
...***...
"Permisi" Ucap Daniel, kebetulan Anran hendak mengantar pesanan pada pelanggan yang ada di luar.
Anran melirik. "Nyari kak Yuma ?." Reflek Anran bertanya.
"Betul ! Apa dia ada di dalam ?." Daniel tidak sabar, dia bahkan tak menunggu jawaban dari Anran dan langsung menyerobot masuk menuju kantor Yuma.
Anran sontak merasa keanehan, diapun mengantar segera pesanan pelanggan dan tidak membutuhkan waktu lama dia pun masuk ke dalam mengikuti Daniel.
Luna yang berada di meja kasir garuk kepala karena melihat suami dari bos nya yang aneh dan tidak lama teman kerja nya pun menyusul daei belakang dengan sedikit berlari.
"Kemana dia ?." Nafas mulai tak teratur dan sesak, Daniel menunjuk ruangan Yuma dengan sorot mata menatap Anran.
"Kak Yuma sedang ke luar dulu, tadi dia bilang seperti itu." Jawab Anran seadanya.
"Ke luar kemana ? Sudah berapa lama dia ke luar ? Apa dia tidak mengatakan apapun lagi kepada kalian ?." Anran di cehcar pertanyaan oleh Daniel.
"Tidak." Anran menggelengkan kepala nya tidak tahu karena jujur saja Yuma tak berpesan apapun kecuali berpesan untuk menjaga toko dengan baik.
Wajah tampan itu semakin memerah, begitupun dengan mata nya. Jantung pun terus berdebar tak karuan. Daniel kembali masuk ke dalam kabin mobil nya, dia menyandarkan kepala pada bahu kursi dan menimpa-nimpa kening nya dengan kepalan tangan.
"Ke rumah nya ? Ya, mungkin dia ke pulang ke rumah orang tua nya."
Lanjut tancap gas, kecepatan yang di pakai pun tidak lagi dalan standar pengemudi. Sangat cepat seperti hendak balapan, untung nya jalanan saat ini tidak macet.
Mobil yang tadi terparkir di area toko kini terparkir di depan rumah papa Wei-ayah dari Yuma sendiri.
Seorang satpam ke luar dari gerbang depan, dia mengamati wajah Daniel dengan teliti.
Seketika teringat dan langsung menyapa.
"Pak, orang rumah ada ? Apa nona Yuma datang ke sini ?." Daniel ke luar dari mobil nya dan bertanya.
"Oh tidak tuan, saya tidak melihat nona Yuma di sini ! Bukankah, nona bersama dengan anda saat ini ?." Satpam itu pun langsung menjawab mendekati Daniel.
Kembali terdiam dan harus menarik nafas nya dalam-dalam.
"Orang rumah tidak ada juga ?." Seru Daniel.
"Tidak ada tuan,"
"Nyonya sedang menjemput Wusan dan tuan Wei masih di kantor ! Tidak terlihat juga nona Yuma di antata mereka tadi." Tutur satpam itu.
Seperti nya dia tak berbohong karena rumah sepi seperti mati.
Tidak pamit atau mengatakan apapun lagi, Daniel berlalu pergi melesat dengan mobil nya membuat satpam itu bertanya-tanya.
**
Tidak hanya tempat-tempat persinggahan, Daniel pun mencari Yuma hampir ke setiap sudut kota.
"Yuma aku mohon." Penampilan yang rapih itu kini tidak lagi di perhatikan, Daniel duduk menyandar di badan mobil dengan menahan kening nya dengan dua lengan kekarnya.
"Maafkan aku, Yuma maafkan aku." Tangis meraung mengabaikan orang-orang yang menatap nya aneh.
"Astaga kak kau kenapa ?."
Shen, dia khawatir dengan kakak nya itu sampai terburu-buru meninggalkan kantor setelah menyelesaikan rapat yang itu pun di percepat dan di persingkat.
Shen berjongkok memegang erat lengan kekar kakak nya.
"Kak." Shen menyentak, dia menarik Daniel agar berdiri.
"Shen" Daniel terdiam, dia menatap lurus saat telah duduk di kursi mobil depan.
Shen menoleh dengan tidak percaya, bahkan dia ingat saat Xena meninggalkan kakak nya tidak sampai menangis, dia hanya menjadi dingin dan tak tersentuh.
"Kita pulang saja dulu, bicara baik-baik. Kakak ipar pasti akan kembali, dia tidak akan pergi tanpa pesan !." Yakin Shen. Tidak dapat berkata apapun, adik kakak itu pun melaju pergi dengan Shen meninggalkan mobil nya di jalanan.
**
"Ada apa ini ?" Papa Chen baru saja sampai di rumah karena mama Ella menghubungi nya agar pulang lebih cepat.
Manik mata penuh itu menggerayangi setiap orang yang ada, dari nada suara pun sudah di pastikan jika kini papa Chen seakan tak tersentuh.
Shen juga Daniel diam, mereka berdua nunduk dengan pikiran mereka sedangkan mama Ella berdiri dan melangkah lebih cepat pada papa Chen.
"Tidak ada kabar dari Yuma, kami sudah mencoba menghubungi nya namun tak ada sahutan, "
"Di toko pun dia tidak ada. Pegawai di sana mengatakan jika Yuma ke luar sebentar!." Lanjut mama Ella menjelaskan kebingungan dari sorot mata papa Chen.
"Tadi dia pun tidak bilang apa-apa pada mama, hanya bilang akan pergi ke toko saja." Seru nya mengingat ucapan Yuma sebelum pergi.
Kata 'jangan merindukan aku' membuat mama Ella tersadar dan seketika menutup mulut nya.
"Ma kenapa ?."
Daniel juga Shen menatap sang mama yang tiba-tiba terkejut dan mengeluarkan air mata.
"Ma" Papa Chen memeluk mama Ella dari samping. Seorang ayah itu sepertinya mengerti atas keterkejutan istri nya.
"Ma kenapa ?." Daniel semakin jelek sangka sangka sekarang. Dia tidak bisa diam saja, dia takut Yuma benar meninggalkan nya.
"Kak mau kemana lagi ?." Shen mencegah.
Di saat seperti ini pikiran mereka harus tenang, jangan mengambil keputusan tiba-tiba. Daniel kembali duduk mencoba menghubungi Yuma kembali.
"Shen, pergilah ke perusahaan kakak nya. Cari tahu di sana, mungkin saja kakak nya tahu sesuatu !!,"
Shen tanpa menolak langsung pergi dan tanpa menyahuti ucapan kakak nya, dia pun ikut tegang dengan keadaan yang di ciptakan oleh Daniel.
Awal nya keluarga takut jika Yuma hanya sebagai pelampiasan cinta Daniel terhadap Xena, namun masalah lain datang dengan sangat mengejutkan.
...*...