
apa.
Yuma pun akhirnya mendekat. "Boleh bicara sebentar ?." Ucap Yuma lembut.
Sosok Yuma saat ini seperti wanita yang begitu penyayang, kulit wajah yang pasi namun masih sedikit kemerah-merahan. Rambut di gerai seakan-akan wanita itu seperti seorang gadis muda lajang namun banyak pria mengantri di belakang.
"Boleh, sebentar !." Gadis itu menanggalkan celemek dan memberikan pada rekan nya, setelah itu duduk di salah satu kursi di sana.
Pegawai yang lain nampak penasaran, mereka pun berkumpul melangkah lebih dekat agar terdengar.
"Saya langsung saja pada intinya,"
"Silahkan !." Ucap koki itu.
Yuma menarik nafas nya dan kembali tersenyum ramah. "Sudah berapa lama kau bekerja di sini, kalau boleh saya tahu ? Saya lihat toko ini kurang ramai" Ucap Yuma walau dengan perlahan-lahan karena reaksi wajah koki itu menyedihkan.
"Sudah lama kak, tapi sepertinya saya tidak akan bekerja lagi di sini ! Bukan hanya saya, tapi juga yang lain nya" Tutur koki itu menatap satu persatu para rekan nya yang tengah duduk memperhatikan.
Yuma pun ikut melihat dan kembali menatap koki itu dengan baik. "Ada apa ? "
Yuma buka nya ingin ikut campur, namun perkataan koki itu sedikit terbuka sehingga dirinya pun penasaran.
"Toko akan tutup dan pemilik toko tengah mengunjungi pialang untuk toko ini" Tutur koki itu, terdengar pasrah dan kasihan, yang lain nya pun terlihat kecewa.
"Tutup ? Tutup kenapa ?" Yuma benar kaget, karena rasa kue nya pun tidak terlalu buruk dan lumayan murah juga tapi kenapa tutup, pikirnya.
"Penjualan kurang ramai, dari pertama buka pun paling paling banyak pengunjung dalam satu hari hanya duapuluh orang dan target pemilik toko paling sedikit lima puluh pembeli,"
"Entahlah saya pun bingung dengan bos saya itu". Hembusan nafas terdengar oleh Yuma.
"Pemilik bangunan ini juga adalah pemilik toko kue , kah ?" Tanya Yuma.
Koki itu mengangguk dan di perkuat oleh anggukan dari pegawai yang lain. Yuma sejenak berpikir, entah apa yang dia rencanakan, tadi nya dia hanya ingin berbincang tentang cita rasa kue saja, tapi tanpa di duga mereka sungguh terbuka tanpa harus berbicara panjang lebar.
"Berani sekali kalian ngerumpi di jam kerja ?!." Suara itu memekik, menyerang tenggorokan sehingga tercekat.
Geseran kursi terdengar, mereka berdiri dan langsung pergi ke pekerjaan masing-masing. Beberapa pengunjung yang ada hanya menyaksikan saja dan melanjutkan obrolan.
Yuma, pun ikut berdiri setelah melihat koki itu berlarian seperti tengah di kejar oleh penculik. Yuma langsung tahu jika pria baya itu adalah pemilik toko dari cara dia berbicara.
"Dengan pemilik toko ini ?." Ucap Yuma mencoba bertanya.
Pemilik toko itu nampak mengamati Yuma dari bawah sampai atas dengan tatapan menyelidik.
"Perkenalkan, saya Yuma ! Bisa bicara sebentar ? Itu jika tuan berkenan"
Pemilik toko itu pun menyetujui walau masih nampak bertanya-tanya. Tidak menolak atau menyanggah, karena bagaimana pun juga Yuma adalah orang asing.
Mereka pun duduk dengan tenang.
"Apa saya mengenal anda ? Sepertinya sikap ini mencerminkan jika kita saling kenal ! Benar bukan ?!" Ujar nya.
Pipi chubby, hidung pun mungkin akan tertelan oleh kedua pipinya. Perut pun berbentuk lingkaran.
"Oh tidak tuan, saya hanya pembeli di sini dan kebetulan lewat,"
Pemilik toko itu masih mendengarkan.
"Tadi saya mendengar jika toko ini akan tutup, apa itu benar ? Padahal kue yang kalian jual tidak mengecewakan, hanya harus sedikit di perbaiki cita rasa nya akan lebih baik" Tutur Yuma.
"Benar, sudah lama di rencanakan dan setelah ada pembeli, saya akan tutup dan mengganti uang gaji serta bonus untuk para pegawai ! Saya berencana pindah ke kota B bersama keluarga dan tidak bisa lagi memperjuangkan toko ini lagi"
Ucap pemilik toko sesekali menggesek kedua telapak tangan nya. Sepertinya keputusan itu sudah bulat sampai pemilik toko itu tidak bisa melihat kesempatan di depan nya.
Entah jiwa pengusaha nya sudah kalah, entah karena memang keputusan itu adalah keputusan akhir nya. Tidak ada yang tahu.
”Lǎobǎn, jangan khawatir ! Bagaimana jika toko ini saya yang beli, saya akan bayar dua kali lipat dari yang kau tawarkan"
Pemilik toko itu terkejut bukan main, merasa aneh dengan apa yang baru saja dia dengar. Penyebutan untuk dirinya menandakan jika wanita di depan nya ini adalah orang China.
"Haha nona jangan bercanda ! Walaupun saya sudah tua saya tidak bodoh sebodoh itu. Mana ada yang langsung membeli tanpa tahu harga sebenarnya, walaupun toko ini sudah tua, tapi nilai dari bangunan ini sangat berarti untuk saya !"
"Berapa harga nya? " Yuma langsung pada intinya, memotong ucapan bos itu.
"S$47.000" Ucap nya mencoba bernegosiasi.
"S$94.000 saya bayar cash" Tukas Yuma dengan sangat cepat, dia seakan ingin membunuh pemilik toko dengan angka yang di sebutkan. Wajah pemilik toko sangat mengenaskan kala mendengar angka yang di sepakati, matanya melemah dan suara cegukan pun mendadak terdengar.
"Lǎobǎn ?." Yuma berdiri, menepuk punggung pemilik toko itu namun cegukan semakin menjadi. Sepertinya dia kaget dan mengingat-ingat kebaikan apa yang dia lakukan di masa lalu.
"Tolong ambilkan minum" Teriak Yuma menahan tubuh pemilik toko itu. Segera terlihat salah satu pelayan membawa segelas air minum.
"Bos minum dulu" Pelayan itu membantu memberikan gelas nya sedikit panik.
"Besok saya akan ke sini lagi dan membawa uang nya ! Buka dulu seperti biasa jangan tutup," Ucap Yuma berdiri namun menatap pemilik toko yang tengah membalas tatapan nya. Pegawai toko yang ada du samping hanya bisa mendengar, karena di cerna pun tidak kesampaian.
"Oh iya, i Besok setelah jam kerja selesai kita makan-makan ! Kalian yang tentukan tempat nya" Ucap Yuma.
Yuma pun pergi, pergi meninggalkan banyak pertanyaan di benak pegawai itu. Pemilik toko masih bengong, menatap lurus seperti susah berkedip, mengusap dada nya karena masih kaget.
"Bos kenapa dengan mu ? Kau sedang melamun kan apa ?." Guncang nya kurang sopan.
Pemilik toko itu tersadar. "Karena kau mengganggu lamunan ku maka gaji mu akan saya potong ! Tch tch tch, miris sekali hidup mu, nak!." Pemilik toko itu pun berlalu pergi setelah menepuk pundak pegawai nya.
"Hah ? Di potong ? Bos mana ada seperti itu ? Kau sedang bercanda kan ?."
Teriak nya merengek sampai-sampai teman nya menghampiri.
"Kenapa ?." Tanya teman nya.
"Dasar bos gila" Umpat nya mengabaikan pertanyaan dari teman nya itu.
"Eh malah ngumpat, jawab napa ?!" Teman di belakang nya menonyor kepala lumayan keras. Dia pun menoleh.
"Tau ah, stres aku lama-lama" Dia pun kembali ke pekerjaan nya dengan langkah menghentak.
"Dih aneh"
**
GARRY ZHAO
XIAN ZHAO