
Xena masuk tanpa mengetuk pintu kantor dan masuk sembarangan untuk menemui Daniel.
Di tangan nya sudah dia bawa nampan kecil berisi roti dan juga susu coklat hangat.
"Daniel ayo sarapan dulu, aku membuat roti selai kacang untuk mu!." Xena meletakan nya di atas meja lalu berjalan mendekati Daniel.
Daniel menanggalkan kacamata nya dan menggeser kursi sedikit jauh. "Selesaikan pekerjaan mu dan aku ingin kau membawakan berkas laporan dari manager keuangan dan juga laporan dari manager produksi mengenai properti yang tengah di garap untuk fasilitas hotel yang hampir selesai."
Xena yang semula hendak meraih wajah Daniel kini dia urungkan, perubahan ekspresi Daniel yang tak luput dari pandangan nya membuat kesal.
"Kenapa diam ?,"
"Ke luar dan selesaikan pekerjaan mu."
Dengan tegas Daniel mengusir Xena dan kembali memakai kacamata, meraih ballpoint dan fokus pada berkas dan juga laptop nya.
"Tch." Xena berdecih kesal namun masih menatap Daniel dengan ketusan di bibir.
Dia sekalipun tidak pergi dan hanya berdiri di samping Daniel dengan melipat marah kedua tangan nya.
"Aku akan pergi setelah kau memakan habis roti nya." Ucap Xena keras kepala.
"Aku akan memakan nya, tapi nanti ! Sekarang kau pergilah." Seru Daniel tak kalah keras kepala.
"Kau tidak dengar jika Daniel mengusir mu, Xena ?."
Shen masuk dengan suara gema nya, rendah namun terkesan menakutkan. Bekal di tangan nya masih menggantung di jari nya yang menahan.
Daniel tak menanggapi, Shen terus mendekat pada meja Daniel.
"Bawa kembali nampan ini bersama mu." Shen meraih nampan itu dan memberikan kasar pada Xena.
"Dasar penggoda." Cibir Shen dalam hati nya saat mata mereka bertemu. Xena kalah, dengan kasar meraih nampan itu dan berlalu pergi.
"Ingat Daniel kau ini sudah menikah sekarang,"
"Xena, dia bukan lagi siapa-siapa dirimu dan ingat, Yuma adalah istri mu. Pak presdir yang terhormat !." Tekan Shen, dia meletakan bekal yang di buat Yuma di atas meja karena Daniel tak mengindahkan keberadaan dirinya saat ini.
"Dia wanita kuat Daniel, tapi jika dia tahu kau bermain dengan wanita lain di belakang nya mungkin dia tidak akan terima !."
Shen pun pergi menuju ruangan nya sendiri. Daniel, dia mengamati bekal yang tersimpan di depan nya setelah punggung Shen tak terlihat lagi.
"Aku tahu Shen, tapi rasa sakit Erina masih belum sebanding !." Tatapan itu begitu dalam, sedangkal lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan kebencian yang begitu tak terkira.
...**...
Gery masih berada di Singapura, dia terlihat baru saja ke luarr dari perusahaan di temani oleh beberapa rekan kerjanya, sampai di mana Gery pergi dengan mobil lamborghini keluaran terbaru dengan warna hitam glossy membalut seluruh badan mobil.
"Di mana ?."
"Malam nanti jangan lupa di tempat biasa !."
"Siap ! Sekarang temui nyonya Lee dulu sana." Seru Liam.
Nyonya Lee adalah ibu dari Liam, dia sangat menyayangi Gery sampai-sampai Liam terkesampingkan jika sudah ada Gery.
"Eum" Sahut. Sambungan pun terputus.
Gery belok arah, di mana arah itu menuju ke rumah Liam.
Di sepanjang perjalanan menuju ke sana, tak henti-henti nya menatap seluruh sudut kota yang masih sama seperti sebelum nya, belum ada perubahan sama sekali.
Kawasan bersih dari sampah dan gedung menjulang tinggi seakan berlomba menyentuh sang langit.
Mobil terhenti di persimpangan jalan dan tepat lampu merah pun berdiri di sana.
Musik di dalam kabin mobil masih mengiringi ketukan jari jemari Gary sampai di mana mata itu menangkap keberadaan Erina yang tengah berjalan dengan dua wanita lain nya.
"Wanita itu ?." Gumam nya.
Erina berpisah dengan kedua teman nya setelah selesai berdiskusi mengenai tugas nya. Senyum nya sangat ramah sampai Gery tak sadar ikut tersenyum saat ini.
Segera Gery ke luar dari mobil nya sesaat menepikan dahulu agar tak mengganggu pengendara lain.
Erina hendak menyebrang, padahal dia nengok kanan dan nengok kiri namun entah dari mana pengendara motor itu datang, tak terlihat sama sekali.
"Aaaaa." Erina reflek menjerit tanpa menghindar.
Tangan pria itu menarik Erina hingga tertarik menubruk dada kekar nya. Siapa lagi jika bukan Gary yang tengah berada tepat di belakang Erina.
"Heeeeuuhhh hufffttt astaga hampir saja." Erina reflek mengelus dada nya sehingga belum sadar akan tangan satu nya lagi yang masih di cekal oleh Gary.
"Masih bisa berkeliaran, nona ? Bukankah dokter menyarankan agar kau istirahat dengan baik ?." Gary mulai menatap Erina tajam seraya mengamati dari atas sampai bawah tubuh Erina.
Kelopak mata Erina membulat sempurna saat sadar jika pria yang ingin dia jauhi berada tepat di dekat tubuh nya dan sekarang tengah memegang pergelangan tangan dengan sedikit longgar.
"Bayi mu masih muda, kau harus tetap waspada nona ! Jangan sembarangan beraktifitas."
Gary apakah tidak sadar di sedang berceramah seperti nenek-nenek pada Erina ? Tentu saja tidak untuk itu dia terdengar terus mengomeli Erina di pinggir jalan yang lumayan terlihat ramai..
"Kau ?." Tunjuk kasar Erina dengan cebikan bibir nya yang begitu segar.
"Kau sedang apa di sini ? Kau mengikuti aku ?," Selidik Erina dengan mata memicing.
"Enak saja, siapa juga yang mengikuti"