Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 85


...**...


Xian dan juga Gary, mereka telah sampai di depan perusahaan paman Zhao-anak perusahaan dari Zhao Grup.


"Gar" Xian melangkah dari arah ruangan lobi tempat tunggu. Gary menghentikan langkah nya, memasukkan kedua tangan nya.


Lalu lalang staf dan beberapa cleaning servis juga sepertinya tengah ada kunjungan dari mahasiswa dan juga beberapa klien dari perusahaan lain, untuk itu perusahaan nampak ramai tidak seperti biasa nya.


Para Staf pun terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka dan juga terlihat resepsionis tengah berbincang dengan beberapa anak muda berpakaian layaknya mahasiswa.


"Paman Wei berada di ruang kerja nya ! Kita langsung ke sana saja" Ucap Xian.


Kedua saudara sepupu itu berjalan beriringan dan pasti mengundang perhatian walau tidak seheboh biasa nya.


"Halo tuan Luo, anda apa kabar ?." Di saat hendak masuk lift, tidak sengaja Xian berpapasan dengan tuan Luo-Mangaer hotel yang beberapa tahun lalu berdiri dan bekerjasama dengan Zhao Grup.


Gary pun ikut bersalaman. "Tuan" Sapa Gary.


"Kabar baik selalu ! Ssshh sudah lama tidak jumpa, bagaimana jika malam ini kita makan bersama ? Bagaimana ?." Ucap tuan Luo dengan senang dan tawa menyertai.


"Hahaha mungkin lain waktu saja ! Jika begitu kami permisi" Xian tidak ingin berlama-lama menghadapi rubah tua di depan nya ini, bahkan Gary, dia tidak berbicara sama sekali karena ya itu, penjilat ludah pasti akan tetap menjadi penjilat.


Xian dan Gary pun masuk ke dalam lift, mengangkat tangan di depan dada mengkode pamit pada tuan Luo dan setelah itu pintu lift pun tertutup rapat.


"Tch tch tch anak muda sekarang terlalu impulsif" Ujar nya lalu pergi diikuti oleh asisten nya.


...**...


Tanpa memberitahu ataupun meminta bantuan, Yuma turun ke lantai dasar hotel setelah memesan taksi dan kini taksi itu tengah menunggu di depan.


Brughh


Yuma pun masuk, menutup pintu mobil dengan sopan. "Pak jalan" Ucap Yuma, menyandarkan punggung nya menyamankan duduk sesekali melihat ke arah luar di mana masih terlihat bangunan-bangunan kokoh yang mengelilingi hotel.


Menuju sebuah pusat perbelanjaan, ada banyak makanan yang di jual, tidak hanya itu makanan-makanan cepat saji dan juga pedagang kaki lima, bahkan toko kecil seperti restauran pun ada di sana.


"Pak berhenti di sini" Pinta Yuma, memberikan ongkos dan berbalik mengedarkan tatapan nya. Bola mata memutar dari satu sudut ke sudut lain entah mencari apa dia di sana.


Suara batang besi berukuran kecil dan tipis yang tergantung du ambang pintu kedai berbunyi kala pintu di buka ataupun di tutup.


Klrentiiiiingg....


Yuma masuk ke sana, di mana tempat kasir dan juga pintu masuk berhadapan, tegak lurus sampai tatapan mata pun dapat menjangkau nya.


"Mau pesan apa kak ?." Ucap kasir itu dengan ramah dan sopan.


Di samping kasir terdapat etalase di mana tersedia berbagai rasa kue dan juga bentuk, dari yang terkecil sampai terbesar. Di sana juga ternyata jual beberapa kue yang sudah di masukkan ke dalam dus panjang dan juga kotak.


Kue krim diselimut tipis dan benyak lagi berbagai kue yang baru Yuma lihat.


"Kak saya pesan kue yang ini dan yang itu ya dan antar kan ke meja pojok di sana !,"


"Baik kak ! Untuk minum nya, boleh di lihat di list" Ucap kasir mencatat dan menunjuk list minum di atas kepala nya karena sudah tertera jelas di baligo.


"Alpukat susu coklat saja" Ucap Yuma. Kasir pun memberikan catatan nya pada teman di belakang nya dan Yuma pum duduk di meja pojok.


"Silahkan kak" Datang satu pelayan perempuan dengan celemek membaluti pinggang nya. Yuma menarik piring tatakan kue itu dan mengucap terimakasih.


Suapan pertama, lidah Yuma tengah mengecap, mencari komposisi apa yang kurang dari olahan kue itu sampai suapan terakhir masih belum menemukan.


"Lembut, manis namun sedikit keras di lidah, rasa pun sedikit pekat sehingga saat masuk ke dalam tenggorokan terasa pahit" Tutur Yuma di dalam batin nya sesekali menyeruput minuman nya dengan mengamati sisa kue yang baru saja dia makan.


Larut dalam penilaian sendiri sampai dirinya hampir lupa dengan masalah rumah tangga nya, cita rasa kue itu membuat sang Yuma-bos dari toko kue terkenal di ibukota China sangat penasaran dan ingin bertemu dengan pemilik toko atau pun koki nya.


Namun tidak dapat di pungkiri, setidak nya kesibukan itu perlahan dapat memulihkan rasa sakit di hati nya. Walaupun hanya sejenak, namun wanita itu terlihat tidak membiarkan rasa itu mengambil alih jiwa nya.


"Maaf kak saya mau tanya" Ucap Yuma kini sudah berdiri lagi di depan kasir.


Kasir itu menoleh dan merespon dengan mendekat pada Yuma. "Mau pesan apa lagi kak ? Biar saya bungkus !." Ucap Kasir itu.


"Oh bukan bukan, saya hanya ada perlu sebentar" Tutur Yuma dengan gerakan tangan nya. Kasir itu diam sejenak.


"Bisa bicara sebentar ?." Lanjut Yuma bertanya. Salah satu rekan kerja kasir itu pun ikut mendekat.


"Ada apa ?." Tanya dengan hanya gerakan bibir namun kasir itu mengerti dan reflek mengangkat kedua bahu nya.


Yuma masih memperhatikan.


"Begini, apa saya bisa bertemu dengan pemilik toko ini ? Atau tidak dengan koki yang membuat kue-kue di sini ?." Yuma kembali bertanya, meletakan kedua telapak tangan nya di atas meja kasir yang sejajar dengan dada nya,


Mereka nampak saling tatap.


"Pemilik toko ini tengah ke luar tapi yang membuat kue nya ada di belakang ! Kenapa kak, ada yang bisa saya bantu ?."


Pelayan yang tadi mengantar pesanan pun berdiri di samping meja kasir mendengarkan. Dua pelayan laki-laki dan dua pelayan perempuan tengah penasaran.


"Kira-kira kapan dia akan kembali, ya? Lebih baik mungkin saya menunggu di sini"


Yuma terlihat aneh, para pegawai toko tidak melihat jika Yuma adalah keturunan orang kaya ataupun bangsawan, seperti wanita biasa yang keluar masuk membeli kue.


"Ada apa ?." Timpal seseorang mengenakan celemek putih dan juga masker, baju pink muda dan celana jeans panjang berwarna hitam sehingga tubuh nya berbentuk, rambut nya diikat lipat dan poni di jepit ke samping.


Yuma menoleh ke belakang tepat berdirinya pelayan yang tadi mengantar kue ke meja nya.


"Oh ini maaf mengganggu, saya kebetulan lewati sini dan melihat toko kue ini lumayan ramai jadi saya ingin mencicipi," Yuma berbohong, tidak ada yang ke luar masuk ke toko paling hanya satu atau dua orang. Mereka saling tatap kembali karena ucapan Yuma, mereka mengumpat dalam hati, apa wanita di depan mereka ini tengah mengejek ?.


"Apa anda yang membuat semua kue ini?" Mata Yuma mengedar pada semua kue di etalase. Sopan dan ramah, senantiasa agar sikap Yuma tidak menyinggung mereka-mereka.


Koki itu di tatap dan terlihat menyusut telapak tangan nya, mungkin berkeringat karena gugup. Yuma melihat sorot matanya takut, entah karena