
Yuma masih memandangi wajah Daniel, menyandarkan punggung nya di kursi yang terletak di samping brangkar, melipatkan kedua tangan nya tanpa ekspresi.
ukhu..
ukhu..
Daniel batuk namun matanya masih terpejam.
Ekhem..
ekhem..
Tenggorokan nya berulang kali mencoba mengeluarkan dahak. Yuma berdiri, dia reflek menuangkan air minum ke dalam gelas
Ookho.
okhoo.
Daniel pun bangun seketika, terbatuk dengan tubuh condong sehingga belum menyadari keberadaan Yuma.
"Minum lah !." Seru Yuma memberikan air itu dan tentu saja Daniel begitu saja menerima nya dan langsung meneguk habis air di dalam gelas itu.
Yuma memperhatikan.
"Erina kau sudah datang ? Di mana mam,,,,, " Ucap Daniel hendak kembali berbaring namun dia urungkan, perkataan pun tidak selesai, mata membulat penuh akan wajah yang dia lihat.
"Yum-ma ?." Bibir itu bergetar, jari jemari bahkan kepala nya kembali berat. "Yuma ?" Daniel kembali memanggil dengan tidak percaya, dia reflek menggapai tangan Yuma yang hanya berjarak beberapa inchi saja.
Kelopak mata itu semakin membulat, Yuma di hadapan nya adalah nyata namun tidak ada suara, air mata menggenang di pelupuk namun sedetik kemudian tumpah. Laki-laki keras itu menangis di depan Yuma.
"Tidak ada yang perlu ditangisi ! Kembalilah tidur, istirahat yang cukup."
Yuma mengulas senyum nya, dia membantu Daniel kembali berbaring. Daniel tidak melepaskan pandangan nya, dia merasa ini mimpi untuk itu enggan mengedipkan mata.
Yuma membenarkan selimut dan menutupi sebagian tubuh pria itu. "Kenapa ? Aku bukan hantu sampai kau harus seterkejut itu !." Yuma menggenggam lengan Daniel.
"Aku takut ini hanya mimpi,"
"Katakan padaku jika ini benar kau ! Aku mohon !" Tutur Daniel. Dia pun menggenggam tangan Yuma dengan penuh haru dan terkejut, air mata nya tak dapat berhenti, mengalir dari sudut mata.
Yuma tidak tergerak hanya dengan air mata Daniel, namun dia berusaha untuk mengulas senyum dan berkata seadanya. Sikap Yuma yang sekarang memang membuat Daniel canggung dan tidak enak namun rasa gembira nya mengalahkan itu semua.
"Tidur lah !"
Daniel merasakan usapan hangat pada pipinya, sejenak dia memejamkan mata menikmati elusan dari jemari sang istri yang lama pergi.
"Yuma?."
Pintu itu tidak terdengar suara orang masuk sehingga Daniel maupun Yuma tidak menyadari jika mama Ella sudah berdiri di belakang saat ini.
Daniel dan Yuma menoleh bersamaan.
"Mama" Dengan kasar, Yuma berdiri. "Mama!." Yuma kembali memanggil, dia berlari kecil berhamburan memeluk Mama Ella.
Brugh.
"Yum-ma ? Ini benar kau kan ?." Mata terkejut tapi juga lirih, mama Ella tidak membiarkan pelukan itu terjadi hanya sekilas saja. Yuma mengulas senyum lembut dan mengusap berulang punggung mama Ella.
"Hiss--hiks--hikss Yuma putri Mama, kau kembali, 'nak ?!." Mama Ella semakin mengeratkan pelukan nya.
"Tentu saja" Hanya kalimat singkat itu yang ke luar dari mulut Yuma. Daniel pun masih memiringkan kepalanya menyaksikan dua wanita yang sangat tegar, Daniel pun kembali menumpahkan air mata nya dari sudut mata.
"Ma ?." Kembali suara wanita masuk di pendengaran. Wajah Yuma terlihat jelas sehingga wanita itu terkejut.
"Kakak Ipar ?." Teriak Erina senang. Pelukan Mama Ella lepas di gantikan dengan Erina memeluk Yuma.
"Kakak Ipar apa kabar mu ?" Sontak Erina menelisik Yuma dari atas sampai bawah.
"Adik Ipar begitu semangat hari ini, apa karena sebentar lagi naik pelaminan ?!." Ujar Yuma bercanda dengan menaikkan kedua alis nya seraya mimik wajah berseri.
Di dalam ruang rawat nampak cerah dan juga hangat, keberadaan Yuma memang selalu membuat hal gelap menjadi cerah, dari hening menjadi hangat, dari tegang menjadi lerai. Siapapun akan merasa kehilangan jika orang yang memberi efek kehidupan di sekitar hilang begitu saja walau ada pemberitahuan hilang nya namun akan tetap saja rasa hilang akan menyeruak di seisi sudut jantung seseorang.
Hampir dua jam, tidak terasa mereka berbincang. Daniel pun kembali terlelap dengan masih menggenggam tangan Yuma. Mama Ella dan Erina nampak masih antusias berbincang saat ini.
"Ma, jangan terlalu menyalahkan Daniel ! Di sini kami yang salah, aku dan Daniel, tidak hanya dia,"
"Erina, apa kau bahagia ? Kakak mendengar pernikahan kalian akan di undur karena kesehatan Daniel, tapi sepertinya tidak perlu lagi. Kau tidak boleh menunda rencana yang sudah di susun, lagi pula tugas akhir mu masih belum selesai dan kalau misalnya hanya berhubungan lewat online dengan pembimbing mu di sana akan sangat tidak efektif"
Mama Ella dan Erina saling lempar pandang.
"Hahaha tidak apa kak, aku juga sudah menghubungi pihak univ nya jadi tidak perlu khawatir kaya begitu ! Santai saja, okey!." Seru Erina. Dia nampak bodoh saat ini sampai Mama Ella pun harus ikut tertawa bodoh.
"Daniel akan sembuh dalam waktu dekat ini, kalian siapkan acara dengan matang !,"
"Eum aku dengar pernikahan kalian tidak akan terlalu mencolok, apa benar ?!." Lanjut Yuma.
"Benar kak, aku rasa tidak perlu megah ! Sayang uang nya hahaha" Tukas nya dengan mimik wajah yang merasa sayang kalau harus membuang-buang uang.
"Baiklah Kakak ikut saja" Dalih nya. Yuma tersenyum seakan bangga sekarang.
...**...
Daniel bangun, dia mengedarkan pandangan nya mencari sosok Yuma yang saat dia membuka mata tidak lagi mendapati di samping brangkar. Masih belum menangkap keberadaan Yuma membuat dia memutuskan untuk beranjak turun dari ranjang, meraih serang inpus untuk di bawa.
Perlahan ke luar, Daniel berjalan pelan dengan mata lelah serta harap penuh akan keberadaan Yuma yang nyata.
Sekitar sepuluh menit pria itu mencari wanita nya namun tak kunjung di temukan sampai akhirnya dia duduk, istirahat di taman.
"Halusinasi lagi !" Smirk timbul dari sudut bibir nya, dia merasa bodoh dan gila saat ini.
"Ha-ha-ha" Tawa tercekat seakan mentertawakan dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam Shen dan Papa Chen yang baru saja datang mendapati Yuma yang tengah ke sana ke mari dengan raut wajah gelisah, sorot mata pun mencari-cari seseorang seakan tengah kehilangan.
"Yuma" Papa Chen pun menepuk pundak Yuma yang hendak kembali melangkah. Yuma pun menoleh.
"Papa" Yuma nampak merubah mimik wajah nya dengan ulasan senyum walau sedikit terkejut. "Shen" Sapa nya pada Shen di belakang Papa Chen.
"Kau kemana saja Kakak Ipar ? Kami mencari mu kemana-mana tapi tidak di temukan bahkan orang-orang kami pun sampai takluk mencari mu" Shen malah merajuk.
"Ada saja, Shen ! Aku hanya sedang meninggalkan pikiran yang membuatku lemah dan sekarang aku kembali untuk membuktikan nya ! Ayo lah Adik Ipar, rajukan mu itu menjijikan hahaha" Ucap Yuma dengan ledekan nya.
Papa Chen memperhatikan 'Masih bisa tersenyum ?' Mungkin itu lah yang tengah di ucapkan hari sang mertua itu untuk menantunya saat ini.
"Tch, kau membuat ku jantungan tau ngga ? Syukur-syukur diri ini masih bernyawa !." Shen terus saja merajuk, dia bahkan tidak malu dengan usia nya yang hendak bertambah.
"Mana ada ?!." Timpal Papa Chen heran dengan kelakuan putra kedua nya itu.
"Hehehe" Shen nyengir kuda di sambut jitakan dari Yuma.
"Aw sakit Yuma" Teriak Shen.
"Hahahaha dasar bocah" Ledek Yuma walau kebenaran nya mereka berdua berusia tidak beda jauh.
"Kau kenapa ? Apa sedang mencari seseorang ?." Tanya Papa Chen.
"Daniel tidak ada di kamar nya, pa! Aku sudah mencari nya kemana-mana tapi tidak ada" Tutur Yuma.
"Tch tch tch nakal sekali satu makhluk itu" Desis Shen sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi padahal dia sudah berpesan agar Daniel diam tidak berulah.
Angin sore mulai terasa dingin, Daniel, pria itu masih duduk dan enggan untuk beranjak berdiri. Jarum inpus tidak lagi menusuk di lengan nya.
"Di mana dia ?." Mata bulat itu perlahan menajam, kening pun kembali terlukis kerutan halus.
Akhirnya Daniel beranjak, berjalan ke arah lobi dengan setelan masih memakai baju pasien. Bibirnya pucat, kesadaran pun sudah sepenuh nya kembali entah apa yang mendorong pria itu, mungkinkah karena Yuma ? Tentu pasti.
Penumpang taksi baru turun dan Daniel bergegas masuk ke kabin mobil. "Pak ke alamat xxxx" Ucap Daniel. Akhirnya dia pun meninggalkan area rumah sakit masih dengan stelan pasien.