
di pagi hari
kanza memulai kembali rutinitasnya, pagi pagi dirinya sudah berangkat ke kantor. jam masuk kantor pukul 08.00 pagi, namun kanza berangkat pukul 06.30 pagi. jika berangkat siangam dirinya akan terjebak macet.
"selamat pagi nona kanza". sapa satpam saat kanza memasukki lobby.
"selamat pagi pak bayu". balas kanza sambil tersenyum dan berlalu pergi.
setibanya depan lift, saat kanza akan menekan tombol lift seseorang terlebih dahulu menekannya, membuat jari telunjukk kanza menyentuh tangan orang itu. segera kanza menjatuhkan tangannya dan melirik orang yang berdiri di belakangnya bahkan tubuhnya hampir menempel dengan orang itu.
"Tristan". pekik kanza, tristan langsung tersenyum menatap wajah kanza. "tumben pagi pagi udah datang". kanza menarik kembali pandangannya ke arah lift.
"jam 09 nanti kita ke bogor untuk meninjau proyek di sana". ucap tristan.
ting
saat kanza akan berbicara lift terbuka, kanza dan tristan pun masuk ke dalam lift.
"aku kira pak ello yang ke bogor untuk meninjau proyek di sana". kanza melirik tristan yang berdiri tepat di sampingnya.
"semalam ello mengalami kecelakaan saat pulang kerja kanzaa... jadi ello nya gak bisa ke bogor". jawab tristan.
"haa...!! kecelakaan". pekik kanza. "terus keadaan ello sekarang gimana tristann??". tanya nya memperlihat ke kawatirannya.
ello adalah asisten tristan, di antara karyawan karyawan di kantor ello lah yang paling dekat dengan kanza. ello juga lah yang membantunya di kala dirinya sulit mengerjakan pekrjaannya.
"ello baik baik saja, cuma kakinya patah dan harus istrahat selama 2 minggu". jawab tristan, kanza bernafas lega. "kamu bersiap siap yahh... 1 jam lagi kita ke bogor".
"aku juga ikut tristan?".
"iaa".
1 jam kemudian, tristan sudah bersiap hari ini tak mengenakan kemeja dan jas. hanya mengenakan kaos santai dan celana jeans. di dalam ruangannya, tristan memiliki ruang ganti dan pakaiannya lengkap di sana. jadi dirinya dengan mudah menganti pakaiannya. tak lupa membawa 2 jaket untuknya dengan kanza juga untuk persiapan jika cuaca panas saat meninjau lokasi.
tristan dan kanza mereka sudah di bawah, dan sudah di tunggu sopir di depan lobby. tristan membuka kan pintu mobil untuk kanza dan mereka duduk bersebelahan di kursi belakang.
perjalanan yang membosankan bagi kanza, sebenarnya ia ingin sekali mendengarkan musik di ponselnya menggunakan handsfree tapi ia khawatir akan tertidur.
sementara tristan sibuk dengan laptopnya, ia mengerjakan pekerjaannya di sana.
"tidurlah, kalau kamu ngantuk, sepertinya perjalanan ini akan memakan waktu dua jam, karna lalu lintas padat". suara tristan memecahkan lamunan kanza.
"iya tristan".
tristan memang selalu tahu apa yang aku mau... ok mendding sekarang aku memejamkan mataku.
benar yang di katakan tristan, mereka sampai di bogor setelah kurang lebih dua jam perjalanan. kanza sudah membuka matanya, rasanya ia ingin mengeliat seperti yang biasa ia lakukan saat bangun tidur, tapi tak mungkin ia melakukan di sini.
mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju lokasi proyek yang sedang di bangun, mobil terparkir lumayan jauh dari lokasi. dan untuk memasuki lokasi, mereka harus berjalan kaki sekitar 10 menit.
kanza kesulitan berjalan karna ia memakai sepatu pump shoes yang tingginya 4 cm. ia berjalan dengan tidak nyaaman karna jalan mereka lalui tidak lah mulus, dan membuatnya hampir terjatuh. untung saja tristan menahan pinggang kanza hingga tak terjatuh. mata mereka saling bertemu. membuat kanza dengan cepat berdiri.
"maaf". kanza melirik sepatunya yang bawahannya patah. "yahh patah". celetuknya.
tristan berjongkok dan mengangkat kaki kanza. "apa yang kamu lakukan tristan??". tanyanya bingung.
"mempermudah mu untuk berjalan". jawab tristan sambil melepas bawahan sepatu kanza yang satunya. "sudah". tristan pun berdiri kembali..
"makasih tristan, aku jadi gak ke sulitan berjalan lagi".
...bersambung...