
cuaca kala itu sangat bersahabat, tidak mendung dan matahari juga tidak terlalu terik, hanya saja di bagian timur sebagian awan menghitam..
tristan dan kanza sudah sampai di pos penjagaan, sebelum benar benar sampai ke lokasi gedung, mereka terlebih dahulu di anjurkan memakai helm safety.
"ini kanza kamu pakai, di sini banyak debu". tristan memakaikan masker pada kanza.
"terima kasih tuan". kanza memanggil tristan tuan karna bukan hanya mereka berdua saja di sana.
"kanza saat di lokasi nanti, kamu ambilkan beberapa foto yah untuk dokumentasi". titah tristan.
"baik tuan". jawab kanza, kala itu mereka benar benar berbicara secara formal, selayaknya tak ada hubungan lain selain bos dan sekretaris.
mereka benar benar sudah sampai di lokasi, tristan sedang sibuk berbicara serius dengan pengawas proyek. kanza juga bekerja sesuai perintah tristan, yaitu mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. lalu ia menjauh dari mereka sekita 10 meter, agar hasil fotonya maksimal. ia mengambil foto saat mereka di lokasi, sangat banyak foto yang jepret oleh kanza melalui ponselnya. ia tersenyum melihat ulang hasil fotonya.
"ya ampun tristan, lagi bengong aja masih terlihat tampan". ucap kanza tanpa sadar.
"siapa yang tampan". suara khas seseorang mengagetkannya, ya dia adalah tristan.
"lohh... kok kamu di sini, bukannya tadi di sana yah". celetuk kanza yang wajah sudah berubah memerah menahan malu, karna tanpa sadar memuji tristan dan ketahuan oleh tristan.
"yang tampan siapa kanza??". tanya nya lagi mengabaikan pertanyaan kanza barusan.
"itu, tristan yang itu". kanza asal menunjuk ke seorang laki laki yang di beri kepercayaan oleh perusahaan untuk bertugas mengawasi proyek. laki laki botak berkumis dan memiliki tubuh gemuk.
"hmmmm... kamu yakin kanza dia tampan?? pengelihatan kamu benar benar benar bermasalah". cibir tritsan menahan tawanya.
kanza memilih diam dia tak mau memperpanjang pembahasan itu, dari pada ketahuan, pikirnya.
setelah satu jam berada di lokasi itu, awan mulai menghitam di atas mereka, sepertinya hujan akan turun dengan derasnya. tristan sudah selesai melakukan peninjauan, tristan dan kanza berjalan menuju mobil.
saat stengah berjalan, tiba tiba saja ada cahaya kilat petir, membuat kanza reflek memeluk lelaki yang ada di sebelahnya, dan tak lama kemudian terdengar suara gemuruh di langit.
"aku takutt". kanza memeperat pelukannya karna ketakuatan mendengar suara gemuruh yang cukup keras. tristan membalas pelukann kanza, ingin rasanya dirinya mencium kening kanza yang berada di bawa dagunya.
"sudah jangan takut, ada aku di sini kanza??".
π΅BIAR KAN AKU
π΅ tapi tidak sesaat.
π΅ biarkan aku
π΅ jadi tempat untuk bersandar di saat
π΅ kau terpuruk rapuh.
π΅ jangan sampai kau lemah
π΅ ku yakin pasti bisa bangkit
π΅ jangan anggap kau sendiri hadapi
...πΆ Ada aku di sini....πΆ...
(lirik lagu Dhyo haw)
setelah beberapa detik, kanza melepas pelukaannya.
"maaf tristan, aku ngak sengaja". wanita cantik itu pun langsung berjalan mendahului tristan, ia mempercepat langkahnya, karena terlalu malu. jika ada jurus menghilang, rasanya ia ingin menghilang dari tempat itu. melihat tingkah kanza, tristan menghela nafasnya dan tersenyum.
seperti nya hari ini aku takkan mandi.
air langit mulai turun dan tanpa menunggu lama langsung turun hujan dengan derasnya, membuat kanza dan tristan basah kuyup.
tristan mempercepat langkahnya mengejar wanita yang sangat di cintainya itu yang di hadapannya. lalu membuka jaketnya dan memakaikan pada kanza, hingga membuat kanza menoleh padanya.
"sama saja tristan, kan basah juga, untuk apa pakai jaket".
"kamu lupa warna bajuumu?? itu jelas terlihat, jika hanya ada kita berdua, aku takkan menutupinya, dan dengan senang hati melihatnya". ucap tristan membuat wajah kanza kembali memerah. benar saja kemeja putih berbahan kantun itu, jjka basah kuyup pasti akan menerawang memperlihatkan isi dalamnya.
"ihh tristann".
Bersambung