
Kemarahan Daniel tidak tertahan kan, pria itu semakin tidak tersentuh kala Xena lagi dan lagi menggoda nya.
Xena, dia seperti wanita yang begitu menjijikan dan kini dia kena amukan dari Daniel.
Ruang kantor itu benar-benar sudah hancur, Shen pun kecak pinggang sesekali memijit kening nya, Bingung dengan sikap kakak nya.
"Kak, bukan kah kau sudah berjanji tidak akan seperti ini lagi ?!." Seru Shen, dia bersikap seperti seorang adik sekarang, bukan sebagai asisten Daniel.
Tatapan tajam Daniel mengintimidasi, luka-luka di tangan nya seakan tak dihiraukan. Wajah Daniel benar-benar tegas seolah sisa kemarahan masih ada di sana.
"Tch, ayo aku antar pulang"
Shen membenarkan name tag yang ada di atas meja kerja Daniel. Daniel berdiri dan menanggalkan jas nya, berjalan mendahului Shen menuju pintu ke luar.
Tatapan Daniel lurus, sejalan dengan arah yang hendak di tuju. Tidak mendapati Xena di meja kerja nya dan ternyata dia sudah pergi dari kantor setelah di bawa pergi dari ruang kerja Daniel.
Tepat nya di bawah, tatapan tanya dari para staf di lempar pada Xena karena penampilan nya yang mengenaskan.
Langkah Xena di percepat sehingga akhirnya berhasil ke luar dari pintu lobi. Sedangkan Daniel menatap marah dari lantai atas setelah ke luar dari Lift.
"Ayo" Ucap Shen saat keberadaan Xena tak terlihat lagi. Daniel pun menuruni beberapa anak tangga.
Dari lantai atas sampai lantai bawah, tidak ada yang tidak memperhatikan bos mereka. Keadaan mengerikan dari wajah bos nya mengganggu mata dan pikiran mereka sehingga bisik-bisik pun ke luar dari mulut para staf.
Jingyi yang kebetulan dari kafetaria tak sengaja melihat mereka dan langsung berlari ke kantor nya.
Brak..
"Berita panas woi,,, "
"Astaga Jingyi"
Protes Wufan yang hampir terdorong pintu masuk kantor. Jingyi heboh, untung saja kopi yang ada di tangan nya tidak tumpah.
"Hoshh... hoshh.. hosh.. ! Guys itu pak direktur benar-benar menyeramkan, astaga aku di buat merinding,"
Jingyi terus mengatur nafas nya karena tadi berlari. Levon dan Lao-Da pun fokus mendengarkan begitupun denhan Wu-fan.
"Berita hangat ini ! Ada apa ? Tidak biasa nya kantor gempar dan kau biasanya tidak berani bergosip tentang si bos dingin itu ?!"
Laoda, dia seakan tengah memancing ikan dan menunggu tangkapan besar hasil upaya nya. Dia sangat-sangat antusias.
"Itu tadi, waahh amazing ! Kalian tahu, itu wajah dia,,, waaah hancur, rambut berantakan, mata sembab dan baju berantakan"
"Itu loh si Xena ! Wanita penggoda itu meninggalkan kantor dengan penampilan yang mengenaskan,"
"Dan tidak lama pak Bos turun ! Kalian tahu bagaimana keadaan nya ? Ssshh wah wah sepertinya ada terjadi di kantor atas,"
Mereka mendengarkan apalagi Levon yang hanya merapatkan mulut nya.
"Xena ?," Ucap Wufan
"Yaps dia" Angguk Jingyi membenarkan.
"Momen nya terlalu bersamaan dan jika diterka pun mereka ada masalah !,"
"Tapi jika ada masalah, masalah apa ? Paling-paling si Xena berusaha menggoda nya lagi, tapi pak Bos malah jadi kesal jadi dia ngamuk karena mengingat hubungan nya dulu dan malah sekarang sudah punya istri, "
Tutur Wufan seakan tengah mengamati...
"Dugaan mu pasti benar, Fan!" Tukas Jingyi.
"Tapi Yuma bagaimana ? Aku aneh deh ! Kenapa juga dia membiarkan si Xena itu berada di sini ? Aku yakin Yuma tahu untuk itu dia memberitahu siapa si Xena itu pada kita" Timpal Lao Da.
Memang aneh, mereka jadi berpikir apakah Yuma bodoh atau polos membiarkan masa lalu suami nya kembali dekat ? Kalua masalah pekerjaan oke fine, tapi apa dia tidak takut jika mantan kekasih nya itu melakukan berbagai cara untuk menggoda nya kembali ?.
"Dia Yuma, kita tahu bagaimana dia ?!." Levon pun bersuara menanggapi. Mereka bertiga sejenak meresapi kalimat Levon namun akhirnya paham
"Haisshh, dia terlalu baik" Ujar Jingyi manyun sambil duduk di tempat nya.
...**...
"Shen, ke apartemen !" Ucap Daniel. Shen diam sejenak di sela mengemudikan mobil nya, melirik Daniel dari kaca spion depan yang menggantung.
Ekspresi Daniel mulai melembut tidak seperti tadi.
Tiga puluh menit mereka pun sampai di apartemen dan langsung bergegas naik ke atas.
"Kak, aku harus kembali ke perusahaan ! Kau istirahatlah!"
Daniel menjatuhkan tubuh nya di sofa dan Shen pun kembali pergi dari apartemen setelah melihat langsung Daniel memejamkan mata nya dengan tangan kanan menumpu di atas mata.
Tidak ada jawaban dari Daniel, dia benar-benar senyap. Handphone Daniel pun berdering, dia pun merogoh dari saku nya.
Pegangan Daniel pada handphone nya semakin mengerat seakan tengah menerima informasi dari detektif yang dia bayar untuk mencari Yuma.
"Terus cari ! Jika tidak ada hasil kalian akan tahu akibat nya!." Ancam Daniel benar-benar tidak bisa mengontrol lagi.
Prakk..
Handphone itu kembali dibanting sampai layar nya pecah tak berbentuk.
"Yuma kau di mana, sayang?!." Suara itu benar-benar pedih. Keringat di kening nya seakan benar-benar kelelahan, kedua alis nya pun terus menaut sampai urat di sekitar kening menonjol.
Pria itu pun duduk mengepalkan tangan nya sampai darah dari jari jemari pun kembali ke luar.
Bar kecil yang ada di apartemen itu menjadi tempat tujuan Daniel sekarang. Di rak tertata rapih wine-wine berbagai merek dan satu botol merek wine kesukaan Daniel menjadi teman nya sekarang.
Tidak menggunakan gelas, tapi Daniel meminum langsung dari botol nya.
Tenggorokan pria itu seakan tengah kehausan, terus dan terus meneguk sampai habis.
Ukhu.. ukhu.. ukhu
Saking tak ada jarak meneguk membuat dia tersedak.
"Arrghhhh" Teriak Daniel.
Prangggg......
Gelagar suara botol pecah memekakkan seisi ruang bar kecil.
"Yuma maafkan aku"
Lagi, Daniel kembali mengucapkan kalimat yang sama setelah terakhir kali sadar saat itu di hadapan Shen. Sepertinya efek tadi di kantor di tambah wine yang membuat dia halusinasi.
Hening, di dalam apartemen hening. Daniel, dia memegang botol wine yang kesekian, kepala nya tergeletak di atas meja bar, dia tidak sadar.
Jika hitung sudah ada lima belas botol yang sudah dia minum habis isinya.
"Ukhu... ukhu.. ukhuuu" Daniel terus batuk, mengangkat kepala nya sangat berat, tidak bisa lagi.
Wajah nya merah seperti rebusan udang, jari jemari nya bergetar.
Pranggggg....
Botol Wine yang dia pegang jatuh, tangan nya tidak sanggup lagi menahan beratnya botol itu.
ukhu... uhku... ukhuu.
Daniel terus batuk. Brugh.....
Dia terjatuh, tergeletak ke atas lantai dengan tidak berdaya nya.
"Arghhh" Daniel meringkuk menekan perut nya yang semakin sakit. Tenggorokan nya pun mendadak panas.
Ukhu... ukhuu..
Batuk dan deru nafas tidak teratur, keheningan yang mencekam itu seakan menyayat. Kesalahan yang besar itu benar-benar membuat dia teramat sangat menyesal dan akhirnya memilih menyakiti diri sendiri.
Bibir nya memucat dan terus bergumam, memanggil nama 'Yuma' untuk kesekian kali nya.
Sayup-sayup suara itu mulai hilang, di gantikan dengan udara hampa. Pria itu tidak sadarkan diri, tergeletak sendirian tanpa ada yang mengetahui.
Dulu penyebab pria itu menderita akibat di tinggal sang kekasih demi karir dan juga laki-laki lain dan hal itu membuat Daniel merasa di khianati dan lebih dari itu sehingga hatinya membeku.
Namun sekarang dia menderita, dia sakit, karena ulah nya sendiri. Keputusan yang awal nya di kira akan membuahkan hasil sesuai perkiraan tapi nyata nya peluru itu malah berbalik menyerang nya, tembus semakin dalam dan mungkin seinchi lagi menembus jantung nya.