
Menjelang pagi, Daniel masih tak memejamkan mata nya. Di samping Yuma dia terus menjaga.
Perlahan Yuma membuka kelopak mata nya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam bola mata. Yuma hanya menatap tanpa ekspresi keberadaan Daniel yang sedari tadi memperlihatkan raut wajah khawatir.
" Yuma ". Ucap Daniel. Yuma menepis tangan Daniel namun tidak dengan kasar. " Bagaimana kondisi mu ? ". Tanya Daniel. Wajah nya masih pucat pasi, dia pun sakit tapi sakit itu tidak sebanding dengan rasa bersalah nya kepada Yuma.
Yuma tanpa bicara, dia beranjak dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Kucuran air terdengar begitu juga gemercik air terdengar ke luar.
Ketukan pintu apartemen terdengar, Daniel segera pergi melihat siapa yang datang. Di luar terlihat orang tua nya datang begitupun dengan paman Arya dan juga Shen.
Klikk. Pintu terbuka. " Ma ". Ucap Daniel. Mama Ella tidak menyapa, dia segera masuk ke dalam untuk melihat kondisi Yuma. Arya mengikuti langkah Mama Ella begitupun dengan Shen
" Daniel kau baik-baik saja nak ?! ". Tanya papa Chen karena raut wajah Daniel begitu kusam dan juga pucat.
" Aku baik-baik saja papa ". Sahut Reagan dan mencegah Papa Chen yang hendak mengukur suhu tubuh nya.
" Wajah mu sangat pucat Daniel, kau benar baik-baik saja ?! " . Selidik Papa Chen.
" Aku baik pa! ". Sahut Daniel untuk yang kedua kali nya.
" Baiklah jika begitu. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang ?! ". Tanya nya kembali.
" Entahlah, dia tidak bicara kepada ku ". Ucap Daniel.
" Ayo kita ke kamar nya ". Ajak papa Chen berjalan lebih dulu. Daniel menghembuskan nafas nya sebelum mengikuti langkah papa nya.
Papa Chen dan juga Daniel masuk dan melihat mama Ella dan juga yang lain nya berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Ada apa ini, kalian sedang apa di sana ?! ". Tegur papa Chen.
" Dia belum ke luar sedari tadi ma ? ". Tanya Daniel menyeru dan mendekat ke pintu kamar mandi.
tok,, tok,, tok.
" Yuma ". Panggil Daniel. Telinga mereka masih mendengar kucuran dan gemercik air dari dalam, tapi saat mereka memanggil tidak ada sahutan dari dalam.
" Yuma kau sedang apa ? kau baik-baik saja bukan ?! ". Seru Daniel terus mengetuk pintu.
Lama mereka menunggu dan Yuma masih saja belum ke luar. Mereka semakin khawatir terlebih lagi Daniel sebagai pemeran utama dalam masalah ini.
" Awas kak ". Shen mendorong Daniel hingga tubuhnya sedikit terhuyung.
tok...
tok...
tok..
tok..
tok...
" Yuma ini aku Shen, Yuma kau sedang apa ? Yuma kau mendengar aku bukan ?! ". Seru Shen terus mengetuk pintu kamar mandi.
" Ada yang salah ". Gumam Shen perlahan menjauh dan Brukkkkk. Shen mendobrak pintu kamar mandi dengan cepat .
" Shen ". Teriak mereka dengan apa yang di lakukan oleh Shen. Shen tidak peduli dengan teriakan mereka dan masuk ke dalam.
" Paman Arya tolong aku ". Teriak Shen saat melihat Yuma terduduk di bawah shower, bibir pun terlihat membiru kedinginan.
Mereka yang mendengar teriakan Shen segera masuk. Telinga Daniel membeku, dia seolah sama sekali tidak ingin mendengar apapun.
" Astaga Yuma ". Histeris mama Ella saat Shen dan juga Arya menggotong tubuh Yuma. Daniel mematung saat tubuh Yuma keluar dari kamar mandi.
Arya dengan cekatan melilit tubuh Yuma dengan selimut agar tubuh nya kembali menghangat.
" Ada apa ini ? ". Suara garang itu menggema di seisi ruangan.
Gary dan juga Xian berdiri di ambang pintu kamar Yuma. Mereka semua menoleh ke asal suara. Xian dan juga Gary dengan cepat mendekat.
Tubuh mereka menegang kala menyaksikan adik sepupu mereka dalam keadaan kembali tidak berdaya.
" Menyingkir ". Gary dengan kasar mendorong Arya yang tengah berusaha mengobati Yuma.
" Yuma ". Xian dan juga Gary menepuk pipi Yuma bergantian tanpa ingat di sekeliling nya ada orang-orang yang tengah merasa khawatir.
" Yuma ini kaka Xian, Yuma ada apa dengan mu ?". Xian terus berusaha menyadarkan Yuma, dia meraih tangan nya dan hendak berusaha menghangatkan. Tapi mata nya membelalak kaget kala dia melihat bekas cengkraman pada pergelangan tangan Yuma.
" Gar ". Ucap Xian pelan, Gary menoleh dan ikut melihat apa yang di tunjukkan oleh Xian.
Tidak hanya di sana, Gary pun memeriksa tangan yang lain dan betapa kaget nya mereka, di kedua tangan Yuma ada bekas cengkraman. Xian dengan cepat mengamati wajah Yuma dan menyingkap sedikit selimut yang menghalangi leher nya.
" Ada apa ini ? ". Teriak marah Gary menatap nyalang orang-orang di belakang nya. Xian kaget dan segera ikut memeriksa rahang Yuma dan lehernya.
" Bisa kalian jelaskan ? ". Xian ikut menajam.
" Siapa ? ". Tanya Gary ambigu.
" Maaf ". Sahut Daniel yang seakan mengerti pertanyaan Gary. Shen dan juga Arya menoleh begitupun kedua orang tuanya.
" Brengsek ! apa yang kau lakukan kepada adik ku hah ?! ". Marah Xian mencengkram baju kaos Daniel.
Brugghhhh, dari belakang Gary menerobos dan memukul Daniel.
" Hentikan ". Arya dan juga Shen menghalangi mereka yang hendak kembali memukul Daniel.
Tanpa banyak bicara, Gary dan juga Xian tidak lagi memperdulikan Daniel. Mereka segera mendekat pada Yuma.
Gary kembali melilitkan selimut agar lebih erat menempel pada tubuh Yuma. " Xian cepat hubungi dokter keluarga ". Gary menggendong Yuma dan membawa nya ke luar.
" Daniel ". Ucap mama Ella.
" Ma, aku benar-benar tidak sengaja ". Daniel memeluk mama Ella dengan posisi terbaring di atas lantai.
" Hikss,, hikss,, ". Mama ella hanya menangis.
" Ma ". Ucap Daniel kembali sebelum dia benar-benar memejamkan mata nya.
" Daniel ". Mama Ella mengguncang kepala Daniel yang masih dia peluk.
" Pa ". Panik mama Ella. Arya dan juga Shen pun ikut mendekat.
" Dia pingsan kak, ayo cepat bawa dia ke rumah sakit. Badan nya pun demam ! ". Ucap Arya.
Mereka pun akhirnya pergi dengan membawa Daniel pergi, begitupun dengan Gary dan juga Xian, mereka berdua membawa Yuma pergi ke rumah mama nya untuk di rawat di sana.
...**...
Dokter yang di panggil Xian lebih dulu sampai di kediaman orang tua Yuma, mereka kaget karena sama sekali tidak ada apapun dan tidak ada yang perlu di obati.
" Ada apa ini sebenarnya ? ". Tanya Zhao Wei pada dokter itu.
" Saya juga tidak tahu pasti, tapi tuan Xian menyuruh saya untuk datang ke sini " . Sahut nya, dia pun terlihat bingung.
" Bibi ". Teriak Xian membuka kasar pintu dan menahan nya agar Gary dengan mudah masuk.
Shuwan dan juga Wei kaget dengan teriakan dari depan dan dengan cepat berlari.
" Ada apa ini ? ". Histeris Shuwan mendekati Gary yang tengah menggendong Yuma.
" Cepat bawa dia ke kamar nya ".
Sebelum pemeriksaan, Shuwan lebih dulu mengganti pakaian basah Yuma dan setelah itu baru lah dokter memeriksa keadaan Yuma.
" Bagaimana keadaan putri saya ?! ". Ucap Zhao Wei.
" Dia butuh banyak istirahat tuan, keadaan nya memburuk karena Shock. Saya sarankan agar istirahat selama beberapa hari ". Ucap sang dokter.
" Baiklah terimakasih dok ". Ucap Zhao Wei.
...**...
Yuma dibiarkan untuk istirahat, Semua orang pergi ke ruang keluarga. " Ceritakan pada bibi, sebenarnya ada apa Gary, Xian ?! ". Shuwan masih gondok, dia belum mendapat penjelasan yang memuaskan hati nya.
Kedua orang tua Yuma belum mengetahui bekas-bekas cengkraman pada lengan Yuma, hanya dokter yang tahu.
" Kami tidak tahu bi, saat kami sampai di apartemen Yuma di sana sudah ada banyak orang ". Tutur Gary.
" Banyak orang ? siapa ? ". Selidik Zhao Wei.
" Keluarga Chen, mereka ada di sana paman. Aku juga tidak tahu dan tidak bertanya. Tadi kami sangat panik dan langsung membawa Yuma ".Ucap Gary.
" Chen ? keluarga Chen ada di sana ? sedang apa mereka ?! ". Zhao Wei semakin tidak mengerti kemana alur cerita nya.
" Entahlah, kita tunggu Yuma sadar agar lebih valid informasi nya ". Ucap Xian.
" Baiklah ". Sahut Zhao Wei dan juga Shuwan
" Mama ". Teriak Wusan yang baru saja kembali dari sekolah.
" Kau sudah pulang sayang. Bagiamana, apa menyenangkan sekolah di sana hmm ?! ". Shuwan menangkap Wusan dan memeluk nya.
" Aku suka sekolah baru ku ma ". Senang Wusan.
" Dia pindah sekolah paman ? ". Tanya Xian.
" Iya ". Sahutnya.
" Kenapa ? bukankah sekolah yang dulu jauh lebih menjamin paman ?! ". Ucap Xian kembali.
" Kau benar nak, tapi Yuma tidak suka jika Wusan sekolah di sana dan kami menyetujui nya karena bagaimana pun suara Yuma sangat berarti. Kami tidak lagi ingin egois ". Sahut nya kembali.
" Yuma juga tidak akan sembarangan merekomendasikan sekolah untuk adik nya paman, jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun ". Timpal Gary.
" Tampan kemari lah ". Gary melambaikan tangan kepada Wusan.
" Kaka, aku sudah banyak teman sekarang, mereka baik kepada ku, aku suka sekolah di sana ! ". Racau Wusan di pangkuan Gary.
" Benarkah ? waah ini sangat menyenangkan, lain kali kau ajak teman mu ke sini. Kita makan, kita bermain di sini, bagaimana ? ". Gary ikut berceloteh.
" Aku mau kaka, nanti aku bilang kepada teman ku ". Senang Wusan.
" Mama, aku merindukan ka Yuma, kenapa dia tidak menginap lagi di sini ? ". Tiba-tiba mood Wusan berubah dalam sekejap. Para orang dewasa saling pandang.
" Ayo bersihkan dulu badan mu, nanti mama akan mengantar mu menemui ka Yuma.