Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 80


...***...


Xian, sekarang dia tengah berada di kediaman bibi Shuwan-ibu Yuma. Dia merasa harus memberi tahu mereka tentang hilang nya Yuma, tapi bibir nya kelu, dia tidak bisa berkata walau hanya sekedar menyebut nama sepupunya.


"Kakak,"


Wusan nampak manja mendekati Xian. Xian menatap, membawa Wusan ke atas pangkuan nya.


"Kak, Kak Yuma sudah berapa hari ini tidak mengobrol dengan ku! Apa dia marah ? Apa aku membuat kesalahan ? Maaf, aku ingin minta maaf pada kakak, tapi kakak tidak ada menghubungi ku ataupun mama."


Anak berusia empat tahun itu berceloteh, merasa menyesal dan juga merasa bersalah. Pipi gembul nya memerah begitupun dengan hidung nya yang kembang kempis.


"Kesalahan apa coba yang kamu buat terhadap kakak mu itu , eum?!,"


"Menurut kakak sepertinya dia tengah sibuk dengan suami nya, jadi lupa mengabari adik kecil nya di sini,"


"Nanti juga kakak mu akan datang, percayalah!."


Tutur Xian memberi pengertian. Mama Shuwan pun hanya merespon dengan wajah berseri nya.


"Tapi aku merindukan kak Yuma" Cebik bibir mungil itu.


"Sabar,"


"Anak sabar di sayang semua orang loh," Cubit Xian pada ujung hidung Wusan.


"Benarkah ?," Anak kecil itu pun melirik mama nya juga meminta kebenaran dan anggukan itu memuaskan.


Tawa kecil terdengar dari orang dewasa di sana atas kelucuan Wusan.


...**...


Daniel, dia pulang lebih cepat dari biasa nya. Kekalutan nya membuat fokus yang dia miliki pecah.


Sampai di rumah, ternyata papa Chen dan mama Ella tengah duduk di ruang keluarga sembari sibuk berbincang dengan orang di seberang sana.


Kerutan kening mereka menunjukkan jika sekarang masih dalam suasana mencekam dan juga resah. Kabar dari Yuma tidak kunjung datang, semua titahan mereka gagal menemukan dan sampai detik ini masih mencari-cari keberadaan Yuma.


"Daniel bagaimana ?."


Mama Ella bertanya di tengah pembicaraan mereka dan begitu saja langsung memutuskan sambungan, begitupun papa Chen.


"Masih belum ada kabar, Ma!." Daniel duduk, memijit kening nya dengan setengah badan condong sehingga sikut menumpu di atas paha.


"Kita harus mencari nya ke mana lagi ?." Ucap mama Ella sedih, berdiri di depan Daniel dan mengelus lembut kepala putra nya.


"Maaf" Daniel menengadah, mata nya merah menatap sang mana.


Mama ella sejenak memalingkan wajah nya lalu menyeka air ingus yang hendak ke luar dari hidung nya dan kembali menatap putra nya yang kelelahan dan juga tercampur rasa penyesalan.


"Tenanglah ! Kita pasti akan menemukan Yuma" Mama Ella mengusap wajah Daniel dengan ibu jari nya. Sentuhan seorang ibu memang sangat menenangkan.


"Sayang" Mama Ella memeluk Daniel, menenangkan putra nya.


Tidak bisa di pungkiri mereka pun menyaksikan bagaimana gila nya Daniel mencari-cari Yuma, mereka pun menyaksikan Daniel menyiksa diri nya sendiri, mereka pun menyaksikan kekusutan Daniel yang biasa segar.


"Ma, jam berapa Erina sampai ? Tadi dia mengetakan sudah berangkat dari Singapura, apa perlu aku jemput ? Dia tidak mengatakan sebelum nya dan sekarang tidak bisa di hubungi"


Shen memeriksa handphone sembari berjalan, jadi tidak melihat jika suasana sedang haru.


"Dia mengatakan tidak perlu, biar saja ! Katanya akan pulang bersama teman nya" Sahut mama Ella. Daniel, dia beranjak pergi ke kamar nya masih dengan kesedihan.


Shen menatap punggung Daniel aneh dan kembali menatap mama Ella dan juga papa Chen yang tengah duduk di sofa.


"Dia kenapa lagi, ma ?!." Ucap Shen penasaran.


"Huss jangan gitu ah, kasihan dia !." Seru mama Ella menegur. Shen tidak peduli.


"Salah sendiri" Ujar Shen keras kepala.


"Shen" Papa Chen menegur.


Jarak dari kediaman ke bandara internasional sangat jauh, perlu setidaknya 4-5 jam sampai di sana, itupun jika jalanan tidak macet.


**


" Huffhhhh sampai juga" Suara itu nampak lega, menghirup aroma negara kelahiran nya. Sudah lama dia tidak pulang kewajiban nya sebagai seorang mahasiswa dan baru bisa pulang sekarang, itu pun karena terpaksa, karena pendidikan nya belum selesai.


"Ayo" Gary mengambil alih koper Erina, membantu menarik nya ke luar bandara.


Di depan, mobil sudah terparkir. Mobil milik nya yang di simpan di bandara beberapa hari lalu saat hendak pergi ke Singapura.


"Makan dulu atau bagaimana ?." Ucap Gary sambil memasak sabuk pengaman di tubuh nya.


"Makan dulu saja, bayi ku lapar !." Erina mengelus perut nya memasang ekspresi tertekan.


Gary menautkan alis nya, padahal sedari di dalam pesawat dia tidak membiarkan Erina kelaparan dan fasilitas di sana khusus untuk ibu hamil, untuk itu makanan yang di sediakan sangat bergizi.


"Bayi ku lapar ? Lalu apa kau tidak lapar ?." Gary menatap aneh.


"Hahaha aku bercanda,"


"Ayo kita pergi makan dulu"


Tawa Erina geli dengan ekspresi Gary saat ini.


Gary, pria tinggi berperawakan 185cm, tampang nya maskulin dengan rambut di potong gaya under-cut. Hidung mancung bukan lagi, dagu nya sedikit ada belahan.


Sedangkan Erina, usianya lebih muda dari Yuma, sekitar 23thn an. Tinggi badan sekitar 170cm an beda sedikit dengan Yuma. Rambut panjang menjuntai melebihi bahu dan di kasih warna madu beberapa helai.


Gary memperhatikan Erina yang tak kunjung keluar meski pintu mobil telah terbuka.


"Kenapa ?." Tanya nya dengan mimik cemas.


Kedua kaki Erina menggantung ke luar mobil, namun tidak segera berdiri karena merasa perut nya sedikit keram.


"Sebentar, perut ku keram" Tangan Erina menggapai lengan Gary dan reflek Gary mendekat untuk menahan kepala Erina. Pegangan Erina sedikit menguat, sepertinya tengah menahan.


"Ini minum dulu,"


tangan kiri Gary menggapai botol minum di depan samping kotak penyimpanan dari berdiri nya dengan pelan, supaya Erina tidak terjepit.


Erina dengan patuh minum.


"Habiskan" Titah Gary memperhatikan air minum itu yang mulai menyusut.


"Udah"


Gambaran suami istri masa depan, mereka tidak sadar memang serasi jika di pandang.


"Kau lelah, ibu hamil di usia muda harus banyak istirahat,"


"Apa sebaiknya menginap di hotel saja dan besok baru bisa pulang ke rumah".


Gary berjongkok, menatap Erina yang masih terduduk di kursi mobil dengan mengangkat dagu, sedangkan telapak tangan nya mengelus perut Erina.


Terasa kikuk dan canggung, namun elusan Gary perutnya langsung membaik.


"Masih sakit?" Tanya nya.


Erina menggelengkan kepala nya, ingin sekali dia menangis saat ini juga. Dia berpikir, dia dan bayi nya akan mengalami hal buruk tanpa ada suami dan seorang ayah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, pria di depan nya ini tidak disangka orang yang bertanggung jawab.


Walau masih ada rasa takut tapi Erina berusaha untuk menyembunyikan nya.


"Setelah makan, aku mau langsung pulang dan bisa istirahat sekalian di sana" Pinta Erina.


"Jika masih kuat tidak apa, ada aku yang akan menjagamu jika kau lelah !." Gary berdiri membantu Erina beranjak dan sedikit menggeser tubuh nya untuk menutup pintu mobil.


Sekitar dua puluh menit, mereka selesai makan dan kembali menyusuri jalanan. Gary menghentikan laju mobil dan mengambil selimut yang sudah tersedia di belakang mobil.


"Tidur saja" Ucap Gary saat tengah menyelimuti Erina dan wanita itu terganggu dengan aktifitas tangan Gary.