
sesampainya di kamar, Kanza kembali terkagum kagum, akan kemewahan kamar Tristan. Jika saja, ia memiliki penyakit jantung. ia pasti sudah mengalami serangan jantung.
ini bukanlah kamar namun lapangan futsal. kamarnya sangat luas dan di lengkapi berbagai Fasilitas mewah.
Kamar ini memiliki nuansa emas dan putih yang super mewah. Mulai dari tirai, hiasan kaca, hiasan dinding, karper, pinggiran kursi sampai dipan dilapisi warna emas mengkilap. Atap kubahnya yang besar berlangit-langit emas semakin cantik dengan adanya lampu gantung kristal berbentuk bulat.
"Apa kamu menyukainya sayang??" tanya Tristan merangkul pundak Kanza. "aku akan menyuruh kepala pelayan mengubah sesuai yang kamu mau kalau kamu tidak menyukai kamar ini." sambung kemudian.
"tidakk, aku menyukainya. ini sangatlah sempurna.. aku seperti berada dalam istana." ucap Kanza. "ahttttt." Jerit kanza saat tubuhnya tiba tiba di gendong ala bridal style oleh suaminya. "kenpaa kau mengendongku tristan, turun kan aku." Pinta nya masih kaget.
Tristan tersenyum, tanpa aba aba. Tristan mencium bibir kanza dengan rakusnya. mata Kanza melotot Trisan tiba tiba menciumnya. Tristan menciumnya sambil melangkah ke tempat tidur.
Tristan meletakkan tubuh kanza di atas tempat tidurnya namun masih tetap menciumnya.
"tristan." Panggil kanza Di ikuti suara desahannya, bukan cuma mencium Tristan memainkan bagian sensitifnya.. entah kapan Kancing baju nya terlepas ke dua gunung kembarnya sudah terlihat tidak ada penghalang lagi.
"Tristann.." panggil lagi kanza Saat ke dua bukir kembarnya di mainkan Tristan. ia merasa kegelian. "aku mandi dulu." pinta kanza.
"Nanti saja."
Kanza menghela nafasnya dan menuruti Tristan yang ingin di layani. walau lelah, ia harus melaksanakan tugasnya. melayani suami adalah kewajiban istri jika menolak maka berdosalah ia.
"huuuhh...." Kanza dan Tristan melakukan pelepasan bersamaan. walau suhu kamar dingin karna Ac namun tetap saja mereka keringatan setelah olahraga malam.
Tristan menjatuhkan tubuhnya di samping Kanza, Tristan membawa kanza ke dalam pelukannya, dan mencium kening Istrinya berkali kali.
"Tristan... aku ingin mandi..." pinta Kanza.
"ia... kita mandi samaan saja." ajak Tristan yang terbangun kembali. tanpa ijin dan tanpa aba aba tristan mengendong Kanza lagi ala bridal style.
"Tristan turun kan aku, aku bisa jalan ke kamar mandi sendiri.. jangan mengendongku." gerutu kanza.
"aku akan menurunkan mu saat di kamar mandi." ucap Tristan dengan santai.
Kanza menghela nafasnya. ia memilih mengalah. ia menutup wajahnya ke biang dada Tristan, wajah nya memeerah menahan malu. karna tubuhnya masih polos begitu juga dengan Tristan.
Padahal ia sudah seminggu menjadi istri Tristan dan sudah seminggu juga mereka melakukan hubungan suami istri.Tristan sudah melihat tubuh polosnya. namun tetap saja ia masih malu.
Saat di dalam kamar mandi Kanza kembali terkagum kagum dengan ke mewahan kamaandi. ini mah bukan sultan namun dewaaa.
Kamar mandi mewah ini mulai dari lantai, pinggiran bathtub, dinding, sampai westafel dan tiang-tiangnya berlapiskan marmer marbel keemasan. Tak hanya itu, karena beberapa dinding kamar mandi ini juga terdapat corak hiasan emas, pun dengan frame kacanya yang juga berwarna emas mengkilap.
Tristan menurunkan Kanza di dalam bathtub. Tristan menuangkan beberapa cairan di dalam air. aroma nya sangat wangi, beberapa saat airnya sudah berbusa. Tristan bergabung ke dalam bathup dan berendam bersama istrinya.
Bathub nya ukuran besar, Kanza tidak merasa kesempitan saat Tristan masuk.
Kanza menghela nafas beratnya. ia sudah tau bukan hanya mandi, lagi dan lagi Tristan melakukan hal itu padanya. satu jam mereka berada dalam kamar mandi.
Tristan mengecup kening kanza yang sudah tertidur pulas. Tristan membawa kanza ke dalam pelukannya. beberapa saat kemudian ia juga tertidur.
pagi harinya.
Kanza bangun dari tidurnya saat cahaya sinar matahari sudah berada di atas. seperti nya ia ke siangan. Ia melihat di sampingnya sudah tidak ada Tristan. Kanza langsung masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
setelah mandi dan memakai pakaiannyaa dengan di tambah sedikit polesan di wajahnya. kanza keluar dari kamarnya mencari Tristan.
ia melihat kepala pelayan yang menyambutnya semalam.
"selamat pagi nyonya." sambut kepala pelayan itu menundduk hormat.
Kanza kaget saat kepala pelayan mengunakan bahasa indonesia.
"selamat pagi Sir." Balas kanza canggung. Anda bisa berbahasa indonesia??" tanya Kanza.
"ia nyonya.. kami semua sudah bisa berbahasa indonesia." Jawab kepala pelayan.
kanza mengangguk pelan. kanza kembali mengingat suaminya yang entah kemana. "sirr Petter apa anda melihat suami saya??" tanya Kanza melirik sana sini mencari keberadaan suaminya.
"Tuan sudah ke kantor nyonya. Tuan tidak membangunkan anda karna melihat tidur anda sangat nyenyak." ucap Sir Petter. Kanza kembali mengangguk. "nyonya silahkan ke ruang makan, anda belum sarapan." ajaknya kemudian.
Kanza mengangguk pelan, dan berjalan mengekori Sir Petter menuju ruang makan.
di ruang makan sudah ada Nabila dan bi Siti di sana sedang sarapan.
"pagi mami." Sapa nabila saat melihat kedatangan maminya.
"pagi sayang..." baalas kanza sambil tersenyum. "bila lagi sarapan apa??" tanya kanza melihat putrinya makan begitu lahap nya.
"entah mi." jawab Nabila tidak tau nama makanan yang di makannya.
"namanya Enchiladas.. ini adalah sarapan khas meksiko nyonya." jawab Sir Petter.
"sangat mengoda, aku juga ingin mencobanya."
bersambung
.
.
.
.
.