
Visual om diana
oma, tristan dan kanza tengah duduk bersama di sebuah meja makan. para pelayan sibuk melayani mereka.
"makan yang banyak cucu menantu". ucap oma.
kanza yang tengah makan langsung tersedak mendengar ucapan oma barusa. tristan dengan cepat memberi nya minum dan menepuk nepuk punggung kanza.
"pelan pelan". lirih tristan.
oma melihat itu pun tersenyum kikuk.. ia sungguh senang tristaan datang bersama seorang wanita. karna sebelumnya cucunya tak pernah membawa seorang wanita di depannya.
apa lagi melihat sikap tristan ke kanza yang sangat perhatian. ia yakin tristan sangat mencintai kanza yang dia kira kekasihnya.
"kapan kalian akan berencana untuk menikah??". tanya oma dengan semangat 45.
kali ini tristan yang tersedak. kanza pun melakukan hal sama. memberikan tristan minum dan menepuk nepuk punggungnya.
"pelan pelan tuan". ucapnya dengan gugup.
"cucu ku memang pintar memilih kekasih... kekasih kamu cantik sekali tristan". puji oma.
rasa rasanya kanza ingin mengatakannya. namun melihat sorot mata tristan melarangnya mengatakannya. kanza pun hanya diam dengan tangan nya meremas baju yang di pakainya. berkali kali dirinya menelan salivanya. sambil menghela nafasnya.
"kok diam sihh ayo makan, makanannya". oma memberikan lauk di piring kanza.
"terima kasih nyonya". ucap kanza canggung.
"jangan panggil nyonya, panggil oma saja... okeyy... piss". oma membentuk v ke dua jarinya dan tersenyum memperlihatkan semua giginya.
"ia oma".
kanza tersenyum kecil melihat tingkah oma tristan yang sangat jauh berbedah dengan cucunya tristan.
*
*
*
*
*
pukul 10 malam oma diana sudah masuk kedalam kamarnya untuk istrahat. sementara kanza dan tristan masih duduk di ruang keluarga.
"maaf yahh". ucap tristan yang sejak tadi diam.
"untuk apa tuan". tanya kanza bingung.
"soal oma". jawabnya pelan.
kanza tersenyum dan mengangguk mengerti.
"kenapa tuan tak menjelaskannya ke oma siapa saya". kanza menatap wajah tristan dengan serius.
"mmm...". tristan terdiam lama karna berpikir.
"omaa satu satunya keluarga yang saya punya... saaya baru kali ini melihatnya tersenyum dan tertawa. maaf kan saya nona kanza tak mengatakan yang sebenarnya ke oma... saya takut oma akan kecewa". ucap tristan datar.
kanza mengangguk pelan.
"ia tuan saya mengerti...".
"makasih nona kanza". ucap tristan canggung.
"ia anda meminta apa nona kanza.. saya akan berusaha mewujudkannya". ucap tristan.
"bisakah anda memanggil ku kanza saja...". pinta kanza.
"baiklah kanza". ucap tristan.
"anda juga harus memanggil saya tristan saja"
pinta balik tristan.
kanza tertawa kecil dan mengangguk pelan.
"baiklah tristan". ucap kanza canggung karna belum terbiasa.
*
*
*
*
*
ke esokkan paginya.
"kalian benar benar akan pulang".ucap oma sedih mengantar kanza dan tristan sampai teras rumahnya.
"maaf omaa... saya harus pulang anak saya sudah menunggu saya di rumah". ucap kanza tanpa sadar.
"haa...!! kalian sudah punya anak". pekik oma.
omaa geram dan memukul kembali tristan seperti kemarin.
"ommaa kenapa omaa memukul ku lagi". keluh tristan.
"kurang ajar yah kamuuu... kamu ternyata sudah punya anak... kenapa kamu menyembunyikannya ke oma". omel oma masih memukul tristan.
"omaa...!!". panggil kanza pelan. ia merasa bersalah.
"kalian pulang lahh.. tapi minggu depan kalian harus kembali bawa cicit oma kemari". pinta oma berhenti memukul tristan dan kemudian memutar balik kursi rodanya dan masuk ke dalam rumah.
"tu tuan... bagaimana ini tuan??".
(sempat ada yang koment... kok kanza masih memanggil tuan... kan belum terbiasa yahh.. kanza nya lupa)
"biarkan saja kanza... ayo kita kembali...". tristan menarik tangan kanza masuk kedalam mobil.
bersambung
*
*
*
*
*
(mampir yah)