Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 87


Sesekali menengok, berjalan di tepi jalan sendirian entah apa maksud nya. Yuma, wanita itu seakan tengah menghilangkan pikiran yang terus mengganggu nya.


Bukan, bukan tidak ingin menyelesaikan masalah namun dia terlihat sudah di ujung kesabaran.


Tas kecil itu dia jinjing, sesekali dia guncang dan di ayunkan, bola mata nya mengedar dari sudut ke sudut, berjalan dengan senyum lembut dan terkesan berseri.


Saat dia menikmati langkah nya, tidak sengaja melihat wanita dan pria tengah bercanda bersama dengan anak kecil, sepertinya anak itu adalah putra mereka.


Senda gurau dan tawa itu seketika membuat jantung


Yuma berhenti seakan mati. Dia terpaku menatap


kaku, sedetik kemudian senyum tipis getir terpaut dari ujung bibir nya.


"Aku juga ingin seperti kalian !,"


"Hufhhh semoga kalian akan terus seperti sekarang"


Hembusan nafas, tatapan tak berpaling. Yuma masih enggan melepas tatapan nya dari pemandangan yang menurutnya sangat indah itu.


Dari arah depan, seorang ibu-ibu pun terlihat menghampiri, sedikit berteriak dan melambai tangan dan telinga Yuma mendengar anak kecil itu memanggil nenek pada wanita yang baru saja mendekat.


Senyum getir perlahan di gantikan dengan ulasan senyum hangat, otak Yuma teringat pada mama nya yang ada di China dan juga ibu mertua nya.


Wanita itu pun melangkah pergi, mencari telpon umum untuk menghubungi mamanya. Handphone yang dia gunakan sengaja di tinggal dan di nonaktifkan.


Yuma, wanita itu ingin mendengar suara mama nya setelah beberapa hari tak ada kabar dan lagi pastinya keluarga nya pasti sudah tahu masalah antara dirinya dan juga Daniel.


Siapa lagi jika bukan dari kakak sepupunya.


Yuma masuk ke dalam ruangan kecil yang di mana di dalam terdapat telpon umum. Jari jemari itu dia gunakan untuk menekan angka yang tertata rapih.


Treuk...


treuk...


"Halo" Ucap seseorang dari seberang sana. Suara itu sangat lembut sampai telinga Yuma memerah dan mata pun kembali nanar.


Yuma sangat tahu suara di seberang sana, pemilik nya dia tahu dan siapa lagi jika bukan milik mama nya.


Yuma masih terdiam.


"Halo?." Ucap nya sekali lagi dari seberang sana. Posisi di China, ada Xian, Gary dan juga papa Wei di ruangan dan tengah memperhatikan mama Shuwan yang tengah mengangkat telpon rumah yang berbunyi tidak seperti biasa nya.


"Yuma ?." Ucap mama Shuwan. Papa Wei langsung mendekat, begitupun dengan Gary dan Xian.


"Halo ?" Giliran Papa Wei yang menyapa.


Jantung Yuma semakin tidak karuan, apakah dia harus memberitahu orang tua nya ? Dia takut akan masa lalu yang kelam antara dirinya dan keluarga nya terjadi lagi, dia takut akan keluarga yang tidak lagi peduli akan masalah yang dia dapatkan.


Wanita itu tarik ulur, ketakutan membuat nya berpikir jika dia itu hidup sendiri dan tidak ada sandaran.


"Halo ?." Suara itu masih sabar menunggu sahutan dan tidak ada suara kasar ataupun umpatan.


"Pa, Ma" Bibir Yuma bergetar, dia menahan tangis nya. Menggigit bibir bawah dengan sangat kuat namun bulir air mata itu seakan egois ingin keluar.


Papa Wei menatap mama Shuwan terpaku. "Yuma" Ucap papa Wei. Mama Shuwan mengambil alih telpon itu kembali dengan resah namun juga senang.


"Yuma ? Yuma itu kamu kah ? Yuma bagaimana keadaan mu, sayang ? Kenapa tidak memberitahu mama, eum?! Kamu baik-baik saja bukan ?!."


Sederet pertanyaan khawatir ke luar dari bibir sang ibu. Guratan khawatir itu tidak lagi bisa di sembunyikan.


"Aku baik-baik saja, ma, pa! Kalian jangan khawatir,"


"Di sini aku hidup dengan baik"


"Lagi pula sekarang aku punya kalian dan juga kakak, kan ?! Dunia ku tidak lagi menyeramkan seperti dulu, "


Ucap Yuma dengan kata-kata seakan mengetes apa yang akan di katakan oleh mama nya. Hati wanita itu berharap jika keluarga nya memang sudah benar-benar menyayangi nya, tidak seperti dulu.


Bayangan hitam di waktu lalu apakah benar-benar hilang ?, wanita itu sepertinya masih ada rasa takut.


"Kau ini bicara apa ? Tentu kamu punya kami, mama papa dan kedua kakak mu. Jangan pernah merasa hidup sendiri lagi, kau adalah permata kami dan itu tidak ada yang bisa menggantikan,"


"Lihatlah, sekarang papa dan juga kedua kakak mu mau menangis,"


"Jangan bicara seperti itu lagi ! Kami benar-benar menyayangi mu, untuk itu jika ada masalah jangan pergi tanpa kabar seperti ini,"


"Mama akan ada buat kamu"


Ucap mama Shuwan berusaha untuk tidak bernada sedih, dia ingin menyemangati putri nya walau hatinya pun sakit akan masalah yang menimpa.


Papa Wei, Xian dan juga Gary, mereka memijit mata mereka yang panas, mereka seketika berpikir apa Yuma memang masih meragukan ketulusan mereka ? Ataukah dia masih merasa jika di dunia ini, dia masih hidup sendiri ?


Ingin rasanya langsung bergegas pergi, menghampiri Yuma dan berbicara dengan baik dan mengatakan jika dia adalah mentari di rumah Zhao.


"Ma, terimakasih ! Aku sudah merasa sangat baik-baik saja sekarang,"


"Ma, aku tidak akan pulang dulu ! Aku akan tinggal di Singapore untuk beberapa hari,"


"Ma, bisakah jangan mengatakan pada siapapun keberadaan ku ? Aku hanya ingin tenang dulu sebelum menghadapi Daniel"


Tutur nya memastikan sesuatu, memastikan agar keluarga nya tutup mulut untuk beberapa waktu.


"Ma, bisakah ?." Ucap Yuma kembali karena sang mama tidak lagi bersuara.


"Sesuai keinginan mu ! Berapa lama pun akan kami pastikan jika mereka tidak akan tahu keberadaan mu sampai kamu buka mulut sendiri".


Yuma tersenyum, hatinya senang saat sang mama pun kini bisa di ajak bicara walau lewat telpon.


"Ma, terimakasih !,"


Ucap Yuma, tersenyum canggung namun terkesan bahagia.


"Jaga diri baik-baik di sana ! Nanti kami akan ke sana setelah acara pernikahan Gary selesai " Seru Mama Shuwan.


"Baiklah !," Ucap Yuma namun sedetik kemudian tersadar. "Menikah ? Ma aku tidak salah dengar, kan ?!" Ucap Yuma terburu karena berita ini hampir membuat nafas nya sesak. Bukan sesak karena sakit namun dia bahagia dengan kabar baru ini.


"Ma benarkah ?"


"Benar sayang, dua hari lagi!" Sahut mama Shuwan melirik Gary. "Kamu pulang kan ? Walau tidak akan megah, tapi apa kamu tidak ingin menghadiri acara pernikahan kakak mu ?" Lanjut nya.


"Aku ingin sekali ma tapi aku tidak tahu, aku tidak ingin pulang dalam waktu dekat ini ! Katakan pada Gary jika aku minta maaf karena tidak dapat menghadiri pernikahan nya dan ucapkan selamat untuk nya dari ku"


Tutur Yuma merasa bersalah dan tidak enak. Dia bisa saja datang tapi jika pulang, dia tidak bisa melihat wajah Daniel.


"Nanti mama sampaikan ! Kamu baik-baik di sana" Ucap mama Shuwan.


"Iya, ma!"