
ke esokkan harinya.
kanza memulai kembali rutinitasnya di kantor seperti hari hari sebelumnya. di hari itu tristan datang ke kantor kèsiangan tidak seperti hari hari biasanya selalu datang pagi. wajah tristan terlihat lesu dan kurang semangat saat tiba di kantor.
"tristan apa kau baik baik saja... mengapa kau kelihatan lesu seperti itu...??" tanya kanza saat tristan akan melewati depan meja kanza. yang berada depan ruangannya.
"aku tidak apa apa kanza." jawab tristan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. "ta tapi omaa.." ucapnya pelan.
"oma...!!" pekik kanza lalu berdiri menghampiri tristan. "ada apa dengan oma mu tristan??" tanyanya lagi.
"kita bicara di ruangan ku saja." belum kanza menjawab tristan meraih tangan kanza dan menarik nya masuk ke dalam ruangannya.
mereka pun duduk di sofa yang berbentuk L yang ada di dalam ruangan tristan. tristan terdiam lama, ia bingung harus mengatakannya pada kanza.
tiba tiba kanza menepuk pundak nya, sontak membuatnya menoleh ke arah kanza.
"katanya mau bicara, tapi kok diem sih??" tanyanya pada tristan. tristan hanya menatap kanza, dia masih saja diam. "apa kau ada masalah tristan... ayolah ceritalah pada ku, jangan cuma aku saja yang selalu curhat pada mu jika ada masah." bujuknya, kanza penasaran.
terdengar helaan nafas berat tristan, tristan memalingkan wajahnya dan menundukkannya. dengan mengkatupkan kedua tangannya ke depan.
"i ini soal oma...!" jawab tristan pelan, namun tetap di dengar oleh kanza.
mendengar nama oma, wajah kanza memucat. ia kembali mengingat kejadiann kemarin. oma tristan, tiba tiba sjaa datang dan menyuruhnya segera menikah dengan cucunya.
kanza menarik tangannya dari pundak tristan, dan memalingkannya juga sama seperti tristan.
"emangnya oma kamu kenapa tristann?? apa dia masih memaksa mu menikah dengan ku??" tebaknya dengan terbata bata.
tristan mengheela nafasnya lagi dan menganggukkan kepalanya. " bukan hanya itu kanza, saat ini oma mogok makan." tristan kemudian menyandarkan punggungnya di sanddaran sofa sambil memijit pelipisnya. "jika aku tidak menikahi mu dalam minggu ini, oma akan tetap mogok makan." ucapnya pelan.
jika saja kanza benar benar kekasihnya. tanpa oma diana memintanya, tristan dengan senang hati akan menikahi kanza. wanita yang sudah di cintainya.
sudah lama ia memimpikan kanza menjadi miliknya seutuhnya. menjadikan kanza pendampingnya, hingga mereka tua nanti.
"kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya ke oma mu tristan.. kalau kita tidak memiliki hubungan apa apa,, kita hanyalah teman dan juga atasan dan bawahaan gak lebih". ucap kanza melirik arah tristan.
"a aku sudah mengatakannya kanza, tapi oma tidak mempercayainya." seru tristan, tidak ada sejarah dalam hidupnya menolak permintaan oma diana.
oma diana adalah satu satu keluarganya saat ini. kedua orang tuanya telah lama meninggal, oma nya lah yang mengurusnya dan mengurus perusahaan. perusahaan keluarga kembali di ambil alih oleh oma nya, karna saat itu tristan baru memasuki usia remaja.
perusahaan keluarga saat di tangan tristan, semakin maju bahkan telah memiliki cabang di setiap negara. oma diana sangat bangga pada cucunya.
tiba tiba tangan tristan meraih tangan kanza dan mengengamnya. "kanza...! maukah kau menikah denganku." ucapnya.
kanza melongo mendengar ucapan tristan, matanya membulat sempurna menatap tristan.
kanza menarik tangannya dari tangan tristan. namun tristan mempererat pegangannya.
"tristan, a aku tidak bisaa.. menikah saling mencintai saja aku gagal. apa lagi menikah karna terpaksa gini, aku tidak bisa." tolak kanza terang terangan. kanza menarik tangan nya dan kali ini berhasil, kanza memalingkan wajahnya ke arah lain.
tangan tristan menyentuh bahunya. "aku tidak pernah terpaksa kanza... karena." karena aku mencinta mu.
kata kata cinta seolah tertahan dalam tenggerokkannya.
"sudah lah tristann.." kanza berdiri dari duduk nya dan beranjak pergi, namun langkahnya terhenti saat tristan menahan tangannya
"a aku mencintai mu kanzaa...!"
teriak tristan, ia sudah tidak dapat menahannya lagi.
kanza langsung berbalik menghadap tristan, kanza menatap tristan dengan wajah bingung.
mulutnya terasa kaku untuk berbicara.
"aku mencinta mu kanza." ucap lagi tristan dengan tulus. tristan menyentuh ke dua bahu kanza dan menatap wajahnya dengan dekat.
kanza menepis tangan tristan di bahunya dan melangkah mengarah jendela, kanza menatap langit langit yang sedang menddung. "jangan mempermainkan ku tristan, aku sudah tidak percaya lagi yang namanya cinta." ucapnya dingin. "lagi pun aku tidak pantas dengan mu... aku wanita yang telah gagal berumah tangga tristan." sambungnya kemudian, mata kanza sudah berkaca kaca.
tristan melangkah ke kanza dan menariknya ke dalam pelukannya. "kau harus percaya dengan cinta ku kanza... kau tau, kamu lah yang kuinginkan dalam hidup ku; tidak ada orang lain yang bisa masuk dalam hati ku. aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat mu bahagia dan membuat mu tersenyum sepanjang hari dalam hidup ku. aku sangat mencintaimu."
.............................................
**jangan lupa like, vote dan komentarnya.....
maaf baru up**