Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 116


"Kak, benar ngga mau ikut ? Kita mau lanjut ke karoke, ikut yuk!" Ajak Olive, asisten nya du dunia permodelan.


"Iya kak"


"Iya kak ayo kita karokean yuk!


Yang lain nya terus membujuk satu persatu sampai gebrakan meja menghentikan mereka.


Brak..


Kecil tapi nyaring. Xiao Lin berdiri di atas kursi setelah memukul kecil meja di depan nya. Kedua tangan nya menyilang tanda tengah merengut tidak terima.


"No, mama akan pulang sekarang. Lihatlah mama ku lelah, benar kan ma ?!" Cebik Xiao Lin begitu menggemaskan.


"Ampun Lin-Lin"


hahahaha


Seperti raja yang tengah marah, rakyat pun hanya bisa bersujud meminta maaf.


"Kami pulang duluan karena aku harus segera berangkat sore ini"


"Siap ! Apa perlu aku antar ke bandara nya ?" Ucap Olive.


"Tak perlu, kau bersenang-senang lah bersama teman-teman mu selama aku pergi, tapi jangan lupa pekerjaan juga" Jelas Yuma.


Liam dan Xiao Lin hanya mendengar tanpa mereka mengerti seperti orang bodoh.


"Bye" Pamit Yuma lalu saat hendak meraih tangan putra nya dia kembali diam dan menyelidik. Liam pun dia tatap sehingga bergantian menyelidik


" Ayo pulang, kita terbang ke China sore ini dan kau juga akan ikut ! Bukankah nyonya Lee belum ada kabar mau pulang, kan ?!"


Kedua kepala laki-laki itu Yuma acak kasar bersamaan. Tidak ada respon, mereka masih diam mencerna perkataan Yuma saat ini.


"Ayo cepat, jam tiga kita berangkat"


Kaki jenjang itu melenggang pergi meninggalkan dua orang yang baru tersadar.


"Paman"


Dengan senyum sumringah, Xiao Lin jingkrak-jingkrak di atas sofa.


"Lets go"


Liam pun ikut semangat, dia menggendong Xiao Lin di punggung nya lalu mengejar Yuma yang sudah tidak nampak.


...**...


Di China, semua media televisi, reporter dan juga pihak-pihak dari dunia cetak sedang bersiap untuk acara pers malam ini.


Tidak ada yang tidak sibuk dengan persiapan karena pers itu terbuka untuk semua nya sesuai yang di katakan oleh Shen waktu lalu.


Dalam sejarah Chen Group baru kali ini ada kasus percintaan terlarang. Untuk itu jika mereka memuat berita tentang Daniel Chen pasti akan trending.


Sedangkan Yuwen dan juga asisten nya bersiap, karena dirinya pun akan datang mendampingi Daniel. Bukan karena dorongan sendiri melainkan undangan dari Daniel sendiri membuat nya senang dan besar kepala tanpa mengetahui maksud dari undangan Daniel padanya.


"Sebentar lagi, sedikit lagi Yuwen !" Batin nya bergemuruh hebat, dia yakin bisa mendapatkan Daniel sekarang sambil menatap bayang yang memantul dari cermin di depan nya.


Di kantor, Daniel terlihat masih bekerja seperti biasa nya seolah tidak terjadi apa-apa bahkan Shen pun yang notabenenya orang yang mengumumkan jadwal konferensi pers pun tengah bekerja seperti biasa nya.


Tidak hanya mereka, semua staf di perusahaan pun bekerja seperti biasa nya, tidak ada yang aneh seolah semua nya sudah di setting dengan rapih.


"Maaf ada yang bisa kami bantu pak ?" Ucap resepsionis itu dengan sopan sesaat setelah memberi salam.


"Oh ! Dokter Arya ada di sini ? Silahkan langsung ke ruangan pak Daniel saja" Timpal resepsionis senior yang baru saja sampai di depan meja, kembali dari kemar kecil.


Resepsionis itu sepertinya anak baru, untuk itu dia tidak mengenali Paman dari bos nya.


Arya hanya memamerkan senyum nya. "Baiklah saya permisi kalau begitu" Pamit nya masih meninggalkan bekas senyum manis di meja resepsionis.


...**...


Tok


tok


tok


"Masuk"


Teriak Daniel dari dalam dan kebetulan Shen pun ke luar dari ruangan pribadi nya.


"Paman kau—" Tunjuk Shen namun Arya lebih dulu menarik nya agar ikut masuk.


"Paman ada hadiah untuk kalian" Bisik Arya di telinga Shen. Pintu pun di buka, Dokter Arya dan juga Shen pun masuk.


Paman yang usia nya tidak beda jauh itu benar-benar masih terlihat muda dan tampan.


"Paman kau sudah ada hasil nya ?."


Daniel berdiri, tidak sabar langsung mendekati paman nya yang di mana dia yang bertanggung jawab atas pemeriksaan Yuwen waktu lalu.


"Ini" Sodor nya setelah membuka koper kecil dan mengeluarkan amplop putih berisi secarik kertas yang mungkin pernyataan yang tertera di dalam nya akan meruntuhkan mental seseorang, tapi mungkin juga akan memberi keuntungan bagi pihak terkait.


Sunggingan salah satu bibir Daniel perlahan terulas saat kedua bola mata menyusuri setiap tabel dan kata sampai di mana huruf tebal mengentikan bacaan nya.


"Tentu saja negatif ! Kau tenang sekarang ?" Ucap Arya menuangkan air di meja sofa yang telah tersedia.


Srett


Shen merebut sedikit kasar kertas itu dari Daniel.


"Aku lihat" Ujar nya.


"Tch tch tch kasihan sekali Yuwen kita ini ! Dibilangin keras kepala sih. Malu kan nanti nya !." Ledek Shen kembali melipat kertas itu seraya melempar senyum maksud pada Daniel.


"Kau sudah temukan dokter yang membuat laporan hasil DNA itu ?" Tanya Daniel.


"Sudah kak tenang saja, nanti malam akan kita sertakan bersama bukti kuat ini dan aku sudah mengundang Yuwen di konferensi pers ! Kita lihat apa yang akan kucing liar itu lakukan"


Ketiga pria itu nampak tidak sabar dengan acar malam nanti.


"Hufhhh apa kabar dengan Yuma ? Sshh tiba-tiba saja aku merindukan nya"


Ucap Dokter Arya tiba-tiba membuat suasana beku seketika. Photo di meja Yuma dia pandang dengan tidak sengaja, Shen menatap bergantian Kakak dan juga Paman nya.


"Ah Paman hahaha kenapa tiba-tiba mengatakan itu" Tukas nya gugup, melirik Daniel tidak enak sampai dia ingin sekali ke luar dari ruangan kakak nya sekarang juga.


Daniel diam, dia kembali duduk di ujung meja nya seraya menatap ke liar dinding kaca yang memperlihatkan bangunan-bangunan kokoh di atas tanah kota China.


"Baiklah kalau begitu Paman ada jadwal operasi ! Semoga semua nya lancar"


Dokter Arya beranjak berdiri, mendekati Daniel dan kemudian menepuk nya sebagai tanda semangat untuk keponakan tersayang nya.


"Shen, ayo!" Seru Dokter Arya mengkode Shen untuk ikut ke luar.


"Uh ? Oh iya iya"


Pintu kembali tertutup dengan Arya juga Shen tak lagi berada di ruangan Daniel saat ini.


Daniel menoleh sejenak lalu kemudian duduk di kursi kerja nya. Tangan nya meraih photo di atas meja, menatap penuh rindu.


Tangan kanan nya menarik laci dan mengambil sebuah kertas yang masih sama seperti pertama di temukan. Ya, surat gugatan cerai yang telah di tandatangani oleh Yuma waktu itu dan juga secarik kertas lain yang juga warna nya belum sama sekali luntur.


"Di mana kamu, eum? Apa kau sehat ? Kau baik-baik saja bukan ? Yuma ini sudah lima tahun dan kau masih tidak ingin kembali ? Setidak nya kembali dulu walau kau sudah bahagia dengan pria lain, aku hanya ingin melihat wajah mu. Aku merindukan mu"


Batin Daniel bergemuruh, setiap menatap bingkai photo itu, setiap kata rindu akan ke luar bersamaan dengan rasa sesal di dadanya.