
beberapa hari kemudian.
hari ini kanza mendapatkan surat pemecatan dari kantor rama sebagai model iklan di sana. kanza sangat sedih, karna hanya di tempat itulah mata pencariannya.
kanza mengetahui pemecatannya itu perintah dari ayah rama. bahkan kanza sudah tak di isinkan masuk ke dalam kantor itu.
pikiran tentang rama masih terusik dalam pikirannya. kini dirinya di pecat begitu saja, menambah beban dalam pikirannya.
kanza tengah duduk di sebuah taman kota, tempat yang biasa di datanginya dengan rama. kanza tengah membaca buku tabungannya. ia sedang berpikir untuk ke hidupannya ke depan.
"apa aku buat usaha saja yahh". pikirnya dalam hati.
"tapi aku gak punya keahlian sama sekali". gumamnya semakin bingung.
"tabungan ku juga hanya 50 juta, usaha apa coba dengan uang modal segitu".
"hemm".
tristan tiba tiba datang dan duduk tepat di sebelahnya.
"ehh tristann". pekik kanza. "kok kamu di sini??".
(sedikit informasi: kanza dan tristan mulai akrab yah... jadi sekarang mereka ngomongnya bukan secara formal lagi yahh)
"mmm... itu gak penting...!! kamu kenpa gelisah gitu??". tanya tristan mengalihkan topik.
kanza menghela nafasnya. "a aku di pecat". jawabnya dengan sedih.
"jadi sekarang kamu nganggur??". tanya tristan lagi. kanza hanya menjawab anggukan kepala.
"aku berencana buka usaha saja... tapi aku bingung usaha apa..?? aku gak punya ke ahlian soalnya". ucap kanza semakin sedih.
tristan diam mencerna perkatan kanza dan juga sambil berpikir.
"kalau kamu mau... kamu bisa berkerja di perusahaan aku.. kebetulan aku sedang mencari sekretaris..". ucap tristan.
"tapi aku hanya lulusan sma tristan... aku sempat kuliah sihh, tapi aku berhenti karna aku menikah". ucap kanza pelan berkali kali menghela nafasnya..
"itu soal gampang... kalau kamu mau, besok kamu boleh mulai bekerja". ucap tristan.
kanza mengaruk kepalanya yang tak gatal... ia sedang berpikir dengan tawaran tristan.
terima gak yahhh... terimaa aja dehh.. dari pada aku nganggur.
"bagaimana??".tanya tristan menunggu jawaban kanza.
kanza mengangguk pelan. "i iya. aku mau". jawabnya.
"baiklah, aku menunggu mu besok". ucap tristan senang.
*
*
*
*
*
*
kanza sudah bersiap siap ke perusahaan tristan. ia memakai pakaian formal layaknya pegawai kantoran. dan di tambah sedikit riasan di wajahnya.
"bii...!! aku berangkat yahh...". pamit kanza buru buru pergi.
sesampainya di perusahaan tristan. kanza berjalan menuju lobby karyawan karyawan di sana sedang mengantri menunggu lift terbuka.
saat kanza memasukki lobby itu, semua mata menatap arahnya. siapa sih yang gak kenal kanza.. seorang model yang cukup terkenal.
"wwahh itu kan kanza". ucap karyawan laki laki yang terus menatap arah kanza..
"iaa..!! dia kanza..".ucap temannnya.
"dia cantik banget yah". puji lagi yang lain.
kanza mendengar hal itu hanya terdiam, dia berusaha bersikap biasa.
"pagi kanza". sapa seseorang di belakangnya.
kanza pun menoleh. ternyaata tristan yang memanggil nya. kanza tersenyum manis.
"pagi tuan tristan".balas kanza.
"kenapa panggil tuan lagi". tanya tristan menaikkan satu alisnya.
"anda kan atasan saya tuan... apa kata mereka saya memanggil anda nama saja.. bukan kah itu tidak sopan".ucap kanza.
"ia sudah". tiba tiba meraih tangan kanza dan menariknya masuk ke dalam lift khusus presdir.
"tu tuan... apa yang anda lakukan". pekik kanza.
"mulai hari ini... kamu pakai lift ini saja". titah tristan..
"bagaimana bisa saya begitu tuan... saya kan hanya karyawan biasa di sini.. gak enaklah sama karyawan lainnya". protes kanza.
"kamu bukan karyawan biasa tapi sekretaris aku".
...Bersambung...
*
*
*
*
*