
"Bagaimana kabar mereka ? Kalian hilang bagai di telan bumi ! Apa si kembar sudah menikah sekarang ? Lalu bagaimana yang lain nya ? David sehat ? Waah terlalu banyak yang harus aku tanyakan pada mu, Ed !."
Papa Chen begitu antusias dengan kolega nya itu, mereka berteman baik di awali dengan pertemuan beberapa tahun lalu di Beijing, tepat nya di acara penghargaan.
"Mereka sudah menikah Chen, maaf tak mengundang mu !." Ucap Edward merasa malu dan bersalah.
"Tak masalah Ed ! Aku turut bahagia untuk mereka."
Itulah Chen, dia tidak pernah mempermasalahkan ketidak ingatan Edward seakan sudah tahu bagaimana dengan sikap teman nya itu.
"Chen, bukankah seharusnya di perusahaan induk ya ? Tapi kenapa presdir sekarang menjabat di perusahaan cabang ? Apa kau sedang mempermainkan anak muda itu ?." Edward meraih air dan meneguk nya dengan sekilas dagu nya menunjuk pada Daniel. Edward penasaran dengan penempatan posisi di perusahaan teman nya itu.
"Suka-suka dia saja, toh tidak membuat perusahaan membelit juga kan ? Hahaha, sudah abaikan !." Sahut papa Chen dengan candaan nya.
Daniel dan juga Shen hanya tersenyum hambar saja di hadapkan dengan Edward yang sikap nya sama sekali tidak bisa di tebak.
"Bukan karena ada sesuatu yang sedang di dekati, kan?!." Celetuk Edward sedikit memiringkan tatapan nya pada Daniel.
"Betul ! Tebakan mu memang selalu tepat Ed hahaha, tapi yang harus di dekati itu malah mengundurkan diri dari pekerjaan nya." Papa Chen semakin semangat menimpali setiap duga dan tanggapan dari Edward karena memang entah terbuat dari apa otak Edward yang selalu saja tahu walau dari satu kalimat yang terucap.
"Sangat kentara hahaha." Edward pun ikut tertawa, tertawa mengejek pada Daniel namun tatapan nya tidak ikut berseri, dingin seperti awal menapaki perusahaan Chen.
"Anda bisa saja." Kilah Daniel ikut terlibat dengan percakapan.
"Lalu dia ?." Tatapan Daniel pindah pada Shen yang masih berada di sekitar mereka.
"Dia putra kedua ku, bekerja sebagai asisten pribadi Daniel ! Shen perkenalkan diri mu." Ucap papa Chen.
Shen pun memperkenalkan diri dan berbincang kecil sesekali melirik asisten dari Edward yang sedari tadi menatap kejam ke arah nya seperti seorang bodyguard yang lagi dan lagi menangkap basah musuh yang hendak menyerang.
"Lalu yang perempuan ? Bagaimana kabar nya ? Apa dia masih sekolah di Singapura ?."
Papa Chen terpaku dan melirik Daniel. " Dia ? Oh Erina, dia baik-baik saja dan sebentar lagi lulus, doakan saja untuk nya !." Ucap Chen terlihat heran juga kenapa Edward tahu identitas dari putri bungsu nya.
"Itu pasti ! Jika ada kesulitan kau bisa meminta bantuan ku. Kebetulan Rayzen juga ada di Singapura di kota tempat putri mu kuliah."
" Tuan Rayzen ?."
" Ya dia,"
"Kau juga tahu tempat putri ku kuliah ?." Chen seakan tersedak, Daniel juga Shen pun sama dengan penuturan Edward yang tiba-tiba.
"Kau kenal aku kan, Chen ?!." Edward malah menjawab dengan pertanyaan.
"Uh ? Oh iya hahaha." Chen sedikit menelan ludah nya kasar.
Shen mendelikkan alis nya begitupun dengan Daniel, mereka berdua sangat aneh dengan presdir satu ini.
Mereka berbincang hampir satu jam setengah dengan pembahasan bisnis dan sesekali terselip candaan di setiap perkataan nya.
tok..
tok..
tok..
"Masuk." Ucap Daniel.
"Maaf pak, ada nona Yuma ingin bertemu." Lapor Xena sesaat setelah memberi sapa dengan menundukkan pandangan nya.
Edward tentu memperhatikan sehingga Xena salah tingkah.
"Biarkan dia masuk." Ucap papa Chen.
"Baik, saya permisi." Xena pun kembali ke luar dengan langkah **** nya seakan dibuat-buat.
"Daniel bukankah kau seharusnya menemani Yuma ke butik hari ini ? Lalu kenapa masih di sini ?." Papa Chen sedikit curiga.
"Astaga papa, bukankah tidak akan sopan jika aku ke luar mengabaikan tamu terhormat datang ? Aneh-aneh saja papa ini. Iya kan Shen ?!." Seru Daniel dengan gelengan kepala nya menyertai.
Shen yang mendapat lirikan segera merespon. "Benar sekali kak."
Edward tak ikut terlibat, dia hanya mendengarkan.
"Selamat siang." Sapa Yuma setelah mengetuk pintu yang sudah terbuka sebelum nya. Atensi mereka terundang dan langsung menoleh ke asal suara.
"Kakak ipar" Pasti saja itu adalah suara Shen yang menerobos ke sela oksigen yang berada di ruangan. "Wah kebetulan aku sangat lapar ! Kau memang terbaik hahaha." Shen menghampiri Yuma yang masih berdiri di dekat pintu dekat dengan berdirinya asisten dari Edward.
"Tentu saja ! Ini aku bawa makan siang double, untuk mu dan untuk Daniel." Senyum yang terukir, gerakan tubuh dan juga mimik serta ekspresi begitu tulus dan lembut, Edward melihat itu dari Yuma.
"Shen diam, jangan ganggu kakak ipar mu." Tegur Daniel.
"Ciee sudah berani , mentang-mentang sudah mau sah hahaha." Gelak tawa Shen begitu keras dan juga memekik ruangan.
"Shen." Papa Chen menegur, menimpali ucapan dari Daniel.
"Biarkan dia duduk dulu, lihatlah pipinya merona karena kelakuan mu." Lerai nya.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat ! Jika begitu aku pulang saja, Daniel." Ucap Yuma canggung.
"Jangan lewatkan makan siang mu." Yuma meraih wajah Daniel dan mengusap nya lembut.
"Tidak ! Kita makan siang bersama." Tolak Daniel. "Pa, tuan Edward saya tinggal sebentar tidak masalah bukan ?!." Ucap nya.
"Pergilah !."
"Tidak masalah, Chen junior !." Timpal Edward.
Shen tidak percaya dengan panggilan dari Edward untuk kakak gila nya.
"Tapi pa."
"Ayo sayang." Daniel begitu memperlihatkan kecintaan nya pada Yuma dengan kini merangkul pinggang Yuma dengan erat.
"Shen kau juga makan siang dulu sana. Bareng saja dengan kakak mu." Usir Chen dengan melambaikan kedua tangan nya.
"Dengan senang hati papa."
...**...