Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 71


...***...


Taksi yang di tumpangi oleh Yuma tidak berhenti di depan toko kue nya namun ternyata dia menuju apartemen milik nya.


Yuma berlari cepat, outer panjang nya pun ikut terguncang begitu pun dengan rambut yang dia ikat setengah menyisakan bagian dalam rambut nya tergerai sempurna.


tit


tit


tit


perpaduan angka dia tekan dan akhirnya kunci pintu terbuka. Yuma masuk dan melangkah tergesa sesekali mengecek jam di tangan nya.


"Untung saja masih di sini." Ucap Yuma lega saat mendapati paspor nya di dalam laci nakas kamar.


Dia pun kembali mengecek jam penerbangan nya. Sekitar jam satu siang yang tertera di sana dan sekarang menunjukkan pukul sebelas siang.


Yuma kembali turun dan memutuskan untuk ke toko dahulu.


Taksi berhenti dan Yuma pun masuk ke dalam kabin mobil, baru saja mobil melaju, telpon nya berdering dan ternyata di atas layar itu tertera nama 'Xian'.


"Iya kak kenapa ?." Ucap Yuma.


"Bagaimana kabar mu, eum ? Sedang di mana ? coba video call." Panggilan itu pun beralih ke video call.


Yuma menggeser ikon bergambar video.


Wajah Xian pun terlihat jelas saat ini, wajah nya lelah dan dasi mulai melonggar nampak banyak kerjaan.


"Sshh vitamin kakak muncul hahahaha." Xian malah tertawa begitu saja padahal tidak ada yang lucu.


"Vitamin apa nya ? Sudah ah kau mengganggu perjalanan ku."


"Dih ketus ! Memang nya sedang di mana sekarang ? Terus mau kemana ? Makan siang bareng kakak yuk,"


"Sudah lama juga kita tidak pergi bersama."


"Eum,, sepertinya tidak bisa kak ! Kapan-kapan saja ya!." Tolak Yuma namun dengan rengutan anak kecil seperti biasa, senjata ampuh untuk menumbangkan kedua kakak nya.


"Kenapa ? Apa si Daniel tak mengizinkan mu, 'eum ?! Ayo katakan pada kakak biar kakak datangi dia." Xian semakin melonggarkan dasi nya.


"Mmppptttt hahahaha kau ini kenapa ? Heh mana ada bisa seperti itu!,"


"Daniel itu suami ku sekarang, jadi dia yang lebih berhak atas adik mu ini !."


Dia hampir lupa jika sekarang kedua kakak nya menyayangi dirinya. Xian dengan tiba-tiba selalu muncul dengan tingkah dan perkataan yang tak terduga, membuat emosi Yuma semakin membaik.


"Kak, aku menyayangi mu." Ucap Yuma. Xian mengelak akan candaan Yuma namun seketika menyelidik sehingga layar handphone itu penuh dengan wajah nya.


"Kau baik-baik saja, 'bukan ?!." Xian mulai serius.


"Baik kak, sangat baik !." Senyum nya tumpah, berusaha untuk terlihat seperti itu. Terlihat baik seperti biasa nya sampai kata baik-baik saja itu sampai sulit untuk di bedakan.


"Lalu ?." Delik Xian.


"hehehehe,"


"Kak sudah ya, aku sudah sampai toko, ini ! Bye bye... " Sambungan terputus di tangan Yuma, dia pun turun dari taxi.


Anran juga Luna menyambut kedatangan pemilik toko dengan sangat antusias.


"Bagaimana kabar kalian ?." Yuma berdiri di tengah dua pekerja toko nya yang juga telah di beri tanggung jawab besar oleh Yuma.


"Kami baik, kak!." Seruan Luna di timpali oleh Anran.


"Yaps" Nada nya seperti menggoda.


"Apa ?." Delik Yuma.


"Hahahahah tidak tidak." Kilah mereka tergelak.


pegawai toko sudah bertambah di tambah kurir, karena toko yang didirikan oleh Yuma semakin berkembang dari waktu ke waktu.


Yuma duduk sebentar di dalam kantor nya, melamun sembari memutar-mutar kursi duduk. Tatapan nya kosong namun sebenarnya banyak beban tertumpuk hampir menutupi seluruh pikiran nya.


"Kenapa ? Merindukan aku kah ?." Celetuk Yuma pada Daniel di seberang sana. Nyata nya candaan itu tak sesuai dengan raut wajah nya saat ini.


Daniel tak menjawab, dia hanya merona akan kata dari Yuma. Mereka berbincang cukup lama dan akhirnya di tutup karena Daniel harus segera rapat.


Tarikan nafas lalu menghembus kembali, Yuma pun mengecek jam di tangan nya.


"Maaf" Sendu nya. Yuma pun bergegas bersiap untuk keberangkatan nya ke Singapura, menemui Erina berbekal secarik kertas kecil menjadi petunjuk nya.


"An, Lun, kakak pergi dulu ya ! Jaga toko dengan baik,"


"Memang nya mau ke mana lagi, kak ? Baru saja datang, sudah pergi lagi !." Rengek Luna mengguncang lengan Yuma tak canggung lagi.


"An... " Kode Yuma pada Anran agar membawa Luna ke dalam.


Drama kecil antara pegawai dan bos itu pun usai sekejap mata dan Yuma pun akhirnya pergi, pergi entah akan berapa hari.


Saat Yuma hendak menonaktifkan ponsel nya, notifikasi pesan masuk. Ternyata grup nya sangat ramai saat di buka.


"Pulang kerja kita kumpul yu". Dengan '@' Yuma di kolom chat itu.


Yuma menatap lekat, dia ingat jika hari ini teman-teman nya akan ke toko sesuai ucapan nya kemarin.


" Lain kali saja ya, aku sedang banyak pembeli sekarang ! Pesanan juga banyak,"


"maaf,,, maaf,, maaf" Dengan emoji mengatupkan kedua telapak tangan nya.


tring...


Kembali balasan masuk.


"Baiklah !" Balas Jingyi dengan memberi emoji sedih, mata berkaca dan juga air mata membanjiri pipi.


Yuma hanya membalas dengan GIF gelak tawa dan langsung menonaktifkan handphone nya.


*


Menempuh jarak yang lumayan cukup menyita, Yuma pun sampai di area bandara. Wanita itu tidak membawa apapun, hanya tas kecil dan juga handphone saja.


Kali ini benar-benar tidak ada yang tahu kepergian nya, dia pergi untuk memastikan kebenaran tentang kata 'balas dendam' dari Daniel.


Baik Daniel, ataupun keluarga tidak ada yang tahu keputusan Yuma. Entahlah, mungkin jika keluarga Yuma tahu akan menimbulkan kecurigaan besar atas sikap Yuma yang tak biasa nya.


Berjalan seperti air sungai yang nampak tenang di iringi oleh angin yang berhembus, namun tidak tahu dalam ketenangan itu terdapat air terjun yang dalam, menunggu di depan walau meninggalkan kesan keindahan.


Pukul satu pas pesawat yang di tumpangi wanita itu pun lepas landas.


Sedangkan di posisi Daniel, dia tak fokus saat rapat sampai Shen yang ikut rapat di sana sampai menyadarkan.


"Shen selesaikan rapat nya."


Daniel dengan tingkah aneh nya menjadikan orang-orang di dalam saling berargumen dan menduga-duga. Shen, dia pun melanjutkan rapat itu walau dengan kebingungan akan sikap langka atasan nya.


Daniel gusar, dia sampai mengabaikan Xena yang tengah menyambut nya di depan pintu kantor.


Brakk....


Pintu tertutup denhan keras, Xena terperanjat kaget dan reflek memegang dada nya. Decihan sensi pun di layangkan oleh Xena yang kembali duduk merengut memikirkan cara baru untuk mendapatkan Daniel.


Daniel merogoh handphone nya, duduk pun enggan , dia sibuk menghubungi orang rumah.


"Yuma belum kembali, dia mungkin masih di toko. Ada apa ?!." Suara mama Ella pun terdengar, tidak biasa nya juga putranya itu menelpon di jam segini.


"Tidak ma,"


"Aku tutup telpon nya, ya !."


Tanpa berbasa-basi sambungan kembali terputus begitu saja.


"Kemana dia, kenapa handphone nya mati ?." Dengan tidak sabar, Daniel terus menghubungi kontak Yuma. " Tidak Yuma, aku tidak mengizinkan kau pergi !." Suara semakin menekan, bola mata nya perlahan memerah, rahang pun menegas.


Daniel bergegas ke luar, meraih kunci mobil dengan kaki melangkah panjang dan terkesan berlari.


Sesampai nya di area toko, dia pun ke luar terburu-buru dengan raut wajah entah lah, sudah tak dapat di jabarkan dengan kata.