Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 65


Shen kebetulan baru ke luar dari kantor nya hendak mencari makan, perut nya sangat lapar setelah seharian bekerja tanpa henti.


"Kakak ipar." Tegur nya saat Yuma baru saja ke luar dari lift khusus presdir itu.


"Shen." Sahut Yuma.


"Kau ke sini ? Ada apa ? Apa ada masalah ? Apa perlu bantuan ku ?." Begitupun dengan Shen, dia bertanya tanpa melihat keadaan dan tak melihat apa yang tengah di jinjing oleh Yuma.


"Ini untuk mu."


"Uh ? Oh hahaha terimakasih, tahu saja adik mu ini sedang lapar." Ucap Shen pecicilan.


"Di mana Daniel ? Masih di ruangannya kah ?." Yuma berjalan pelan ke arah pintu kantor Daniel.


"Seperti nya iya." Shen mengikuti dari belakang, dia juga tak mendapati Xena berada di tempat nya.


"Kemana dia ?." Batin nya lanjut mengikuti Yuma.


Pintu di buka pelan tanpa ketukan karena terlihat tak rapat dan memiliki celah, untuk itu Yuma langsung mendorong saja.


Pandangan tak indah tertangkap oleh Yuma, tepat di hadapan nya, Daniel tengah sibuk bekerja namun satu yang membuat semua persendian Yuma bergetar dan panas, yaitu di pangkuan Daniel ada wanita lain tengah memeluk manja leher nya.


"Kenapa tidak masuk ?!." Shen memaksa masuk sedikit mendorong badan Yuma.


Mata Shen seakan hendak ke luar, membulat dan tajam, rahang nya tiba-tiba menegas dan kepalan tangan pun mengerat sempurna.


Xena, ya dia adalah Xena dan Yuma pun mengenal wanita itu. Daniel, dia sejenak menatap Yuma dan kembali sibuk dengan pekerjaan nya. Mengabaikan kedatangan Yuma dan juga Shen.


Entah itu pura-pura atau tidak, namun keadaan sekarang benar-benar sedang mencekam.


Shen hendak menerobos masuk dan ngamuk, namun Yuma mencegah dengan telapak tangan berdiri di udara, tepat nya di depa dada Shen.


"Kaka ipar." Lirih Shen seketika mengurungkan niat nya.


Xena dia, merasa di atas angin saat beberapa menit lalu Daniel menarik nya ke dalam pangkuan nya tiba-tiba.


"Adudududu ada siapa ini ? Sayang lihat lah istri mu menangkap basah kita." Suara nya gemulai terdengar membuat jijik para pendengar.


Daniel tak menanggapi, dia memilih melanjutkan pekerjaan nya. Yuma berjalan semakin dekat ke depan meja kerja yang di tempati Daniel.


"Aku membuat makan siang untuk mu dan juga kue kering ! Makanlah sebelum masakan nya semakin dingin." Yuma duduk di depan, tepat nya lurus dengan tatapan Daniel.


Sikap nya tenang seakan tidak terjadi apa-apa sekarang.


" Kakak ipar." Shen masih saja tidak terima, dia hendak menuju pada Xena.


"Shen biarlah ! Sekarang kau makan bekal dari ku di kantor mu." Lirikan tajam dari Yuma membuat Shen bergegas menyingkir dari meja.


"Wah wah wah, seorang Yuma bisa menaklukan Shen si kancil itu ? Tch tch momen yang sangat langka hahahaha."


Tepuk tangan kecil terdengar dari telapak tangan Xena, dia memuji keterampilan baru dari Yuma yaitu pandai menaklukan hati pria.


Daniel masih terdiam, dia ingin mengetahui apa yang akan Yuma lakukan jika sudah begini. Apakah akan marah ? Apakah akan langsung minta cerai ? Daniel sangat ingin tahu bagaimana wanita tangguh ini bereaksi.


Yuma merespon dengan sunggingan tajam dari salah satu sudut bibir nya.


"Setidak nya itu masih mending dari pada menjadi wanita penggoda."


Kata-kata Yuma walau singkat tapi membuat lawan tersulut emosi dan itu terbukti adanya.


Untuk ke sekian kali nya, dia salah akan respon Yuma. Tadinya sengaja bermain dengan Xena agar Yuma merasa sakit, tapi dia salah, Yuma tak menunjukkan tanda-tanda seperti itu.


"Wanita penggoda seperti mu tidak lain hanya menginginkan harta di banding cinta ! Salah kah ? Tidak ! Aku pasti benar dalam tuduhan ku,"


"Bukankah begitu, suami ku ?." Yuma berlenggang menabrak pundak samping milik Xena dan menghampiri Daniel.


Tatapan tak terbaca itu membuat Daniel terdiam seketika. Dia berpikir apa yang akan dilakukan oleh istri nya itu sekarang.


"Jaga ucapan mu, Yuma!." Sentak Xena sudah tak dapat lagi menahan amarah nya.


Tatapan Yuma semakin menajam, kini dirinya tengah mempertahankan harga dirinya sebagai istri dari Daniel-presdir Chen Group di hadapan sekretaris sekaligus mantan dari kekasih suami nya.


"Masih ada muka sekarang ? Bisakah meninggalkan ruangan ini sekarang juga, nona Xena ?!." Tekan Yuma melipat kedua tangan nya membelakangi Daniel agar Xena tak menatap nya intens.


Hati dan jantung Daniel kompak berbunga, dia lupa akan kebencian nya beberapa menit saat Yuma memarahi Xena dengan begitu tenang.


Senyum tipis terus terulas dengan jari telunjuk menempel di atas bibir nya dan pemandangan mata nya kini hanya punggung Yuma.


"Pergi." Tekan Yuma kasar menunjuk pintu dengan telunjuk nya.


Xena pun pergi dengan hentakkan dengan hills tinggi nya membuat ngilu di gigi dan pendengaran.


"Sudah ! Dia sudah pergi."


Daniel hendak meraih pinggang Yuma, namun wanita itu malah menjauh, menghindari Daniel.


Daniel bingung, dia mengerutkan kening nya dengan sikap Yuma.


"Bermain wanita di belakang ku bukan lagi perkara yang dapat aku terima dan aku maafkan, Daniel ! Kau harus tahu itu."


Tanpa bicara panjang, Yuma bergegas pergi membalikkan badan nya. Daniel terdiam kembali, dia tidak mengerti dengan istri nya itu.


"Yuma." Hanya itu panggilan untuk menghentikan Yuma, dengan diam tanpa melangkah sampai Yuma di telan oleh pintu kantor.


Air mata Yuma belum tumpah, dia masih tegar. Di depan ruangan tidak ada Xena maupun Shen di sana membuat Yuma terburu-buru pergi.


"Pak ayo jalan." Pintu mobil tertutup dengan sangat kencang, sampai sang supir terperanjat kaget.


Supir tidak berani mengintip walau lewat kaca spion dan hanya dengan tenang melajukan mobil.


Pipi basah, mata merah dan tangan sedikit bergetar. Hati nya sangat sakit atas perbuatan Daniel saat ini, dia menangis dalam diam, merasakan pedih dan kecewa di berikan dalam waktu yang bersamaan.


Menikah pun belum genap satu bulan tapi sikap Daniel sudah banyak berubah. Tangis nya tertelan, suasana kabin mobil itu sangat hangat dan getir.


Tidak ada suara, bahkan nafas pun tak terdengar oleh sang supir.


"Pak tolong berhenti di depan." Tepuk Yuma pada pundak sang sopir.


Mobil pun berhenti mendadak dan Yuma pun bergegas ke luar tanpa aba.


"Non, nona mau kemana ?." Tanya sopir itu ikut turun hendak mencegah Yuma.


"Bapak duluan saja, saya ada urusan sebentar !." Ucap Yuma kembali melangkah pergi melintasi garis Zebra.


Sang sopir hanya bisa garuk tengkuk yang tak gatal saat ini dan kembali melajukan mobil berlalu pergi dari sana.