
Satu minggu kemudian
Kanza, Tristan, Nabila dan Bi Siti telah baru saja tiba di indonesia. Tristan mengendong Nabila yang sedang tertidur ke dalam kamarnya. sementara Kanza kelelahan dan masuk kedalam kamarnya.
Setelah menidurkan Nabila, Tristan menyusul Kanza ke dalam kamar mereka. Terlihat, Kanza sedang memijat pelipisnya dan wajahnya agak pucat.
"kamu kenapaa sayang???." Tristan menghampiri istrinya dan duduk di sisi tempat tidur di sebelah Kanza. "apa kamu sakit, wajah mu terlihat pucat." Tristan kawatir dan tanpa di suruh, Tristan memijat pelipis Kanza.
"aku tidak apa apa Tristan, aku hanya kelelahan." Kanza memeluk erat lengan kekar suaminya dan menghirup aroma maskulin di tubuh suaminya. "tidak usah di pijitin Tristan, aku lebih merasa enakan saat kamu berada di dekatku." ucap Kanza sambil memejamkan matanya.
Tristan tersenyum dan kemudian tangannya berpindah kepinggang ramping istrinya. sesekali Tristan mengecup kepala Kanza.
"kenapa kamu jadi manja gini sih sayang?" tanya Tristan, Kanza terlihat tidak seperti biasanya. beberapa hari ini Kanza berubah sangat manja dan tidak ingin jauh jauh darinya.
"apa aku tidak boleh bermanja manja dengan suami ku sendiri." Kanza merajuk dan melepas tangannya dari lengan suaminya, wajah Kanza berubah cemberut.
"tidak sayang, kamu sangat boleh bermanja denganku bahkan aku sangat senang." bantah Tristan dengan cepat.
"sudahlah, katakan saja kalau kamu tidak suka." Kanza tetap cemberut dan kemudian menarik selimut dan berbaring. Kanza berbalik ke arah lain tidak ingin mengarah ke suaminya.
"Sayangg... aku tidak bermaksud begitu, aku hanya heran. tidak biasanya kamu bermanja manja seperti tadi. tapi aku sangat senang, aku bahagia kamu mau bermanja manja dengan suami mu ini." Tristan memegang bahu Kanza. "yankk." panggil Tristan karna tidak ada respon dari kanza. "yank." panggilnya lagi, namun tetap saja Kanza masih saja diam.
tiba tiba terdengar suara dengkuran kecil, Tristan tersenyum melihat Kanza ternyata tertidur dengan pulasnya. Tristan mengelus kepala kanza dan kemudian mengecupnya.
.........
Dewa baru saja tiba di kediaman orang tuanya, ia berjalan sempoyongan memasuki rumahnya dengan memegang botol Vodka. Mama dan papa Dewa yang sedang berada di ruang keluarga melihat kedatangan Dewa.
Papa Dewa geram, rahangnya mengeras sempurna melihat Dewa pulang dalam keadaan mabuk. hal ini bukan terjadi sekali, bahkan sudah berkali kali. Sejak Kanza menikah, Dewa semakin terpuruk dan tidak menerima Kanza telah menikah dengan laki laki lain.
"Dewa." panggil Papa Tommy dengan suara tinggi.
Dewa kemudian menghentikan langkah nya saat akan menaikki tangga dan berbalik ke arah belakangnya. Papa Tommy berdiri dan menghampiri Dewa di susul mama Rima.
"sampai kapan kamu seperti ini Dewa..." bentak papa Tommy. "apakah dengan merusak dirimu Kanza akan kembali pada mu ha...??? Seharusnya kamu sadar, dan bertobat. bukan menghancurkan diri mu seperti ini. Kanza sudah bahagia, apa kah kamu akan terus hidup dalam penyesalan dan menunggu kanza akan kembali padamu."
Papa Tommy memang kecewa dengan putra nya karna kebodohannya, membuat rumah tangganya sendiri hancur. namun ia juga kasihan melihat hidup Dewa hancur dalam penyesalan.
"Dewa, hidup kamu masih sangat panjang... jangan terpuruk oleh penyesalan. jadikan kesalahan mu kemarin menjadi pelajaran hidup." kali ini suara papa Tommy sedikit lembut.
"benar kata papa mu Dewa, apa yang kamu dapat melakukan hal ini??? apa dengan ini Kanza akan kembali pada mu?? tidak Dewa.. Kanza takkan kembali lagi padamu, ia sudah memiliki keluarga baru." Timpal mama Rima penuh penekanan. "di luaran sana, masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Kanza yang bisa kamu dapatkan.. lupakan wanita itu dan lanjutkan hidupmu."
"ma." tegur papa Tommy..
"sudah maa... jangan menyuruh ku mencari wanita lain di luarann sana, aku takkan mau menikah lagi. aku akan tetap menunggu Kanza kembali pada ku." ucap Dewa dengan tegas
...bersambung...