Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 76


...***...


Tempat tinggal Erina kini di selimuti kecanggungan sesaat setelah pembicaraan selesai antara kakak ipar dan adik ipar itu.


"Kak" Ucap Erina mulai tergagap.


Perhatian Yuma dan Gary terundang dan langsung memperhatikan Erina.


"Itu berarti kau sudah tahu jika aku da,,,, n," Erina menelan ludah nya sesekali melirik Gary.


"Tahu, sudah tahu semua nya !!,"


"Tujuan kakak datang ke sini pun ingin meluruskan hal itu dan kebetulan Kak Gary pun berada di sini, jadi"


"Yuma biar kakak saja." Gary menimpali, menghentikan apa yang hendak Yuma ucapkan.


Erina melirik Gary.


"Kak, selesaikan semuanya ! Aku tidak ingin ada yang di rugikan atas perbuatan mu,"


"Aku menyayangi mu."


Ucap Yuma beranjak berdiri hendak pergi, agar mereka menyelesaikan masalah mereka berdua.


"Apapun untuk mu." Sery Gary. Erina melihat kasih sayang mereka begitu tulus, untuk itu dia teringat Daniel dan juga Shen yang ada di China.


"Dan satu lagi, jangan memberi tahu siapapun jika aku ada di sini ! Aku mohon pada kalian ! Cukup kalian yang tahu dan berjanjilah untuk tidak mengatakan apapun terkait masalah aku mengunjungi mu, Erina !."


Nada suara memohon itu terdengar jelas. Erina heran dan bingung, dia tidak mengerti. Bukankah rumah tangga kakak nya baik-baik saja ? Keluarga di China pun selalu mengatakan hal itu sampai dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan kakak ipar nya.


Tapi apa ini ? Masalah apa yang tengah terjadi di sana.


Yuma berlalu pergi meninggalkan kedua insan yang masih beradu pandang.


"Jadi dua kali ini kita bertemu, kau sudah tahu siapa saya ? Tentu, kau pasti sudah tahu karena kau bisa melihat jelas wajah ku malam itu dan namaku dari Liam. Benar bukan ?."


Seru Gary. Erina terdiam, dia hanya bisa menggigit bibir bawah nya mendengar suara Gary.


"Kenapa ? Kenapa kau tidak langsung mencari ku ? Meminta pertanggung jawaban dari ku, eum ?." Gary mulai tak sabar, dia ingin mendengar alasan nya.


"Aku takut, aku takut mengatakan nya pada mu. Bahkan hanya untuk melihat wajah mu saja aku takut !." Seru Erina menunduk dan mencengkram ujung sofa.


"Kita tidak saling kenal, tidak pernah bertemu atau berselisih tatap ! Kita orang asing satu sama lain. Lalu katakan pada ku apa yang seharusnya aku lakukan ? Aku bingung, aku takut."


Gary beranjak berdiri, Erina pun reflek menengadah menatap Gary yang ternyata berjalan berputar mendekat pada nya.


"Setidak nya kamu berusaha,"


"Tapi aku juga minta maaf baru bisa mencari mu, maaf aku baru bertanya pada Liam tentang dirimu !"


Gary menarik Erina ke dalam pelukan nya, perasaan bersalah yang berusaha dia leraikan, perasaan bersalah yang terangkai nyata di dalam benak.


"Hikss,,, hikss,, hikss,," Erina terus menangis.


"Ssttt,, ssttt aku ada di sini, tenanglah !." Gary menenangkan Erina sangat sangat tulus.


Pelukan hangat dari Gary begitu membuat Erina nyaman. Baju kemeja yang belum sempat Gary ganti pun basah terkena air mata Erina.


"Kita menikah, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku ! Kau tidak keberatan, bukan ?!."


"Tapi,,,," Erina masih saja berpikir, entah apa yang dia takutkan.


"Tidak mau ?." Seru Gary.


"Baiklah !." Cengir Erina layaknya anak kecil saat ini.


Mereka pun berbincang serius di tambah membicarakan Yuma yang baru saja Gary tahu langsung dari mulut Yuma.


"Aku harus bicara dengan kakak ! Sumpah aku tidak ada niatan seperti itu, aku tidak tahu jika kak Daniel menikahi kak Yuma berlatar belakang balas dendam,"


"Hiks,,, hiks ini semua salah ku, maaf."


Erina kembali menangis, dia tidak menyangka kakak nya akan melakukan hal kejam pada kakak ipar nya. Dia sama sekali tidak tahu, balas dendam itu sangat menguliti hati nya saat ini.


"Bagaimana ini ? Apa yang harus aku katakan pada kakak ipar ? Dia sangat kasihan sekali, hikss hiks bagaimana ini ?!." Erina benar-benar merasa bersalah, karena nya kehidupan Yuma sangat-sangat hancur.


Gary mengepalkan jari jemari nya, rahang nya menegas, dia benci mendapati adik sepupunya kembali tersakiti.


"Yuma wanita yang kuat dan tegar, dia bisa menyelesaikan masalah nya sendiri tanpa bantuan siapapun, dia pun bisa mengalahkan trauma luar biasa di usia kecil sampai usia 25th nya,"


"Aku juga bentuk rasa sakit nya,"


"Kami baru bisa dekat beberapa bulan ke belakang,"


"Tapi seperti yang aku lihat beberapa jam lalu, dia nampak berbeda. Sorot mata nya memperlihatkan jika dia sangat terluka !."


Erina mendengarkan, dia yakin kehidupan Yuma sangatlah tragis, dia tidak tahu banyak, namun dari apa yang di katakan oleh Gary dapat dia simpulkan jika kakak ipar nya itu wanita malang dan juga tegar.


Gary memegang bahu Erina dengan penuh harap. "Terimakasih dan maaf." Ucap Gary.


Erina pun menoleh. "Tidak perlu mengatakan itu, karena kau memang harus bertanggung jawab atas anak ini" Senyum Erina menyepelekan.


Gary menepuk pucuk kepala Erina berulang.


"Siapa ?." Tanya Erina saat handphone Gary berdering.


"Kakak sepupu Yuma yang lain" Ucap Gary langsung menggeser ikon hijau di atas layar.


"Iya ?."


"Gar, Yuma dia hilang ! Dia tidak ada di mana-mana,"


"Maksud mu apa, Xian ?." Tekan Gary, Erina tahu mereka harus berpura-pura.


Awal nya Erina tidak mengerti dengan ucapan Yuma sebelum pergi, namun saat Gary menceritakan semua nya dia pun mengerti. Erina ikut mendengarkan perbincangan mereka.


"Entahlah Gar ! Tadi aku masih bisa menghubungi nya, tapi sekarang handphone nya mati,"


"Keluarga suami nya pun sedang mencari nya. Tadi Shen mencari ku ke perusahaan dan ini kami masih mencari nya ! Di rumah bibi pun, Yuma tidak ada."


Xian terus menceritakan keadaan di sana dengan suara yang terengah-engah, nada khawatir dan lelah.


"Aku pulang, kalian harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya !." Tekan Gary seperti biasa, dia memang kurang suka pada Daniel dari awal pertemuan mereka, namun untuk masalah bisnis lain lagi.


Gary melirik Erina yang tengah fokus mendengarkan.


"Bagaimana ini ? Aku harus bagaimana ? Tidak ada gunanya juga mendesak keluarga Chen begitu saja,"


"Aku yakin ada masalah, Yuma tidak pernah menghilang seperti ini sebelum nya. Gar !."


Xian terus berbicara akan keresahan nya sembari menekan-nekan kening nya.


"Bibi dan paman sudah tahu ?." Tanya Gary.


"Belum ! Keluarga kita belum tahu" Sahut Xian.


"Baiklah !."


Baru saja Gary menutup telpon, Yuma kembali masuk menemui mereka dengan menjinjing berbagai macam makanan di tangan nya.


Atensi kedua orang di sana melohok. Yuma tersenyum malu.


"Tadi aku memeriksa kulkas di dapur dan isinya sangat membuat dompet kakak meronta, jadi jangan melihat ku seperti itu ! Kau sedang mengandung dan bayi yang ada di dalam perut mu adalah anak dari kakak sepupuku jadi tidak ada salahnya bukan jika aku perhatian ?!."


Yuma mengeluarkan semua barang belanjaan nya itu sampai susu ibu hamil pun dia beli.


Erina tertegun, dia menangkap basah senyum Yuma yang begitu tulus. Gary benar, kakak ipar nya itu sangat beda dari wanita lain.


"Besok kita akan pulang." Ucap Gary tiba-tiba. Yuma, dia seketika menghentikan aktivitas nya.


"Kau ikut pulang kan, kak ?." Timpal Erina.


"Sepertinya tidak, Erina ! Kakak akan di sini dulu" Ucap Yuma.


Mereka menatap lekat.


"Tidak apa jika kau ingin di sini, tempati saja kamar hotel kakak ! Kakak akan pulang bersama Erina,"


"Tidak akan lama juga karena Erina masih harus menyelesaikan tugas akhir nya ! Tapi apakah kau yakin dengan keputusan mu ?." Ujar Gary.


"Aku yakin kak,"


"Lagi pula di sana aku tidak sedang ada rencana apapun ! Aku ingin di sini dulu."


Tutur Yuma sibuk menata semua barang belanjaan nya dan menyimpan paper bag isi baju yang dia perlukan untuk ganti.


"Lalu bagaimana dengan kak Daniel ?." Celetuk Erina menguji reaksi kakak ipar nya.


"Dia sudah tidak menginginkan aku lagi, dia terlihat seperti itu !," Ucap Yuma. Entah perkataan yang mana yang harus membuat nya tersenyum namun Erina dan Gary menangkap senyum palsu itu dari sudut bibir Yuma.


"Aku baik-baik saja ! Kalian pulang lah besok, aku akan di sini dulu untuk menenangkan diri. Jangan beritahu siapapun !."


Ucap Yuma.


Gary tidak bisa melarang atau semacam nya, yang dia inginkan hanyalah kebaikan adik nya. Erina pun hanya bisa menghela nafas berat saat ini.


"Kakak menginap saja di sini ya, temani aku" Ucap Erina.


"Lebih baik seperti itu" Timpal Gary.


"Baiklah!" Seru Yuma.