekati Chen.


" Dia hanya berpura-pura Shen, biarlah! ". Satu alis Daniel terangkat sembari tatapan nya lurus pada papa Chen.


" Anak macam apa kau ini Daniel ?! ". Pukul Shen pada lengan Daniel seperti perempuan yang tengah marah.


" Dih gaya macam apa mukul seperti itu ?! ". Ledek Daniel.


" Erina saja tak pernah memukul dengan cara seperti ini ! ". Tawa Daniel, Ella dan juga Chen pun ikut tertawa.


" Jangan tertawa ! arrggh kalian menyebalkan ". Protes Shen berlalu pergi.


" Anak nakal ". Geleng Chen dan juga Ella dengan tingkah Shen dan juga Daniel.


Daniel pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih tertawa dengan tingkah Shen yang selalu ada-ada saja.


...**...


Xian terus melihat beberapa photo yang terpajang sampai dimana matanya menangkap dua photo yang dia kenal. Ya, salah satunya adalah photo dirinya dan juga Yuma


"Pulanglah sana, kau sangat menggangguku ". Usir Yuma dengan malas.


" Kakak tahu kau marah, kau bisa melampiaskan nya kepadaku ! jangan seperti ini kaka mohon -! ". Xian tiba-tiba memeluk Yuma erat.


" Lepas, lepas aku bilang, lepas !". Teriak Yuma meronta memukul Xian yang akhirnya terlepas.


" Kenapa kau tiba-tiba seperti ini hah ? lebih baik bersikaplah seolah kita tidak saling kenal seperti biasanya ". Ucap Yuma pedih, matanya mulai memanas menahan tangis.


" Yuma maaf !". Sendu Xian, namun Yuma tidak mengindahkan seruan nya


"Pergilah ! kepalaku pusing, aku butuh istirahat ! jangan khawatir, di antara kalian tak perlu ada yang harus meminta maaf kepadaku, karena kalian tidaklah bersalah ! ".


Tutur Yuma sekilas memijat kening nya. Xian mendekati Yuma dan melekatkan punggung telapak tangan nya pada kening Yuma.


"Kening mu panas Yuma, apa kau sakit eum ?!". Panik Xian saat merasa tubuh Yuma semakin panas.


Yuma melangkah mundur menghindari Xian.


" Pergilah, kau pun butuh istirahat bukan ?!". Ujar Yuma.


" Pulanglah dan jangan menginjakkan kaki mu lagi di apartemen ku, kita sudah tak saling kenal dari awal ". Nafas Yuma menderu menahan emosi yang masih dia pendam selama ini.


" Yuma ". Tahan Xian begitu lembut.


" Pulanglah ".


Xian perlahan menjauh dari hadapan Yuma karena dia pun tidak mau membuat Yuma semakin sakit.


...**...


Di depan pintu apartemen Yuma, ternyata Gary kakak sepupu Yuma yang lain pun tengah menunggu di luar.


" Bagaimana ? apa dia mau ikut ?". Ucap Gary saat pintu terbuka dengan tubuh Xian berada di ambang pintu.


" Tidak, dia menolak untuk ikut ". Sahut Xian sembari menghela nafas kasar.


Gary memutuskan untuk masuk, mencoba ikut membujuk Yuma. Dorongan dalam dirinya datang tiba-tiba, rasa khawatir nya pun menjalar setiap hari namun kedua kakak sepupu itu tidak kentara dalam menunjukkan perasaan itu.


Xian masih terdiam di luar menunggu hasil dari Gary, dia kembali menghela nafas sembari mengingat masa-masa lalu atas apa yang dia lakukan kepada adik perempuan nya.


...**...


Gary dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana mengedarkan pandangan nya pada sekitar ruangan.


"Kau hidup dengan baik Yuma". Gary mengulas senyum dari bibirnya, matanya terus memperhatikan setiap barang yang ada di sana termasuk photo-photo yang terpajang.


"Bukan kah sudah aku bilang jangan injak kan kaki mu lagi di rumah ku ?!". Geram Yuma melihat kembali seorang pria yang berdiri memunggunginya.


Pandangan Yuma perlahan mengabur dengan tangan menumpu erat ke atas meja kecil yang biasa dia gunakan untuk alas makan nya.


Gary membalik kan tubuh nya kemudian menatap Yuma lekat.


"Sedang apa di sini ? apa dengan tujuan yang sama ? jika iya maka sekarang kau boleh pergi !". Usir Yuma tidak tanggung-tanggung, matanya masih mengenali siapa yang berada di depan nya saat ini.


" Kau mengusirku ?!". Nyalang Gary yang tidak terima jika Yuma berkata seperti itu karena terdengar sangat tidak sopan.


"Jika kau merasa seperti itu maka jawaban nya adalah iya ! Pergilah ". Ucap Yuma menghindari tatapan kaka sepupunya dan melangkahkan kaki nya ke dalam dapur hendak mengambil minum yang tertinggal.


"Tidak sopan ! di mana sopan santun mu itu Yuma ! Apa orang tuamu tidak mengajarkan bagaimana berprilaku yang baik hah ?!". Ujar Gary keras namun dengan nada suara rendah.