
...**JANGAN LUPA...
...TEKAN LIKE...
...DAN...
...BAGI VOTENYA JUGA YAHH...
..................SELAMAT MEMBACA**...............
kanza membawa beberapa berkas ke tristan untuk di tanda tangani. kanza pun duduk di kursi di depan meja kerja tristan. ia menunggu lama karna tristan membacanya dulu lalu menandatanganinya.
"makasih yah tristan mainan yang kamu bawa untuk nabila kemarin, nabila sangat suka." ucap kanza.
ya ketika kanza berada di dalam ruangan tristan, mereka selalu berbicara, dari masalah pekerjaan hingga masalah pribadi pun. kanza sangat terbuka dengan tristan.
"benarkahh...!!" mata tristan berbinar binar menatap arah kanza. "aku akan membawakannya mainan lagi." ucapnya.
kanza tertawa kecil sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "gak usahh... jangan bawain bila mainan lagi.. mainan nya sudah sangat banyak, kasihan bi siti terus terusan membereskan mainan bila." tolak kanza. "mas dewa kalau datang menemui bila pasti juga bawain mainan...".
"tuan dewa sering...." tiba tiba suara teriakan di depan pintu mengangetkan kanza dan tristan.
"titan....!!!" suara teriakan oma diana yang sudah berdiri depan pintu.
sontak tristan dan kanza langsung berdiri karna keget, tiba tiba oma diana datang.
"oma..!!" pekik tristan dan kanza.
oma diana tidak menjawab dan kemudian berjalan memakai tongkatmenghampiri tristan, matanya menatap tajam arah cucunya seolah olah akan melahap tristan hidup hidup.
"omaa kok di sini??" tanya tristan perasaannya tidak enak melihat raut wajah oma diana.
saat oma sampai di depan tristan, tangannya langsung memukul kepala tristan.
"auuuu...!!" jerit tristan tiba tiba oma nya menyerangnya.
"dasar cucu durhaka...!!" sembur oma diana terus memukul kepala cucunya. "kau membohongi omma mu ini, katanya kau akan kembali lagi... manaaa, berbulan bulan sudah oma menunggu mu kau juga tidak datang datang." geramnya.
"ampun omaa...!"
kanza melihatnya menahan tawanya. karna merasa kesihan dengan tristan yang tidak bisa melawan. kanza menghampiri oma, memegang pundaknya.
"omaa,, udah dongg... kasihan tristannya." bujuk oma menahan tangan oma diana.
berhasil membujuk oma diana, kanza membawa oma diana duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tristan. merasa oma nya sudah jinak tristan pun duduk di sebelah oma nya.
"bukan angsa oma, tapi kanza." potong tristan.
"ia ia kanzaa.. wajarlah oma lupa,oma udah tua." sembur oma diana lagi ke tristan.
kanza tersenyum kecil saat melihat tristan di omelin omanya. seorang tristan ceo dari perusahaan besar terkenal dingin ke semua orang kecuali padanya dan oma. tristan melunak dan bersikap lembut padanya begitu juga pada oma.
"oma langsung to the point saja... kapan kalian akan menikah...??" pertanyaan oma diana bagaikan petir yang menyambar tristan dan kanza.
"ha... menikahhh...!!" pekik kanza matanya membulat sempurna dan kemudian melirik arah tristan.
"iaa menikahh angsaa...!!"
"bukan angsa oma kan za ka n za kanzaaa". ucap tristan.
oma diana mengendus kesal dan kemudian mengetuk kepala tristan. "salah dikit doang di protess." semburnya lagi.
"lanjut pembahasan tadi kapan kalian akan menikahh...".
"omaa...!!" tristan akan berkata namun oma diana memotongnya.
"apaa...!! selagi oma di negara ini kalian harus menikah, tidak ada alasan lain lagi." ucap oma diana tegas.
..............
pukul 5 sore
kanza pun pulang, kepalanya terasa pusing. memikirkan kejadian tadi siang, oma diana mengira dirinya kekasih trstan. dan berencana menikahkannya dengan tristan.
tristan yang ingin protes selalu di sembur oleh oma diana.
setibanya di rumahnya. wajah kanza semakin suntuk saat melihat dewa sudah duduk di teras rumahnya bermain dengan nabila.
"mas dewaa...!" sapa kanza dengan terpaksa.
"baru pulang kerja kanza...??" kanza hanya menjawab anggukan.
"aku masuuk dulu yah mass istrahat, kepalaku pusing banget." pamit kanza untuk masuk. kanza beralih ke nabila. "mami kedalam yah sayang..."
"ia mi...!!
"kanza... wajah mu sangat pucat apa perlu aku memanggil dokter untuk memeriksa mu."
"tidak perlu." ucapp kanza lalu pergi.