Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 79


Waktu menunjukkan pukul delapa waktu Singapura. Yuma, dia meninggalkan apartemen Erina dengan Gary baru saja, sedangkan Erina dia mengepak barang yang akan di bawa ke China dan beberapa keperluan tugas kuliah.


Kedua adik-kakak sepupu itu turun di area mall terbesar di Singapura. Mobil masuk dan turun ke basemen area parkir.


Tit..


Suara mobil terdengar setelah Gary dan Yuma beranjak ke luar dan naik ke atas.


"Kenapa harus ke sini kak ? Di gerai-gerai juga banyak kalau untuk baju, harga nya pun lebih murah !."


Telunjuk Gary menekan no menuju ke atas di dalam lift dan menghadap pada adik sepupunya itu dengan sedikit bersandar pada dinding.


"Ada kala nya boros sedikit tidak apa," Ucap nya. Yuma tersenyum kecut.


"Toko kue mu sudah bisa buka cabang, tapi kenapa masih belum ? Bisnis itu perlu di kembangkan, jangan di sana-di sana terus !,"


"Kalau misalnya belum sempat cari bangunan nya, kan ada kakak ! kakak bantu pengurusan nya,"


"Mau di mana ?."


Lift terbuka dan mereka pun jalan ke luar, lantai mall pun terpijaki.


"China, Singapura, Indonesia, Korea, Australia, Inggris atau Spanyol ? Mau di mana ? Kakak dan Xian pasti akan membantu mu !." Gary menyeru di sela jalan nya.


Yuma nampak berpikir,


"Akan aku pikirkan nanti,"


"Maaf, aku jadi merepotkan mu terus" Wajah Yuma nampak menyesal dan kerutan tidak enak terpatri dari sana.


"It's ok"


Telapak tangan Gary mengelus kepala belakang Yuma di sela jalan mereka dengan tulus dan senyum lembut, Yuma pun membalas senyum dengan tulus.


Membiarkan waktu tidak di habiskan untuk berbelanja, Yuma dan Gary pun sudah kembali ke basemen dengan menteng dua paper bag.


"Hati-hati"


Gary menyanggah tubuh Yuma yang hendak tergelincir setelah memasukkan paper bag itu ke mobil bagian belakang.


"Thanks"


Gary menutup pintu mobil dan dia kembali berjalan ke arah kemudi.


"Kita langsung ke hotel,x


" Kakak sudah menyiapkan beberapa keperluan mu di sana dan ada teman kakak yang akan menjaga mu selama di sini" Tutur Gary di sela mengemudinya, sesekali melirik Yuma yang tengah menatap nya.


Tersenyum hambar, kedua sudut bibir Yuma terlihat seperti itu. Entah apa yang tengah dia pikirkan, tidak ada yang tahu. Tapi sepertinya ada beberapa rencana yang tengah dia pikirkan walau masih belum matang.


"Wanita ?." Yuma bertanya saat mendengar teman kakak nya akan membantu.


"Laki-laki" Sahut Gary.


"Oh"


Yuma membenarkan duduk nya dan kembali menatap ke depan. Gary melirik sedikit memperhatikan respon dari Yuma.


"Dia anak baik dan terpercaya ! Kakak percaya pada nya" Gary menjelaskan.


"Aku tahu" Ujar Yuma jadi terkesan simpel dalam menjawab perkataan Gary, seperti Yuma yang dulu, Yuma yang menyendiri.


"Apa ada masalah ?,"


"Katakan jika kakak berbuat salah pada mu! "


Nada intonasi itu mulai membingungkan, Yuma menoleh menyadari jika ucapan nya yang ternyata membuat sang kakak bertanya seperti itu.


"Tidak apa kak ! Aku hanya bertanya saja karena aku kurang nyaman jika berada dengan seorang pria,"


"Aku wanita yang sudah menikah dan itu tidak bisa untuk di pungkiri"


Tatapan Garry teralihkan saat mereka ternyata sudah sampai di depan hotel.


"Ayo" Gary menuntun Yuma dengan menempelkan telapak tangan nya di punggung Yuma dan tangan lain menjinjing paper bag.


"Istirahat lah ! Kakak akan mencari Liam agar bisa berkenalan dengan mu"


"Kak tidak perlu ! Bukan kah jam penerbangan mu hampir dekat ?," Yuma mengingatkan


Gary, dia mengecek jam di tangan nya dan memang benar.


"Itu, itu kontak Liam. Hubungi dia jika kau memerlukan bantuan" Ucap Gary.


"Aku tidak mengantar mu, ya ! Aku lelah dan ingin istirahat,"


"Sampaikan salam ku pada Erina" Ucap Yuma mengantar Gary ke depan pintu.


"Tentu ! Aku pergi dan jaga dirimu baik-baik,"


"Jika urusan nya selesai, kakak akan menyuruh Xian mengunjungi mu di sini" Tutur Gary.


"Selama beberapa hari, aku tidak akan menggunakan telpon, pasti kontak nya tidak akan bisa di hubungi, "


"Aku sudah memutuskan itu ! Aku ingin istirahat dan tidur nyenyak"


Gary mendengarkan. "Baiklah aku mengerti"


Yuma, wanita itu kembali masuk ke dalam setelah kepergian Gary. Jika sudah seperti ini, apa keberuntungan masih berpihak pada nya ? Yuma sepertinya menyerah, tapi itu tidak berhak untuk nya. Menyerah adalah kata menakutkan yang sangat di hindari oleh wanita itu..


...**...


Di depan nya, layar laptop akhirnya mati karena di biarkan oleh sang pemilik. Daniel, dia menatap layar laptop namun isi kepala nya penuh dengan nama Yuma sehingga tidak fokus dengan pekerjaan nya.


"Pak" Sapa Xena yang beberapa menit menunggu Daniel sadar, dia berusaha untuk tidak berteriak dan mengusahakan suara nya lembut.


Xena, dia langsung duduk di depan Daniel yang masih tengah dalam lamunan nya. " Daniel" Suara sensual itu pun membuat Daniel terhenyak dari lamunan nya, terlebih Daniel merasakan sentuhan lembut pada punggung telapak tangan nya.


"Lancang !!"


Daniel beranjak berdiri dengan kasar sehingga kursi itu terdorong menubruk nakas di belakang nya.


Netra tajam itu menguat, otot mata seakan terlihat jelas menampakkan dirinya di permukaan. Suara Daniel menyentak menggema di seisi ruangan.


"Kamu menyentak ku, Daniel ?!,"


Xena merasa tidak habis pikir, di pagi seperti ini dia telah mendapat sentakan dari mantan kekasih nya yang sekaligus tengah dia kejar kembali, walau belum asa hasil.


"Daniel ? Panggil saya dengan sopan, nona Xena!,"


"Kau hanya pegawai di sini dan apa tatak rama yang di beritahukan kurang jelas ?." Geram, suara itu menggeram seolah tidak terima.


Ingatan tentang dirinya dengan Xena seketika membuat nya marah dan bersalah karena hampir mengkhianati Yuma, namun juga hendak merencanakan, Tuhan sudah memberikan peringatan sekaligus hukuman.


Wajah Xena terus mengingatkan nya akan kesalahan pada Yuma.


"Letakan berkas nya dan kembali lah pada pekerjaan mu" Daniel memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku dan memunggungi Xena yang masih menatap dengan kaget dan kaku.


Di luar, Xena terus mengumpat kesal, wanita itu sangat kesal karena Daniel terasa sulit untuk di dekati lagi. Xena tidak melihat sosok Daniel yang dulu terlebih sekarang dia telah menikah membuat semua nya semakin sulit di gapai.


"Apa aku harus menyerah begitu saja ?," Batin nya terus berkoar sembari memeluk pipinya dengan telapak tangan kanan. Bibir pun ikut kecut.


Shen tengah berbincang dengan salah satu staf kantor mengenai kelanjutan proyek bersama dengan perusahaan Zhao.


"Dirut perusaan Zhao sudah menerima kompensasi atas kerugian beberapa hari atas dari rencana kita dan proyek sudah bisa di lanjutkan kembali sesuai yang telah di rancang, pak"


Shen mengerti, dia rasa masalah satu sudah bisa di atasi tinggal masalah yang lain.


"Baiklah ! Lanjutkan pekerjaan mu" Ucap Shen, dia pun kembali ke ruangan nya dengan langkah panjang.