
" Selamat pagi pak ". Salam Yuma setelah dirinya berdiri di hadapan Daniel.
" Tidak disiplin, perusahaan menggaji mu bukan untuk datang terlambat nona !". Daniel menanggalkan kacamata berbingkai itu.
Yuma mengecek jam di tangan nya untuk memastikan jika dia tidak terlalu terlambat masuk ke dalam kantor.
" Hanya terlambat lima menit saja, itu tidak masalah ". Kilah Yuma.
Daniel meluruskan tatapan nya pada Yuma yang begitu tak melepaskan pandang. " Tidak masalah ? Oh jadi selama ini kalian selalu terlambat datang ke kantor dan itu tidak masalah ?". Tajam Daniel.
" Bukan itu maksud saya, lima menit itu bukan terlambat masuk ke perusahaan, tapi terlambat datang menemui anda pak ! Kami sangat disiplin dan mentaati peraturan, lagi pula saya akan sangat tidak enak menerima gaji jika bekerja pun tidak disiplin ". Tutur Yuma menjelaskan.
" Awas saja jika kalian terpergok datang terlambat maka hukuman nya adalah di pecat, saya tidak akan tinggal diam !". Ancam Daniel.
" Saya mengerti pak ". Ucap Yuma. " Lalu, apa ada yang harus saya kerjakan saat ini ?! ". Seru Yuma menautkan kedua telapak tangan nya dan dia simpan di depan perut nya.
Daniel berpikir sejenak. " Saya tidak memanggil anda, mungkin sekretaris saya salah dengar ". Ucap nya menyangkal. Yuma menautkan alis nya sedikit kesal.
" Baiklah, jika begitu saya permisi ". Pamit Yuma.
" Tunggu ". Tahan Daniel dengan ucapan nya. Yuma kembali berbalik. " Selesaikan laporan ini hari ini juga ". Perintahnya pasti.
Yuma meraih berkas itu dan dia periksa sebelum ke luar.
" Tapi pak ini bukan bagian saya! ". Protes Yuma. Berkas itu menunjukkan masalah mengenai pengaturan kebutuhan mesin yang di gunakan untuk mengolah barang.
Sedangkan Yuma bekerja dalam bidang memilah dan memilih barang-barang berkualitas dan bermutu, agar tidak ada barang yang mengendap di perusahaan. Untuk itu, kadang setelah pulang bekerja, dia dan juga Jingyi pergi mencari barang yang di perlukan.
" Kenapa ? keberatan ?". Sindir Daniel.
" Tidak ! jika begitu saya pamit ". Ucap Yuma kembali dengan ekspresi wajah yang begitu menggemaskan.
Daniel menyematkan senyum nya saat tubuh Yuma tak lagi berada di hadapan nya. " Menggemaskan ". Gumam Daniel.
Yuma berjalan masuk ke dalam kantor nya dengan wajah dia tekuk, rekan nya menatap aneh kepada Yuma.
" Ada apa lagi ?! ". Seru Jingyi.
" Atasan sinting, apa dia tidak tahu jika aku tidak bekerja di bidang ini ? lihatlah ! ini pekerjaan Levon, kenapa juga aku yang harus mengerjakan nya ?! ". Kesal Yuma.
" Ahh ? coba aku lihat ". Rebut Jingyi pada berkas itu.
" Kak nanti siang aku harus segera pulang, jika tidak adik kecil ku akan marah, aku sudah berjanji kepadanya ! bisakah kau menolong ku ? ". Mohon Yuma kepada Levon sembari berdiri di samping bahu Levon.
" Apapun untuk mu ". Ujar nya sembari menerima berkas itu dari Jingyi.
" Jika ada hal yang membuat mu terburu-buru, kau katakan kepada kami, kami akan segan membantumu". Ucap Wufan dan di angguki oleh semua rekan nya.
" Aaaaa kalian memang terbaik ". Senang Yuma.
" Emang kau ada janji kemana ? ". Tanya Jingyi penasaran.
" Adik ku ingin bermain ke taman hiburan, aku sudah berjanji akan mengajak nya ke sana siang ini ". Tutur Yuma sembari tersenyum.
Semua rekan nya sedikit tahu mengenai keluarga nya, untuk itu mereka begitu menyayangi Yuma seperti adik bungsu mereka.
" Aku ikut, boleh ya ya ya ". Semangat Jingyi.
" Baiklah ". Seru Yuma.
" Kerjakan pekerjaan kalian agar siang ini bisa pulang lebih cepat, jika ada yang kurang akan kami handle ". Ucap Levon.
...**...
" Shen ". Sapa Yuma yang telah siap untuk pulang bersama dengan Jingyi.
" Hai nona cantik, kalian hendak kemana ? sepertinya terburu-buru ?! ". Seru Shen kembali menyapa.
" Kami hendak pulang, ada janji yang harus kami tepati. Jika begitu kami duluan ya !". Ucap Yuma. Jingyi hanya mencuri pandang kepada Shen.
" Kami hendak bermain ke taman hiburan, kau mau ikut ?! ". Tiba-tiba Jingyi bersuara dan menatap Shen dengan penuh harap.
" Jingyi ". Tajam Yuma. " Teman ku sangat sibuk, dia tidak akan bisa ikut, ayo kita pergi ". Tekan Yuma mencubit Jingyi.
Shen masih tersenyum, mata nya menangkap keberadaan Daniel di lantai atas dan seketika otak nya berjalan penuh.
" Bisa, aku akan ikut kalian tapi tunggu sebentar, aku harus melapor kepada atasan dulu !". Seru Shen yang menentengnya tas jinjing nya.
" Tunggu aku ok !". Teriak Shen sejenak menjadi pusat perhatian.
" Kau ini kenapa ?". Selidik Yuma. " Aku sudah akan terlambat, jika adik ku marah maka kau harus bertanggung jawab ". Kesal Yuma.
" Tenang, aku akan bertanggung jawab, lagi pula sayang jika pria setampan dia tidak aku ajak hahaha ". Centil Jingyi.
Tidak lama, Shen pun kembali menghampiri mereka, namun di belakang nya terlihat Daniel mengekori.
" Ayo ". Ujar Shen begitu semangat.
" Aaaaa sejak kapan perusahaan ini memiliki dua pria tampan seperti kalian ?! ". Histeris Jingyi begitu senang, seolah matanya mendapat vitamin c.
" Yaakk ". Kesal Yuma.
" Oh jadi kau mengeluh mengerjakan tugas dari ku karena akan bermain siang ini ?! ". Ucapan Daniel begitu menyindir Yuma.
" Bukan seperti itu, saya sudah menjelaskan tadi kepada anda. Lagi pula ini baru pertama kali saya tidak lembur ". Suara Yuma perlahan mengecil, dia menggerutu kesal.
Shen dan juga Jingyi memperhatikan mereka berdua heran.
" Apakah dia ? ". Bisik Jingyi, Yuma mengangguk.
" Tidak baik berbisik di depan orang ". Tekan Daniel.
" Daniel, bersikap baiklah untuk hari ini ". Shen berucap pelan namun Daniel masib bisa mendengar nya.
Daniel tidak mengindahkan ucapan Shen, dia dengan cepat ke luar melewati Yuma dan juga Jingyi.
" Sebenarnya dia itu kenapa ? kadang baik, kadang ketus, arrgghh aku benar-benar ingin menjambak rambut nya ". Kesal Yuma sembari meremas telapak tangan nya di udara.
" Sudah sudah ayo ". Shen menarik Yuma.
...**...
Yuma sampai di depan rumah nya dengan menggunakan mobil milik Daniel dengan Shen menjadi pengemudi nya.
" Ayo masuk dulu, Yi kau ganti baju mu pakai saja dulu baju ku ! ". Ucap Yuma.
" Baiklah, kau memang yang terbaik ". Sahut Jingyi antusias.
" Kalian tidak masuk dulu ?! ". Ucap Yuma.
" Tidak, kami tunggu di sini saja ". Seru Shen.
" Baiklah, kami tidak akan lama ". Ujar Yuma segera masuk. Diambang pintu, Wusan sudah berdiri dengan wajah cemberut.
" Kesayangan kaka, kenapa berdiri di sina ?! ". Cubit Yuma pada pipi Wusan dan segera menggendong nya.
" Dia sedari tadi menunggu mu, mama dan juga papa sudah membujuk nya tapi tetap saja dia seperti ini ". Ucap sang mama.
" Papa tidak bekerja ? ". Tanya Yuma.
" Dia pulang cepat hari ini, entahlah mama pun tidak tahu, dia tidak biasa nya pulang cepat !". Tutur sang mama.
" Oh ". Sahut Yuma.
" Selamat siang bibi, saya Jingyi teman dari Yuma ". Sapa Jingyi memberi salam.
" Ayo masuk-masuk jangan sungkan ". Seru Liwei memandu Jingyi untuk masuk.