
Ramai pejalan kaki dan juga pengendara membuat sekitar lumayan pengap di tambah matahari mulai naik ke atas langit.
"Sekarang kau mau kemana ? Saya akan mengantar mu sampai tujuan dan lagi saya ingin bertemu dengan suami mu,"
"Kenapa dia mengizinkan istri nya berkeliaran dengan usia kandungan yang masih rawan ! Suami macam apa dia !?."
Gary terlihat kesal sendiri dan terus mencibir pria yang belum tentu memiliki sikap seperti apa yang di duga oleh Gary sendiri.
Erina seperti biasa, mata nya berlabuh pada mata Gary dengan memperhatikan setiap tatapan yang seakan berbicara itu.
"Kau ayah nya, ayah dari anak ku." Batin Erina terus berkecamuk, dia berbicara dalam hati dan tak berani berbicara sejujur nya.
Mana ada sikap seperti itu. Tidak akan ada pria yang akan mengakui langsung jika wanita nya mengatakan jika dirinya tengah mengandung.
Itu sangat mustahil menurut Erina, lagi pula sikap Gary sekarang mengatakan jika benar, pria itu tidak mengetahui jika dirinya adalah gadis yang malam itu dia perkosa tanpa mengenal baik wajah nya.
Bukti yang lain, jika benar Liam dan juga pria di hadapan nya itu berteman dekat, mungkin saja Gary akan bertanya pada Liam kejadian malam itu, bertanya apakah Liam selaku teman pria di hadapan nya itu tahu siapa gadis yang dia kirim untuk mengantar berkas di malam itu.
Semua duga dan kira yang muncul dalam Erina terasa penuh dan berbelit saat ini, sampai tatapan dalam manik mata itu terasa kosong.
"Nona." Gary menyadarkan lamunan dengan mengibaskan telapak tangan nya di depan wajah Erina.
Mata Erina mengerjap dan sadar. "Sa... ya duluan!." Seru Erina bertingkah aneh mendadak di depan Gary.
"Eh ?." Tangan Gary terhempas. Kaki nya kaku dan terdiam dengan keanehan Erina.
"Wanita aneh," Reflek Gary menggelengkan kepala nya.
Gary kembali melangkah mendekati mobil nya namun mata nya masih tertuju pada punggung Erina. "Lebih baik lagi jika suami tak peduli ! Bukankah aku bisa mendapatkan mu kalau begitu ?." Sunggingan di salah satu bibir Gary menandakan jika dia tertarik pada sosok Erina.
Gary seakan tak peduli wanita yang tengah dia sukai begitu saja tengah mengandung, entah apa yang membuat nya tertarik dari wanita itu.
Mobil Ferarri itu pun melesat pergi, melanjutkan perjalanan nya ke tempat kediaman nyonya Lee.
Lima belas menit berlalu, Gary pun memarkirkan mobil nya di area pelataran rumah yang asri dengan tanaman terurus apik.
"Selamat siang." Sapa satpam yang berjaga di depan rumah.
Gary menurunkan kaca pintu mobil nya dan sedikit memiringkan kepalanya agar melihat penuh wajah dari satpam itu.
"Nyonya Lee nya, ada?," Tanya Gary.
"Tuan Gary ! Ada ada tuan, silahkan masuk." Ucap Satpam itu langsung mengenali wajah tampan Gary.
Pelayan rumah ke luar, memeriksa siapa yang datang ke rumah besar, karena tuan Liam itu tidak mungkin akan pulang jika tidak ada keperluan mendesak.
Klek..
Pintu tinggi berwarna abu muda itu pun terbuka, pelayan rumah yang menjadi pelaku di sana menatap Gary lekat seakan mencoba mengidentifikasi wajah asing di depan nya.
"Siang." Sapa Gary dengan nada akrab nya.
Pelayan itu seketika tersenyum dengan hangat, dia seketika menyadari jika pria di depan nya adalah teman dekat dari tuan Liam.
"Selamat siang tuan Gary ! Selamat datang kembali di rumah besar Lee." Tutur nya dengan sopan.
Gary pun masuk di pandu oleh salah satu pelayan itu.
"Ekhemm."
Gary berdehem sengaja keras agar wanita berusia kepala empat itu menoleh.
Benar saja, deheman Gary mengundang nya untuk segera menoleh. Majalah di tangan nya segera dia tutup dan kacamata pun di tanggalkan.
Bibir merah matang itu seketika melebar, memberi keindahan dan ketulusan.
"Gary ?!."
"Apa kabar mu nyonya Lee !?." Gary pun ikut memberikan senyuman di sela langkah nya.
"Aaaaaaa kau datang ? Astaga kenapa tidak bilang dulu akan ke mari ?,"
"Jika tahu, nyonya ini akan masak masakan lezat untuk mu !."
Mulai, ya suasana rumah mulai berisik dengan teriakan nyonya Lee yang begitu keras sampai penghuni harus menutup telinga nya.
"Bagaimana kabar mama ?." Gary memeluk nyonya Lee kemudian melepas kembali. "Di mana Papa Lee, apa dia masih sibuk bekerja sekarang ? Aey aey mungkinkah sekarang nyonya ini kesepian di tinggal suami dan putra nya bekerja ?." Goda Gary dengan nakal nya.
"Itu tahu, dasar anak dan ayah sama saja ! Mereka malah sayang dengan pekerjaan nya dari pada kepada ku. Lihat saja sekarang, ngurus rumah, baca majalah, scroll handphone menjadi kesibukan ku. Tch, menjengkelkan !." Gerutu nya duduk kembali dengan kasar.
Rambut hitam dan dia gelung seperti kebanyakan ibu-ibu zaman dulu terkesan terlihat begitu keibuan jika menatap nyonya Lee.
"Hahahaha sudahlah, bukan kah itu memang pekerjaan perempuan !?." Celetuk Gary dengan tawa nya.
Ya, Gary memang bisa menjadi orang jika tengah bersama dengan keluarga Liam. Namun jika berada di tengah keluarga nya sendiri dia akan tak tersentuh sampai di mana dia dekat dengan Yuma dan semakin dekat, semakin juga dia menyayangi Yuma-adik sepupu nya itu.
...**...
Yuma menuju dapur dan langsung membuka kulkas mencari bahan yang akan di masak untuk menyiapkan bekal makan siang.
"Nona ada yang bisa saya bantu ?." Bibi Qin melihat-lihat Yuma yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam kulkas.
"Tidak apa bi, aku sedang milih bahan masakan untuk bekal Daniel !," Ucap Yuma mengeluarkan beberapa bahan dan menyiapkan beberapa bahan untuk membuat kue.
"Bibi bantu." Bibi Qin kembali menawarkan.
Yuma merespon dengan senyum."Bibi sudah selesai pekerjaan nya ? Jika belum lanjutkan saja. Yuma bisa sendiri bi !." Tutur nya.
Bibi Qin merasa tidak enak dengan kerendahan hati dan juga kesopanan Yuma sampai dia tersenyum canggung.
"Tidak apa bi, pergi saja !," Seru Yuma kembali.
"Oh iya, mama sedang di mana ? Di kamar nya kah ?."
Bibi Qin kembali menoleh saat hendak melangkah.
"Iya non, nyonya sedang beres-beres." Sahut bibi Qin.
Yuma hanya menyahuti balik dengan anggukan, kemudian bibi Qin pun ke luar dari dapur.
Yuma masih berkutat dengan peralatan dapur nya saat ini, dia sangat sibuk sampai-sampai tak sadar jika mama Ella tengah memperhatikan nya.
Ekheemmm
Mama Ella sengaja berdehem.
"Mama !." Seru Yuma sedikit kaget, untung saja loyang itu tak jatuh membanting meja masak.
"Hahahaha kau ini begitu serius sampai tak sadar mama sudah lama berdiri di sini." Cebik mama Ella sembari kecak pinggang namun melangkah mendekati Yuma.
"Maaf ma," Ucap Yuma dengan mimik wajah merah merona namun juga nampak lelah.
"Sedang membuat apa ?," Mama Ella melihat-lihat masakan yang sudah matang dan sudah tersimpan dalam kotak nasi.
"Capcay, daging sapi kecap pedas, telur gulung isi sayuran ! Wah sehat-sehat semua. Bolehkah mama mencoba nya ?." Mama Ella begitu antusias dan dengan cepat sudah memegang sumpit di tangan nya.
"Tentu boleh dong ma ! Cicipi dan kasih komentar untuk masakan ku."
Mama Ella pun segera memasukkan sepotong irisan daging sapi yang begitu menggiurkan ke dalam mulut nya.
" Euuummm enak sekali," Mama Ella malah bertepuk tangan sembari memuji masakan menantu nya itu.
"Daniel pasti akan suka." Ujar mama Ella.
"Itu harus ma, jika dia membuang nya akan aku tendang ke antartika hahahaha." Sahut Yuma dengan candaan nya. Mama Ella menatap dengan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Mama mau juga untuk papa ya ! Ngga apa biar mama yang ke sana dan Yuma ke kantor Daniel." Mama Ella pun dengan cepat menyiapkan wadah bekal untuk papa Chen.
"Boleh" Ucap Yuma.
...**...
Di sini sekarang, di depan pintu masuk perusahaan yang di mana Daniel bekerja sebagai presdir.
"Silahkan nona." Ucap supir itu membuka pintu dengan etika yang begitu baik.
Yuma mengangguk membalas sikap sang supir.
"Kak Yuma." Teriak salah satu staf yang tidak salah mereka adalah fans dari Yuma saat bekerja dulu.
"Hai" Yuma membalas dengan lambaian tangan serta senyum seperti biasa.
Teriakan itu mengundang sebagian staf yang hendak pergi ke kafetaria, salah satu nya adalah Wufan.
Wufan kembali berjalan mundur dengan pandangan dia miringkan untuk memastikan jika nama yang di panggil oleh beberapa staf benar adalah nama Yuma.
"Yuma" Reflek Wufan pun ikut memanggil dengan sedikit berteriak.
"Wufan" Yuma bergegas berjalan ke arah Wufan setelah menyapa staf yang lain.
"Kau di sini ? Sedang apa ? Itu, itu bekal untuk siapa ? Buat aku kah ? Kenapa bawa dua ?." Pertanyaan Wufan benar-benar satu kali tarikan nafas sampai-sampai Yuma sendiri menahan nafas.
"Heh jawab" Wufan benar-benar tak memberi celah untuk Yuma menjawab.
"Jawab ? Jawab bagaimana eum ? Dari tadi kau terus bertanya dan terus menukas nya." Dengusan Yuma membuat Wufan cengir kuda.
"Ya sudah ah, aku ke atas dulu ! Oh iya besok datang ke toko kue, kita makan-makan di sana. Beritahu yang lain nya, ok!!"
Yuma tanpa ingin berdiri lama dengan Wufan, dia pergi begitu saja. "Wah lancang sekali bocah itu." Cibir Wufan kesal.
.