
...***...
Pukul dua siang, Erina dan Gary berkunjung ke rumah setelah beristirahat di hotel karena bagaimana pun Erina harus bersiap lagi terbang ke Singapore dan itu harus di segerakan.
"Nona, Tuan" Sapa bibi Shu menyambut pengantin baru.
"Bi di mana Mama ? Kak Yuma juga di mana, kenapa rumah ini sangat sepi sekali ?!" Erina celingak-celinguk di dalam rumah. Gary, dia pun begitu.
"Oh itu non, tuan dan nyonya besar sedang ke luar kota dan nona Yuma sepertinya masih istirahat di kamar nya"
Tutur Bibi Shu.
"Pantas saja" Ujar Erina.
"Tapi non—"
"Ada apa, Bi?"
"Nona Yuma tidak ke luar-luar ! Bibi tidak melihat nya setelah pulang dari pasar ! Tuan Daniel pun menghubungi tadi dan bibi mengatakan jika nona Yuma sedang istirahat di kamar nya, tapi ini sudah berjam-jam Nona Yuma tidak ke luar."
Tepat nya hampir jam tiga sore namun Yuma masih belum terlihat.
Gary tidak banyak berpikir berlari ke atas menuju kamar Yuma. Erina dan bibi Shu pun mengikuti dari belakang dengan langkah kecil.
"Yuma"
Panggil Gary dengan ketukan pintu.
Krieett...
Ternyata pintu kamar tidak rapat saat di tutup.
"Ada ?." Tanya Erina dari belakang seraya mengintip pada celah pintu saat di tahan oleh Gary.
Sepasang pengantin baru itu pun masuk dengan derap langkah senyap, takut nya Yuma memang sedang istirahat.
"Tidak ada" Ucap Erina.
Gary mengetuk kamar mandi, namun juga tidak ada sahutan dan memutuskan untuk membuka kenop pintu tapi ternyata tidak di kunci, begitupula dengan bibi Shu yang mencari-cari ke balkon.
"Kakak ?!."
Teriakan Erina yang tiba-tiba mengagetkan Gary dan juga bibi Shu. Erina, dia dengan langkah gusar nya mencari-cari Yuma ke setiap sudut kamar.
"Ada apa, sayang ? Ada apa?!"
Erina mengabaikan dan masih mencari-cari dengan keputusasaan.
"Hei hei berhenti, kenapa kau menangis ?."
Gary hendak menegur, tapi di urungkan karena ternyata Erina menangis.
"Itu, di lemari baju sama sekali tidak ada barang milik Kakak Ipar ! Sayang lihat lah di meja rias pun tidak ada milik Kakak ipar, hiks—hiks kemana dia ?!"
Sepertinya Erina terkejut, dia tegang sampai air mata pun ikut ke luar. Dia menahan keningnya seperti orang pusing.
Gary memeriksa semua nya dan benar saja tidak ada lagi barang apapun milik Yuma yang berada di kamar.
Tidak membiarkan berlarut, Gary pun menghubungi orang tua Yuma namun jawaban nya adalah tidak ada Yuma berkunjung ke rumah.
"Daniel"
"Hubungi Daniel" Heboh Erina, dia benar-benar tegang. Dia takut dan itu tidak dapat di sembunyikan.
Gary pun menghubungi Daniel.
"Ada masalah, cepat pulang"
Bukan Gary yang berbicara tapi Erina sendiri, merebut handphone Gary dengan kasar.
Daniel tidak berbicara, dia bergegas melenggang pergi dari kantor sampai melupakan jas yang masih menggantung di kursi.
"Tidak aktif kah ?"
Tanya Erina pada Gary yang sedari tadi menghubungi Yuma namun tetap tak tersambung.
Tidak tahu lagi harus bagaimana, Gary sampai mengusap kening nya sesekali memijit. Erina menatap curiga.
"Yakin kau tidak tahu apa-apa ?" Ujar nya membuat Gary menoleh dengan heran.
"Kali ini dia tidak bicara apapun, aku sama sekali tidak tahu"
"Nona ini—"
Ucapan bibi Shu menghentikan perdebatan yang hendak di mulai antara Erina dan Gary, mereka reflek menoleh pada bibi Shu yang tengah memegang secarik kertas di atas meja.
Erina pun bergegas dan mengambil kertas itu dari tangan bibi Shu.
Untaian kalimat dan kata dengan pena hitam itu perlahan mengernyit, kening Erina mengernyit, kedua bola mata pun membaca setiap tulisan di atas sana.
Gary pun sama, dia terdiam saat mata nya membaca setiap kalimat yang tertulis.
"Ada apa ini ? Kenapa kalian berada di kamar ku tanpa izin, hah?!." Selidik Daniel di ambang pintu dengan nada suara sedikit membentak.
Atensi tiga orang di dalam langsung reflek menoleh dengan kertas kembali di simpan di atas meja.
Daniel mendekat, ekspresi wajah nya sudah menegas.
"Kak"
Ucap Erina ikut berjalan ke arah Daniel sedangkan Gary dan juga bibi Shu ke luar lebih dulu. Pelukan hangat pun jatuh, Daniel bingung dengan sikap adik nya.
"Aku harap semua nya akan baik-baik saja setelah ini !" Tutur Erina kembali melepas pelukan nya.
Daniel menaikkan satu alis nya masih tidak mengerti tapi Erina malah berlalu pergi, meninggalkan Daniel yang mematung di tempat.
"Ada apa dengan mereka ?." Gumam nya dengan penuh kebingungan. "Ada masalah apa sebenarnya?" Daniel masih bingung, dia nampak bodoh di tempat dengan mata tak sengaja mengarah ke tempat meja cermin.
Perlahan pandangan nya menajam, dia pun melangkah cepat ke lemari baju dan membuka pintu nya dengan kasar.
"Yuma" Teriak Daniel dengan sangat keras.
"Yuma" Teriak nya sekali lagi.
"Bi, tadi kau mengatakan jika istri ku sedang tidur bukan ?!".
Mereka kaget karena Daniel tiba-tiba muncul di pintu, sampai bibi Shu mundur selangkah.
" Be—nar tuan, tadi nona Yuma memang sedang istirahat" Sahut nya dengan gemetar. Erina dan Gary melihat bibi Shu bersamaan.
"Lalu kemana dia sekarang?." Teriak Daniel sampai urat nadi pun menonjol. Erina seketika memegang tangan Daniel.
"Kak" Ucap Erina lembut.
Daniel menepis tangan Erina, tapi tidak dengan kasar dan kembali ke dalam sampai di mana dia mendapati sebuah surat di atas meja.
Setiap kata dia baca, jantung nya sampai tidak tenang dan terus berdetak kencang, hati nya bagai tertusuk jarum sampai nafas pun seakan berhenti di tenggorokan.
Kreaaasss...
Daniel meremas kertas itu dengan rahang terlihat menegas, sorot mata nya tajam namun berembun, ujung hidung nya nampak merah begitupun dengan pelipis nya.
Map coklat pun menjadi sasaran nya, dia pun membuka benang tipis yang terlilit kancing pada map itu dan perlahan mengeluarkan isi nya.
...SURAT PERNYATAAN CERAI...
Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan dengan sesungguhnya bahwa.
Sebagai Pihak I
Nama : Yuma Zhao
Tempat, Tanggal Lahir: Guangdong, 27 November 1996
Agama : xx
Pekerjaan : Wirausaha
Alamat : xxx
Sebagai Pihak II
Nama : Daniel Chen
Tempat, Tanggal Lahir: Guangdong, 3 Desember 1993
Agama : xxx
Pekerjaan : Pengusaha
Alamat : xxx
Bahwa dengan ini kedua belah pihak, sepakat untuk bercerai atau mengakhiri hubungan sebagai suami istri dan atau kedua belah pihak tidak lagi memiliki hubungan dalam bentuk apapun juga.
Oleh karena itu kedua belah pihak mengakui surat pernyataan ini sebagai bukti cerai yang sah sesuai dengan ketentuan Hukum yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini dibuat atas kerelaan dan kesadaan kedua belah pihak tanpa ada paksaan dari siapa pun untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Yang Membuat Pernyataan
Pihak I Pihak II
YUMA
*anggap saja ttd yakan !! 😂
"Apa ini ? Yuma apa yang kau lakukan ?." Suara Daniel kembali memekik, kesadaran nya mulai hilang, dia pun membanting semua barang yang ada di depan nya.
Brukk..
prang..
prang..
Pcchh...
"Hahaha Yuma kenapa kau lekukan ini pada ku?."
Pria itu tertawa namun air mata mengalir begitu deras nya. Erina dan Gary segera masuk, mereka sangat kaget dengan keadaan daei Daniel.
Kertas itu tergeletak di lantai dengan Daniel masih meremas surat dari Yuma.
"Apa ini ?." Erina menunduk dan condong meraih kertas itu.
"Cerai ? Ini surat cerai ?." Gary yang mendengar pun langsung mengambil alih dan membaca isi pernyataan itu, yang mejadi mereka semakin kaget di bawah kertas sudah ada tanda tangan Yuma.
"Ada apa ini ? Apa dia kemarin hanya berpura-pura saja ? Apa yang kuduga ini memang nyata ?"
Benar-benar terkelabuhi, semua orang tertipu oleh sikap Yuma.
"Arghhhhh sial"
Prangg...
vas bunga kaca di lempar ke cermin sehingga kedua nya berbenturan, serpihan kaca berhamburan ke sana ke mari.
"Kak" Erika hendak menenangkan.
"Keluar" Bentak Daniel tanpa menatap adik nya sama sekali.
"Tap—"
"Ayo, biarkan dia sendiri dulu" Gary menarik Erina pergi. Pintu pun di tutup rapat.
"Yuma Yuma Yuma, kenapa kau melakukan ini ? Kau kejam, Yum! Kau melukai ku Arghhhh hahahah"
Daniel menggila sampai tawa dan tangis tidak dapat lagi dibedakan.