Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 89


Resepsionis yang mengantar Yuma pun berhenti di depan meja sekretaris dan memberitahu jika tamu yang bersama nya hendak bertemu dengan pak Liam.


Sekretaris itu mengamati Yuma dari atas sampai bawah, begitu menyelidik entah apa maksud dari tatapan nya itu. Segera setelah puas, sekretaris itu pun mengetuk pintu.


tok


tok


tok


"Maaf pak, nona Yuma sudah datang !"


Ketukan terdengar, Liam yang berada di dalam pun mempersilahkan untuk masuk. Pria itu menutup berkas dan meletakan ballpoint nya kala mendengar nama tamu yang ingin bertemu.


"Silahkan" Ucap sekretaris itu pada Yuma. Yuma mengangguk paham dan masuk melewati sekretaris itu dengan sopan.


Liam berdiri, dia menyambut senang kedatangan Yuma.


"Selamat pagi, cantik" Sapa nya dengan nada nakal seperti biasa kala menyapa wanita yang dia kenal.


Yuma menaikkan satu alis nya persis seperti Gary kala bertanya apa maksud dari ucapan lawan nya.


"Uh ! Hahahaha bercanda-bercanda ! Ayo silahkan duduk !,"


"Mau minum apa ?" Lanjut Liam bertanya setelah Yuma duduk.


"Tidak perlu, tidak perlu ! Sudah duduk saja dengan ku" Tolak Yuma mengangkat tangan nya di udara mengkode agar Liam duduk saja.


"Aey sshhh tidak apa Yuma ! Mau minum apa, biar aku buatkan ?!." Liam kekeh menawari minum.


"Liam tidak perlu" Tekan Yuma namun dengan topeng senyum. Pria di depan nya sangat pecicilan menurut Yuma, tingkah nya mirip dengan teman-teman nya di kantor dulu.


"Okey menurut saja !" Seru Liam patuh dan duduk berhadapan dengan Yuma.


"Jadi apa ada yang bisa aku bantu ? Lebih baik seperti itu agar aku sebagai teman kakak mu ini berguna !" Celetuk nya kembali.


Yuma berpikir sejenak sebelum mengawali perbincangan nya, menatap Liam sesekali dan memainkan jari jemari nya.


"Baiklah aku tidak akan sungkan lagi pada mu ! Aku panggil Liam saja seperti yang kau mau !" Ujar Yuma berbicara akrab sekarang.


"Nah itu, mending memang seperti itu hahahaha !" Telak nya sambil tertawa seakan kesempatan ini jarang dia temui.


"Pagi ini ada janji dengan pemilik toko kue di Jl. xx. Toko nya akan di jual dan aku berniat untuk membeli nya ! Kemarin kami sudah menyepakati harga, aku bayar dua kali-lipat dari harga jual dan sudah deal"


"Masalah nya uang cash yang aku miliki tidak sebanyak itu, harus di tukar dulu ke dollar singapore,,,,, "


Yuma menjelaskan niat nya, Liam mendengarkan dan memperhatikan. Pria itu mengerti ke arah mana alur pembicaraan Yuma untuk itu dia menukas nya lebih dulu.


"Oke oke aku mengerti," Liam memotong pembicaraan, Yuma pun berhenti berbicara.


"Hotel ini ada pelayanan penukaran uang. Di lobi sudah tersedia mesin ATM nya, kau tidak tahu ?!" Seru Liam menatap tidak percaya, bertanya-tanya apakah wanita di depan nya itu begitu polos ?.


Yuma merasa baru tahu, alis nya menaut sempurna.


"Benarkah ? Aku tidak tahu!"


"Ada !," Seru nya.


"Di sini sudah lengkap ! Semua fasilitas sudah tersedia semua. Untuk mempermudah pengunjung asing agar tidak bingung menukar mata uang, jadi kami menyediakan pelayanan itu!" Tutur Liam kembali menjelaskan.


"Sekitar S$47.000 maksimal nya" Sahut Liam. Yuma merespon lesu.


"Masih kurang, aku beli di harga S$94.000 !." Tukas Yuma.


"Apa ? Sebesar itu ?" Liam benar-benar kaget, dia sebagai seorang pengusaha merasa di perdaya akan angka yang di sepakati, karena berpikir toko kue tidak semahal itu untuk di perjuangkan.


"Kenapa ? Jika tidak mau membantu ya sudah tidak perlu !" Cebik Yuma.


"Eh ? Ehh mau kemana ?." Liam berdiri kala mendapati Yuma beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi, untuk itu dia menahan nya.


"Pergi,"


Ucapan Yuma terdengar merajuk sampai Liam perlahan membulatkan binar mata nya.


"Lepas Liam" Tepis Yuma lumayan kasar, matanya seperti memperingati jangan menyentuh nya.


"Aku bantu, seperti ucapan ku akan akan membantu mu ! Ayo aku antar. Kemana kita pergi nya ? Kau tunggu di lobi, aku akan bawa mobil dulu" Seru Liam dengan cengiran kikuk nya.


"Eum" Sahut Yuma berlenggak pergi lebih dulu ke lobi dengan langkah berseri.


Sampai di depan pintu lobi Yuma sampai dan bersamaan dengan itu mobil yang di kendarai Liam pun berhenti tepat di depan.


"Ayo masuk" Ucap Liam.


Yuma pun masuk dan duduk di samping Liam. Satpam di depan dan juga resepsionis di sana pun tak luput memperhatikan karena selain Erina tidak ada wanita yang bisa mendekati bos mereka.


"Di mana alamat nya ?." Tanya Liam celingak-celinguk ke luar jendela pintu mobil.


"Itu Jln.xx, kau tidak tahu ? Masa tidak tahu, kan itu tempat nongkrong anak-anak muda ?! tempat pedagang kaki lima juga ada di sana, kau tidak tahu juga ?."


Ekspresi Yuma benar-benar membuat Liam terkejut, sikap dan juga mimik wajah nya berbeda sangat drastis, membuat jantung Liam berdetak begitu saja.


"Tidak tahu ?." Tanya Yuma kembali. Liam tersadar.


"Tahu, tapi toko nya di sebelah mana ?! Aku bertanya takutnya tidak bisa masuk mobil, jadi kita cari tempat parkir dulu ! Di sana setahu aku jalan nya lumayan sempit, masuk satu mobil saja. Iya kan ?!" Bela nya, dia membela dirinya sendiri dan mengalihkan tuduhan Yuma saat ini.


"Masuk kok,"


"Itu di depan belok kiri" Ucap Yuma menunjuk jalan di sebelah kiri yang lumayan lebar.


Liam pun sen-sen kiri lalu belok sesuai arahan. "Mana?" Seru nya.


"Jalan saja dulu !," Ujar Yuma membenarkan duduk nya. Liam pun fokus menyetir.


Saat masuk ke sana di kira jalan itu akan sempit dan macet, namun ternyata tidak. Liam baru pertama kali masuk ke sana, ternyata tempat kuliner dan juga toko-toko bervariasi penjualan nya.


"Berhenti di depan saja" Tepuk Yuma pada lengan Liam sedangkan tangan lain menurunkan kaca, bersiap untuk membuka pintu saat toko kue yang akan dia beli sudah terlihat.


Liam merespon tepukan Yuma, melirik dan bersamaan denhan itu menginjak pedal rem.


"Ini ?." Tanya Liam.


Yuma mengangguk dan bergegas turun dari mobil dan tepat saat pintu mobil terbuka, pintu toko kue pun terbuka dan Yuma menangkap keberadaan pemilik toko.


"Lǎobǎn !" Sapa Yuma melangkah mendekat. Sang pemilik toko pun menyambut dengan hangat.


"Ayo masuk masuk" Seru nya mempersilahkan masuk begitupun pada Liam. Jas yang membalut tubuh Liam membuat sang pemilik toko segan.