
Daniel dan juga Shen menunggu lumayan lama. dari arah samping, Yuma berjalan mendekat dengan seorang anak kecil di dalam pangkuan nya.
Olesan pada wajahnya begitu natural seolah Yuma hanya memakai pelembab dan juga Sunscreen pada permukaan wajah. Warna bibir pun begitu natural, tatapan Daniel begitu mendamba dan begitu tak bisa di alihkan.
" Ayo kita bermain ! ". Suara Yuma begitu imut kala dirinya mengeluarkan suara anak-anak.
" Cantik bukan ?!". Goda Shen.
" Cepat jalan ". Tekan Daniel.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya mendengar celotehan wusan yang begitu menggemaskan dan sesekali membuat mereka tertawa.
" Sansan panggil kaka, aunty. Ok ! ". Ucap Jingyi antusias.
" Aunty Yi ". Ucap Wusan.
" Pintar sekali adik mu ini Yum ". Semangat Jingyi
" Siapa dulu, kaka nya ". Pede Yuma menepuk pelan dadanya.
Daniel hanya mendengar tanpa ikut berbicara sampai di mana hati nya begitu lega, ternyata anak kecil ini adalah adik nya.
" Kalian tidak ganti baju ? jika kalian mengenakan pakaian seperti ini, orang-orang akan mengira jika kalian adalah bodyguard kami ". Celetuk Jingyi.
" Benar Shen kalian ganti baju dulu lah ! Aku akan membawa kalian ke toko baju langganan ku, di sana juga menjual baju-baju pria ". Ucap Yuma melirik Daniel yang masih saja terdiam.
Sampailah Yuma di depan toko baju yang terlihat seperti butik pada umum nya.
" Wusan tunggu lah di sini bersama aunty Yi, ok !". Ucap Yuma.
" Siap kak ! ". Tegap Wusan begitu imut nya.
Yuma masuk ke dalam dan di sapa hangat oleh pekerja toko.
" Yuma, kau kemana saja baru berkunjung, kau tidak merindukan aku kah ? kau ini sombong sekali ". Laki-laki itu begitu gemulai dengan gerakan tubuh yang begitu lembek.
" Hai Nori ". Senyum Yuma menyapa dengan saling berpelukan. Daniel yang melihat itu hanya dapat membulatkan mata nya penuh.
" Waw, pria ini tampan sekali ". Genit Nori menyentuh lengan kekar milik Daniel. Daniel semakin menatap tajam dan segera menjauh, Shen yang menyaksikan itu hanya terkikik geli.
" Nori jangan genit, nanti kau di sembur lahar panas baru tahu rasa ". Canda Yuma. Shen pun ikut mengiyakan candaan Yuma.
Yuma berkeliling mencari baju yang pas untuk Daniel, sedang Shen di bantu oleh Nori.
" Sepertinya ini cocok untuk mu pak, warna nya juga sama seperti baju yang saya pakai, benar-benar cocok ". Girang Yuma.
" Mulut nya tutup bisa ? dari tadi nyerocos terus, tidak sakit apa itu tenggorokan ?! ". Seru Daniel mengambil kasar baju itu. Yuma langsung merapatkan bibir nya tidak bersuara.
Tidak lama Daniel ke luar dari ruang pas, pilihan Yuma benar-benar pas. Daniel mengenakan baju kaos dark moccha di padukan dengan celana Chino selutut warna hitam.
" Tampan ". Puji Yuma.
" Ada celana lebih panjang dari ini ?". Daniel seolah tidak setuju dengan pakaian yang di pilihkan oleh Yuma.
" Kenapa ? ini sudah sangat cocok di tubuh anda pak ". Yuma memandang Daniel dari atas sampai bawah. " Kau punya jaket ? ". Tanya Yuma.
" Ada di mobil ". Jawab Daniel.
" Sepatu ada ?! ". Tanya Yuma kembali.
" Ada, semua ada di sana kecuali pakaian santai seperti ini ". Jelas Daniel.
" Baiklah jika begitu ayo kita bayar ke kasir ". Semangat Yuma menggandeng tangan Daniel. Daniel menaikkan satu alis nya dengan keantusiasan Yuma.
" Pasangan baru dari mana ini ?! ". Nori mulai lagi mendekati Daniel.
Shen hanya menatap kaget dengan penampilan baru dari Daniel, ini pertama kali nya dia berpakaian santai seperti itu.
" Shen bayar semuanya ". Ucap Daniel.
" Tidak perlu, aku yang akan membayar nya ". Cegah Yuma.
" Bukan begitu, mereka aku yang mengajak nya, jadi aku tidak tidak enak jika mereka membayar semua nya ". Ucap Yuma benar-benar merasa tidak enak.
" Yasudah kau bayar, kenapa masih menggandeng tangan ku ?! ". Sindir Daniel dengan penuh penekanan.
" Ah ? iya iya iya ". Sadar Yuma segera melepaskan gandengan nya..
" Kau ini apa-apaan ". Shen menajamkan tatapan nya pada Daniel. " Kalian duluan saja, aku akan mengurus semuanya ". Ucap Shen.
" Tapi ". Sela Yuma.
" Pergilah, kasihan adik mu menunggu lama ". Ucap Shen dengan segudang alasan.
" Maaf merepotkan mu Shen ". Tidak enak Yuma. Shen berucap hanya dengan gerakan mulut nya tanpa ada suara yang ke luar. Saat mereka hanya terlihat punggung, Shen dengan cepat mengabadikan momen langka ini dan mengirimnya kepada mama Ella.
" Tuan ". Panggil Nori.
" Sudah ? ". Ujar Shen.
" Terimakasih telah berkunjung, kapan-kapan bawa aku main bersama kalian ". Genit Nori.
" Hahah kapan-kapan ok ". Sebenarnya Shen pun geli dengan tingkah Nori yang begitu gemulai, tubuh pria nya begitu lentur terlihat oleh Shen.
" Sayang ayo ". Yuma sedikit berteriak kepada Wusan. Jingyi dan juga Wusan menoleh ke arah kedatangan Yuma.
" Gendong ". Manja Wusan.
" Kemarilah, aku yang akan menggendong mu ". Daniel lebih awal meraih Wusan saat Yuma hendak mengangkat adik nya.
" Yuma dia sangat tampan sekali ". Jingyi mengayun-ayun tangan Yuma. " Di mana calon suamiku ?! ". Semangat Jingyi.
" Siapa lagi calon suami mu ?! ". Bingung Yuma.
" Pria yang satu nya lagi, kenapa dia belum kembali ?! ". Jingyi melebarkan tatapan nya mencari Shen yang belum kunjung terlihat.
Daniel lebih dulu ke luar sembari menggendong Wusan dan menunggu di dalam mobil. " Kaka, aku ingin duduk di sini ". Ucap Wusan terduduk di atas lahunan Daniel sembari menggerakkan stir.
" Boleh, tapi nanti jika sudah besar, kau boleh duduk dan mengemudikan mobil ini seperti uncle Shen ". Tutur Daniel.
" Benarkah ? yeay asyik ". Girang Wusan.
" jika besar nanti, aku akan membawa kaka bermain setiap hari ". Wusan terus saja mengoceh dengan pelafalan yang cadel.
" Apa ini baru pertama kali kalian bermain bersama ?! ". Tanya Daniel.
" Eum ! kaka selalu pergi, aku sendirian di rumah ". Adu nya terdengar tengah bercerita.
Mereka mengobrol dengan akur nya sampai Yuma, Jingyi dan juga Shen pun membuka pintu mobil.
" Sayang kemarilah, jangan duduk di sana ". Ucap Yuma. Wusan menurut dan pindah ke belakang. Daniel telah bergeser ke samping sehingga Shen kembali menyetir.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di salah satu taman hiburan terbesar di kota itu. Wusan minta di turunkan
dari pangkuan Daniel.
" Kakak ayo ". Tarik Wusan pada tangan Daniel dan juga Yuma.
" Ayo ". Ucap Yuma dan juga Jingyi bersamaan. Daniel melepas lembut tangan Wusan dan ikut berdiri di samping Shen.
" Kita beli tiket dahulu, biarkan mereka berkeliling ". Ucap Shen merangkul pundak Daniel dengan kaki berjinjit.
" Lepas ". Tajam Daniel.
" Oh ayolah, kau harus tersenyum di sini !". Goda Shen.
" Begini juga banyak yang memperhatikan apalagi jika aku tersenyum, bisa-bisa mereka minta photo bareng ". Ujar Daniel dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.
" Salah aku bicara seperti itu ". Kilah Shen.
" Cih ". Decih Daniel.