Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 105


"Yuma"


"Ya?." Respon nya cepat.


Yuma yang tengah merapihkan kasur dan meja nampak langsung menghentikan aktifitas nya, dia menoleh dengan ekspresi bertanya.


Daniel dari duduk nya terdiam, dia memperhatikan wajah Yuma sejenak.


"Sini duduk dulu"


Daniel menepuk-nepuk sofa di samping nya. Yuma membulatkan kelopak mata nya masih bertanya-tanya. Lengannya mengantungkan handuk putih sehingga menjuntai di tulang kering tangan nya.


"Tidak panas"


"Apa perut mu sakit lagi ? Mau muntah ? eneg, mual-mual kah ?"


Tidak, tidak sedikit. Perhatian Yuma beberapa hari ini membuat Daniel tenggelam, dia sampai lupa kesalahan yang di buat nya sampai sikap istrinya itu nampak alami sehingga dia mengira tidak ada lagi kemarahan.


"Kenapa diam ?,"


"Daniel katakan sesuatu ! Eumm, apa perlu aku panggilkan paman Arya untuk segera mengecek keadaan mu ?."


Daniel masih terdiam, bola mata nya terus bergerak menggerayangi setiap sudut mata Yuma.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja !."


Daniel menahan Yuma yang hendak berdiri.


"Yuma" Ucap nya kembali.


"Eum ?." Sahut Yuma sedikit menjauhkan duduk nya mencoba untuk menatap Daniel dengan jelas.


Kedua bola mata itu tak lepas pandang, masih mengikat binar mata Yuma agar tak terpencar kemana-mana.


"Aku mencintai mu"


Ungkap Daniel, dia kembali mengulurkan tangan nya, meraih pipi Yuma dan mengusap nya dengan lembut. Yuma tertegun dan kemudian membalas dengan senyum merekah nya.


"Aku tahu"


Giliran Yuma yang menjawab cinta pasangan nya hanya sebatas dengan kalimat itu. 'Aku tahu' kalimat yang begitu ambigu, tidak hanya di pendengaran tapi juga dalam otak. Banyak arti namun dua jawaban yang pasti yaitu antara 'YA' dan 'TIDAK'.


Daniel bukan tidak curiga sepertinya, tapi dia menjaga dan menahan agar rasa takut nya tidak menjadi nyata. Dia membiarkan rasa tahu nya membias seiring berjalan nya waktu, lebih tepat nya dia takut, takut jika bicara.


Seorang pengusaha, mana ada tidak dapat membaca gerak gerik lawan nya, dia mengerti dan dia paham tapi Yuma bukan klien nya. Wanita di hadapan nya adalah istri nya, dia belajar menahan agar rasa kehilangan tidak lagi mengurung dan membelenggu dirinya.


Dan pada akhir nya, keras kepala nya, dingin nya, kasar nya, acuh nya dan cerdas nya seorang Daniel Chen kalah, kalah oleh setangkai bunga yang bahkan batang nya tidak berduri. Di tambah sikap Yuma yang begitu membuat nya semakin gila.


"Kau tahu ? Sshh apa mungkin sekarang ekspresi ini begitu kentara ?!." Ujar Daniel dengan senyum nya walau di taburi dengan beribu-ribu pertanyaan.


"Sangat kentara! Mata mu, gerak tubuh mu dan semua yang ada padamu memperlihatkan jika kau mencintai ku dengan nyata,"


"Aku tidak bermaksud menggoda mu tapi itu kebenaran nya ! Lihatlah bahkan jari jemari mu pun ikut menyatakan cinta pada ku"


Lirik nya pada jari jemari Daniel yang sesekali mengusap pipi Yuma lembut.


"Psikolog pun kalah oleh mu ! Kau tahu profesi mereka untuk apa ? Aku tidak yakin mereka benar-benar mengerti klien nya, ya lihat saja sekarang di depan ku ! Nona yang bahkan tidak ada riwayat belajar psikolog tapi sangat tahu dengan detail sekecil apapun pergerakan jari jemari lawan nya, dia akan langsung mengerti."


Goda nya


"Jatuh nya kau membanding-banding kan jika seperti itu!,"


"Tentu saja mereka seorang ahli, jika bukan tidak akan mungkin bisa buka tempat praktek sendiri dengan bantuan hanya oleh beberapa orang saja ! Kau ini ada-ada saja"


Sekilas tersenyum, Daniel menarik Yuma ke dalam pelukan nya.


"Terima kasih"


Deug!!!


Jantung Yuma tertegun, jantung nya seakan berhenti berdetak. Hatinya meringis. Bagaimana dia akan menghadapi suami nya, surat perceraian sudah siap dan dia pun sudah memegang nya.


Pengacara Ma, sudah memberikan nya sebelum pelaksanaan pernikahan Gary dan Erina dan dia pun sudah menandatangani nya tinggal Daniel, setelah itu selesai, dia tidak akan ada hubungan apapun lagi dengan Daniel juga keluarganya.


...**...


Malam hari, Yuma tengah membantu menyiapkan makan malam untuk keluarga bersama dengan pengurus rumah. "Bi, nanti tolong berikan Daniel makanan yang sehat-sehat ya !" Ucap Yuma tiba-tiba sampai bibi itu terbengong, mencerna kalimat yang terlontar.


"Memang nya nona mau kemana ? Ah— itu maksud bibi kenapa nona bicara seperti itu ? Tentu saja bibi akan memasak yang tuan Daniel suka seperti biasa nya," Tutur nya gagap.


"Aku hanya asal bicara saja bi," Ujar Yuma kembali melanjutkan menuangkan masakan nya ke piring.


Bibi itu hanya menatap lekat dengan segala kecurigaannya.


"Ah iya iya" Jawab bibi itu.


Semua anggota keluarga pun makan malam seperti biasa, kebahagiaan mereka begitu berlipat dari pernikahan Erina dan kembali nya Yuma. Shen, dia kembali bisa bercanda gurau setelah melewati badai gurun yang reda.


Di suasana lain, Erina dan Gary tengah berada di hotel, mereka nampak tidur dengan lelap dengan Erina tidur telentang dan Gary miring.


...**...


"Kakak Ipar"


"Iya Shen ?" Yuma menoleh reflek saat Shen menepuk pundak nya dari belakang. Yuma meletakan dahulu tas milik Daniel di atas sofa.


Shen, dia bahkan belum mandi dan masih mengenakan piyama berwarna Navy.


"Kau belum siap-siap ? Bukan kah ada rapat hari ini ? Tadi Daniel mengatakan itu dan itu—"


Belum juga mengatakan sampai selesai, Daniel sudah muncul dari arah tangga.


"Bagaimana dengan persiapan nya ?." Daniel mendekat dan melewati Shen dan langsung duduk.


"Sudah matang, aku dan papa akan berangkat ke kota F jam delapan ! Mereka sepertinya tidak sabar untuk terus menekan kita kak, untuk itu mending di awasi dari dekat."


Yuma mengecek jam di tangan nya. "Lima belas menit lagi jam delapan, 'Shen!." Seru Yuma.


Sang pemilik nama pun reflek mengecek jan di tangan Daniel.


"Mati aku ! Tadi di kamar ku masih jam setengah tujuh, apa jam nya mati ya ?!." Cengir nya beringsut berdiri dan berjalan cepat ke arah kamar nya.


Yuma pun duduk, lebih berjarak dengan Daniel. "Mama ikut ?" Tanya Yuma.


"Ikut"


"Owh"


Yuma mengangguk paham, jika begitu di rumah akan sepi jadi dia bisa pergi dengan lapang. Bukan tidak berani berkata, namun dia hanya tidak bisa menatap mata mereka satu persatu. Jika itu terjadi maka hati nya akan goyah dengan rencana yang sudah di putuskan.


"Istirahat lah di rumah, beberapa hari ini kau terlalu sibuk dengan urusan mu sampai lupa dengan kesehatan mu ! Aku akan pulang lebih cepat hari ini dan aku tidak mau mendapati mu berada di luar apalagi di toko kue."


"Iya aku tahu" Ucap Yuma, namun tidak dengan hati nya.