
...***...
Mata indah itu mengerjap, Yuma terbangun dari tidur nya, meregangkan otot dan menilik jam dinding yang terpajang di depan nya.
Jam 15:30 waktu Singapore dan di China pun memiliki waktu yang sama.
"Erina mungkin sudah sampai di rumah" Gumam Yuma. Kaki jenjang nya beranjak turun berjalan ke arah kamar mandi.
Kaca lebar di dalam kamar mandi menjadi saksi bisu tangis Yuma yang mulai pecah kembali. Matanya sembab dan air mata tak henti-henti nya mengalir, sampai di mana dia ketiduran, meringkuk dengan menyakitkan.
Sekarang berkaca kembali, menangkap bayangan dirinya di dalam sana, bibir itu tersenyum getir membayangkan betapa buruk nya dia saat ini.
"Aku putuskan tidak akan kembali,"
"Aku, tidak akan kembali, tidak akan !." Suara menggelembung perih karena air mata kembali tertelan. Wajah nya pucat pasi setelah sepeninggalan Gary beberapa jam lalu.
Entahlah, sepertinya Yuma sangat tertekan dengan kejadian ini. Dia samasekali masih belum bisa mencerna sikap Daniel, dia asing, Daniel asing baginya.
Mungkin hanya cinta nya saja yang tak asing,
"hiks,,, hikss,, hikss ma, mama tolong aku".
...**...
"Yuma" Teriak mama Shuwan tiba-tiba dalam lamunan nya. Wusan hampir terlempar karena kejutan darinya yang tengah tidur di pangkuan sang mama.
"Nyonya" Bibi Eri berdiri dengan khawatir.
Mama Shuwan menatap bibi Eri, memeluk tubuh Wusan semakin erat.
Ruang keluarga itu nampak sepi dan hanya ada mama Shuwan, wusan serta bibi Eri saja.
"Bi, tolong ambil handphone saya" Tunjuk mama Shuwan pada telpon genggam nya di atas meja.
"Ini Nyonya"
Mama Shuwan menyerahkan Wusan kepada bibi Eri untuk di pindahkan ke kamar, sedangkan dirinya beranjak berdiri sembari menekan kontak putri nya.
'Maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan'
Customer Servis terus berbicara seperti itu menambah kekhawatiran dari hati sang mama.
"Yuma kau kemana, 'nak?!."
"Yuma," Bibir mama Shuwan mulai bergetar, buliran bening dari mata nya mulai menggenang, kuku menjadi pelampiasan sehingga digigit bergetar begitu saja.
Mama Shuwan pun memutuskan menghubungi mama Ella untuk menanyakan keadaan putri nya saat ini.
Tut...
Tut..
Kontak tersambung, mama Shuwan masih berusaha menghubungi.
"Halo"
Mama Shuwan merasa sedikit lega karena akhirnya besan nya itu mengangkat telpon.
"Ha... lo?."
"Nyonya Zhao apa kabar mu ?." Mama Ella terdengar menyapa dan bertanya dengan hangat, suara sedikit memekik seperti biasa.
"Kabar baik Nyonya,"
"Bagaimana keluarga di sana, semoga semua nya baik-baik saja !?" Ucap mama Shuwan.
Kenyataan nya, di rumah Chen tengah menahan nafas mereka dan posisi nya handphone milik mama Ella berada di tangan Shen dan yang berbicara adalah mama Ella, papa Chen ikut tegang dan hanya mendengarkan.
"Baik, semua nya sehat"
Tidak ada sahutan, karena mama Shuwan tengah berusaha untuk menanyakan kabar putri nya.
"Halo ?."
Mama Shuwan meneguk ludah nya kasar. Takut akan kenyataan tentang kekhawatiran nya yang begitu tiba-tiba.
"Itu,,, apa Yuma baik baik sa... jja?,"
"Eum, jangan salah paham ! Sa... ya ha,,, anya merindukan nya. Kontak nya tidak tersambung"
Tanya nya dengan hati-hati agar tidak ada yang tersinggung.
"Dia baik-baik saja, jangan khawatir,"
"Handphone nya mati, mungkin kehabisan baterai ! Tenanglah, menantuku baik-baik saja, dia sehat !."
Mendengar apa yang dikatakan besan nya membuat jantung dan keresahan mama Shuwan melebur. Dia terlihat mengusap dada nya dan naik ke leher nya.
"Begitu kah ? Syukur kalian semua baik-baik saja, aku hanya tiba-tiba terpikir akan putri ku jadi sedikit khawatir,"
"Jika begitu maaf menganggu waktu istirahat mu."
...**...
Pukul delapan malam, mobil terparkir di depan pelataran rumah. Penghuni berhamburan ke luar.
"Ma itu pasti Erina" Shen menuruni anak tangga dengan lari nya. Daniel mengikuti.
Mama Ella dan papa Chen pun sudah berada di ruang keluarga dan bergegas pergi ke depan..
"Sudah sampai" Gary membangunkan Erina dengan mengusap pipi lembut itu dengan punggung telapak jari telunjuk nya.
Erina pun terbangun, dia membenarkan posisi duduk nya. Gary pun membantu membuka sabuk pengaman di saat sesekali mulut Erina menguap.
"Sudah sampai kah ?." Kedua mata nya menatap sekitar dari dalan mobil.
"Ayo sadar lah" Gary mengusap cepat wajah Erina dengan jahil.
"Aaaaa kau ?!."
"Kalau belum sampai mana ada wajah-wajah keluarga mu di sini ? Itu lihatlah, mereka sedang menunggu mu ke luar dari mobil" Tunjuk Gary dengan dagu nya, sudut bibir pun menyungging.
"Arrghh"
Gary meringis, menarik tangan nya yang baru saja di gigit oleh anjing liar.
"Hukuman untuk pria nakal seperti mu" Seru Erina membuka pintu dan denhan cepat ke luar.
"Ma, pa" Suara Erina memekik, dia tidak berlari karena takut singa nya marah. Walau tidak melihat tapi dia merasa Gary tengah menatap tajam pada nya dan terasa sampai punggung nya yang terasa dingin.
Senyum keluarga itu mengembang, mama Ella berlari semakin dekat.
"Sayang, kenapa baru sampai heum ? Mama khawatir, handphone mu tidak bisa di hubungi" Pelukan mama Ella mengerat, mengusap punggung putri nya yang manja.
"Ma, biarkan putri kita masuk dulu" Tegur papa Chen membelai pucuk kepala Erina.
"Ada apa ?" Tanya lembut mama Ella saat mengikuti lirikan tidak suka pada Daniel dan juga Shen.
Mereka fokus pada Erina sehingga mengabaikan seseorang yang tengah berdiri di samping mobil.
Gary menaikkan satu alis nya menyunggingkan sudut bibir nya tipis.
"Selamat malam tuan Chen".
Ucap Gary. Semua orang menoleh pada nya.
"Kau ?."
Mereka benar-benar kaget akan keberadaan Gary, sesuai dengan bayangan.
"Erina, Dia ?!." Gugup Shen menunjuk wajah Gary yang semakin mendekat. Daniel apalagi, dia tidak bisa menyembunyikan rasa yang tersimpan, rasa dendam dan tidak suka, namun juga dia merasa ketakutan.
Papa Chen berdiri sopan. "Kita masuk, lebih baik jika bicara di dalam ! Ayo"
Semua anggota keluarga sudah lengkap, mereka duduk rapi sedangkan Gary masih berdiri.
"Silahkan duduk, tuan muda Zhao" Ucap papa Chen dengan menggerakkan tangan nya.
Keadaan masih terdiam, tidak asa yang membuka suara namun pada akhir nya Daniel pun mengeluarkan suara nya.
"Erina " Ucap Daniel dengan suara lembut penuh sayang. Erina, dia sama sekali tidak menoleh, dia tidak merespon panggilan kakak nya membuat mereka semua bingung.
Daniel mendekat, duduk di samping adik nya, namun apa ? Erina menggeser duduk nya, memalingkan wajah nya ke arah lain.
"Erina ada apa ? Apa laki-laki ini menyakiti mu lagi ?,"
"Erina katakan" Suara Daniel membentak, telunjuk tangan nya mengarah pada Gary. Gary masih terdiam.
Tatapan semua keluarga nampak khawatir, resah, dan bersalah.
"Diam" Erina beranjak berdiri, dia pun menghadap pada kakak nya dengan kemarahan.
"Erina" Shen pun beranjak berdiri dan menenangkan adik nya itu
"No Shen ! No, ini salah ! Semua nya salah, kau juga salah"
Gary melihat perubahan dalam diri Erina, dia tidak terlihat seperti putri yang manja lagi saat ini.
"Sayang ada apa ? Katakan pada kami ? Lalu kenap tuan muda Zhao ada di sini ?."
"Dia ayah dari bayi dalam kandungan ku, apa salah jika dia ada di sini ?,".
"Bukan ma, bukan itu yang aku permasalahkan !,"
Suara nya menekan dan itu perlu mengeluarkan tenaga.
"Apa maksud mu, Erina?!" Daniel berdiri menangkup kedua lengan sang adik dengan penuh tatapan tanya.
"Erina, pria ini telah menyakiti mu ! Dia pun tidak bertanggung jawab atas perbuatan nya dan sekarang, dia ada di sini ? Lalu di mana dia beberapa bulan lalu ? Lalu di mana dia saat kau mengalami morning sickness ? Erina, dia membuat mu trauma, dia membuat mu mengalami gangguan psikis dan sekarang dengan begitu saja dia datang ke sini ?."
Hawa kemarahan pun terus memuncak dari dalam jiwa Daniel.
"Saya ada"
Gary memecah hawa itu, mereka menoleh pada Gary begitu pun dengan Erina. Gary mendekati Erina dan melepas tangkupan kedua lengan Daniel.
"Duduk lah, " Ucap Gary lembut dan hal itu menjadi perhatian.
"Seharusnya ada" Gary melanjutkan perkataan nya.
"Seharusnya saya ada namun kekacauan dalam perusahaan membuat saya tidak sempat bertanya waktu itu dan kalian semua tahu siapa yang membuat kekacauan itu, bukan ?!."
Kata-kata nya tidak kasar namun penuh penekanan, gaya bicara sangat dewasa dan itu hampir mirip dengan Daniel.
"Perusahaan Zhao tidak pernah ingkar, tidak pernah menjadi musuh dalam selimut, tidak juga merugikan siapapun tapi aneh nya waktu itu laporan menunjukkan jika kita melanggar beberapa poin perjanjian yang sudah tertera,"
Mereka mendengarkan.
"Dan ulah siapa itu jika bukan ulah anda, tuan Daniel Chen!." Tunjuk Gary.
"Dan akhirnya saya baru sadar tujuan dari kekacauan itu !,"
"Bukankah alasan nya adalah karena adik mu ?"
Gary menyulam tangan nya ke belakang dengan wajah serius.
"Kenapa kau bisa tahu ?." Selidik Daniel langsung pada inti.
"Hanya menebak saja ! Kejadian yang ada sangat kentara dan mudah untuk menebak nya."
"Kit bicara baik-baik ! Duduk lah" Papa Chen memerintah agar semua nya tenang.
"Tuan muda Zhao, bicara pada intinya" Seru papa Chen
"Saya akan menikahi putri anda, bertanggung jawab atas perbuatan keji ! Dan maaf, jika saya baru bisa mencari nya"
"Ma, Pa ! Aku sudah memutuskan akan menikah dengan tuan ini".
"Tidak Erina" Shen menggenggam tangan Erina.
"Shen" Tatapan Erina lagi dan lagi mengalahkan jiwa dari Shen, dia lemah jika sudah mengenai adik nya itu.
"Itu bagus, memang harus seperti ini dari awal" Mama Ella lebih dulu berkata sebelum Daniel kembali menganga.
"Pernikahan akan segera di laksanakan, jika perlu besok ! Saya tidak bisa meninggalkan istri saya sendirian dan lagi kami tidak akan lama tinggal karena Erina ada sidang kelulusan, bukan begitu sayang ?!."
"Eum" Angguk Erina dengan senyum merekah.
Keadaan semakin tidak bisa di cerna, antara cinta dan dendam, hal tabu itu entah hanya dorongan kemarahan entah kekecewaan namum sekarang mereka sedikit menyadari jika apa yang mereka duga tidak sesuai dengan bayangan.
Gary, ternyata pria itu memiliki rasa tanggung jawab.
"Baiklah ! Tapi pernikahan akan di adakan di rumah ini, kami akan mempersiapkan semua nya."
"Tidak pa," Tukas Erina.
"Erina" Daniel kembali mendekati adik nya dan meletakan tangan nya di pundak namun lagi dan lagi Erina menepis nya. Sikap Erina semakin menjadi pertanyaan dalam benak.
"Erina ?." Daniel benar-benar kebingungan, dia tidak mengerti dengan sikap adik nya yang sepertinya menyiratkan kemarahan.
"Kita akan menikah biasa, tidak terlalu megah apalagi mengundang tamu besar ! Aku hanya menginginkan pernikahan sederhana dan hanya ada keluarga kita"
Tutur Erina.
"Tapi"
"Itu yang aku minta dan kami sudah sepakat, rencana ini sudah di bicarakan dengan sangat bulat dan yakin" Mata Erina menatap Gary yang tengah menatap nya lembut.
"Baik baik sesuai keinginan mu" Timpal Daniel. Erina menatap malas.