
...***...
"Awshhh"
Begitu saja tanpa ada firasat apapun tangan Yuma terluka hanya oleh seutas benang baju nya yang hendak dia rapihkan.
"Kenapa kenapa ?." Kaget Liam, dia langsung menghadap pada Yuma di sela langkah nya.
Setelah makan-makan bersama dengan karyawan toko kue, Yuma dan Liam pun jalan-jalan dulu sebentar di sekitar area taman kota dekat dengan kafe yang baru saja mereka kunjungi.
"whooohh....whooohh !!"
Yuma mengibas-ibas kan jemari nya dan meniup nya sesekali.
"Coba sini lihat !." Liam menarik tangan Yuma dan memeriksa nya. "Lumayan dalam" Liam pun ikut meniup luka itu reflek sesekali berdesis ngilu dengan luka itu.
Yuma memperhatikan, melihat lekuk wajah Liam dengan seksama. Semburat senyum halus pun terlukis dari kedua sudut bibir Yuma.
"Sudah, tidak apa !" Tarikan tangan Yuma membuat Liam melohok karena dia pun baru sadar akan posisi nya, terlihat seperti tengah menggoda seorang gadis saat ini.
"A'ah maaf maaf !." Seru Liam kembali memberi jarak.
"Tidak menyangka, kau begitu semangat setiap aku melihat ! Apa ini memang kepribadian mu ? Di usia matang biasanya pria akan cenderung bersikap cool dan tebar pesona tapi kau malah sebalik nya ! Ssshh pecicilan kali ya bahasa nya"
Ujar Yuma dengan candanya. Liam malu, dia kikuk sampai harus menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal itu.
"Untuk itu ibuku lebih menyukai Gary dari pada putra nya hahahaha"
Perkataan yang konyol namun terkesan iba sampai Yuma tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Tidak buruk juga ! Bukan kah kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luar nya saja ? Aku yakin kau pria yang luar biasa. Buktinya hotel itu sukses maju saat kau yang memimpin!!."
Tukas Yuma dengan sanjungan dan juga empati tinggi, berusaha tidak semakin menenggelamkan seseorang di saat orang itu sudah tenggelam oleh sendirinya.
"Hahaha mantap ! Sepertinya hanya kau yang mengerti aku" Ujar Liam menepuk pundak Yuma kilas dan kembali melangkah pergi.
"Haey bisa bisa nya dia malu seperti itu" Yuma malah geli dengan tingkah Liam.
Kota yang kini di pijak oleh Yuma salah satu tempat yang ramai namun tidak membuat keamanan melonggar di sana, bisa di sebut kota itu salah satu kota teraman dan ternyaman bagi orang yang memasuki nya.
Lelah dengan aktifitas seharian, Yuma di antar pulang sesekali bercanda gurau di dalam kabin mobil. Terlihat sekarang mereka tidak canggung, apalagi Liam, pria itu tidak berhenti saat Yuma cuek di awal bertemu.
"Tidur saja, nanti di bangunin kok pas sampai ! Santai saja ngga akan aku bawa kabur hahaha" Seru Liam melirik Yuma yang tengah menahan kantuk nya.
Yuma memberengut membalas lirikan Liam dengan menusuk.
"Hahaha bercanda bercanda ! Tidur saja" Tawa Liam kembali menguasai sudut-sudut kabin mobil.
"Berisik ah!" Protes Yuma semakin manyun.
Liam merespon dengan geli, perlahan melebarkan kedua sudut bibir nya. Alis yang tebal hitam itu menambah kesan manis untuk seukuran pria sepertinya.
...**...
Klek..
Shen kembali ke apartemen setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, badannya sangat lelah, dia pulang ingin istirahat namun saat kaki nya melangkah masuk suasana apartemen sedikit mencekam dan dingin.
"Kak ?!"
Shen mencari-cari sosok Daniel, tidak ada di ruang tamu, di kamar pun tidak ada. Langkah Shen terhenti di arah jalan masuk ke bar, dagu nya berpaling pelan akan tangkapan dari sudut mata nya.
Daniel, dia masih tergeletak tak berdaya. Botol wine kosong berjajar di atas meja dan pecahan botol pun berserakan.
"Kak"
Teriak Shen, dia terkejut, panik. Alangkah naas nya keadaan Daniel saat ini.
"Kak bangun ! Kak astaga kau kenapa ?." Shen menarik tubuh Daniel agar telentang, dia membawa kepala nya ke atas paha sebagai bantalan.
"Kak sadarlah !" Shen menepuk-nepuk pipi Daniel.
Shen gelisah, dia segera mengangkat kakak nya itu, memapah untuk segera di larikan ke rumah sakit. Kembali panik, Shen dia benar-benar menghela nafas akan botol wine kosong yang berjejer di atas meja bar.
Terus seperti itu, tidak ada yang tahu jika pebisnis muda tersohor itu memiliki kehidupan yang runyam dan sulit, tidak tersentuh dan tidak termakan oleh oleh berita miring.
Telpon Shen terus berdering di sela mengemudikan mobil nya, dia mengabaikan dan tetap fokus mengemudi. Ringisan kecil dari bibir Daniel membuat ekspresi yang timbul semakin membuat yang melihat nambah khawatir.
"Bertahanlah kak" Gumam Shen.
Shen sudah masuk di area rumah sakit, tepat nya di depan pintu.
"Sus cepat tolong saya" Teriakan Shen memecah fokus orang-orang yang ada di dalam. Para suster dan juga dokter silih bergantian mendekati, mereka tahu siapa sosok yang tengah berteriak itu.
Daniel di ambil alih dari gendongan Shen ke atas brangkar darurat. Shen ikut mendorong dengan sigap, dia mengabaikan telpon yang terus berdering sedari tadi.
"Tuan mohon tunggu di luar" Cegah salah satu suster yang akan menangani Daniel.
"Sus tolong selamatkan kakak saya, saya mohon !." Mimik wajah Shen benar-benar tidak baik, pancaran matanya begitu panik, urat di kening menonjol dan kedua alis menaut tajam.