Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
9.Pindah rumah


"Kakak." panggilnya terperangah tidak menduga jika yg ia nikahi adalah pangeran tampan yg selama ini menjadi idolanya.


Raffa hanya menatap dengan senyuman penuh kemenangan.


Mereka telah sah menjadi suami istri.


Diandra masih tidak percaya dengan kejadian barusan. Seribu pertanyaan terlintas di otak dangkalnya.


Marah, kecewa dan bahagia masih bercampur aduk di dalam hatinya.


Tatapan membunuh ia tunjukan pada suaminya yg baru saja Ia nikahi.


Mereka duduk di atas pelaminan, kursi putih bersih berhiaskan ratusan bunga segar mengelilingi dekorasi tempatnya menjadi Ratu dan Raja sehari.


Senyuman kebahagian terpancar di wajah tampan Raffa saat itu.


Diandra masih tetap dengan wajah masam dan datarnya.


Bingung dan tidak percaya namun ia berusaha tersenyum meskipun hanya setipis tisu.


Ada Ayah dan Susana duduk jauh di sana melihat Diandra dengan tatapan sadisnya.


Wajahnya sangat terlihat sinis tidak suka melihat Diandra bersanding dengan Raffa si kaya raya itu.


Menurut ayah hanya susana lah yg pantas duduk bersanding dengan pangeran Raffa bukan si gadis haram itu.


Acara telah selesei semua tamu pergi meninggalkan halaman rumah munggil itu yang kini telah menjadi saksi kisah pernikahan mereka.


Diandra melangkah menuju kamar di susul Raffa kemudian.


Diandra tetap menutup mulutnya tidak ingin membukanya wajahnya masih datar masam tanpa ekspresi.


Raffa duduk di atas ranjang setelah mengganti pakainnya.


Diandra masih berada di dalam kamar mandi.


menatap wajah lesunya lekat di depan cermin.


"Diandra, kamu gadis beruntung menikahi pangeran mu tapi apa hidup mu nanti akan seberuntung hari ini, entah lah hanya Tuhan yg tau."ucapnya sinis.


Diandra keluar masih dengan tatapannya yg tidak biasa.


Membanting tubuhnya kasar di pinggir Raffa yg sudah dulu tergeletak telanjang dada.


Diandra menutup separuh matanya dan tidur membelakangi Raffa.


Raffa memiringkan badannya mendekati punggung istrinya.


Mendekatkan bibir seksinya di telinga Diandra.


"Sayang, apa kamu marah?"ujarnya lembut sembari memeluknya dari belakang.


Deg..


Jantung Diandra terpompa lebih kencang.


Pikiran dan hatinya berkecambuk tak karuan.


matanya bulat melebar mendengar ucapan Raffa barusan.


"Kenapa kau memeluk ku." Diandra tanya balik dan menepis tangan Raffa kasar.


Raffa membalikkan badan Diandra pelan, kini ia berbaring terlentang dan kakinya menindihi kaki Diandra.


Wajah Diandra memerah matanya menatap Raffa lekat bingung harus berlaku gimana.


"Maaf, aku terpaksa melakukannya."ucap Raffa lirih dan lembut.


"apa, melakukannya apa ia akan melakukan itu sekarang."tanya Diandra dalam hati.


Memejamkan matanya rapat memegang selimutny kuat- kuat takut jika Raffa akan benar melakukan apa yg sudah menjadi haknya.


"Aku menikahimu tanpa meminta persetujuan mu dulu. Aku tidak tega melihat mu menderita karena perlakuan Ayah dan Kakak mu itu ." Tambahnya .


Hati Diandra merasa plong lega mendengar ucapan Raffa barusan. Yg ia pikirkan jika Raffa akan meminta haknya malam ini juga ternyata pikirannya itu salah.


Membuka mata dan melepaskan selimutnya dari genggamannya perlahan.


Dia menatap wajah Raffa yg hanya berjarak beberapa inci darinya. Hembusan nafasnya sangat terasa menerpa wajah mulusnya.


"Mengapa kau menikahi ku dengan cara seperti ini?" Tanyanya lirih.


Raffa hanya diam dalam senyumnya.


"Sudah malam tidurlah." Ucap Raffa sembari mencium kening istrinya pelan. Melingkarkan tanganya di atas pusar istrinya.


Hati Diandra masih terasa dag dig dug tak karuan merasakan hal yg tak biasa yg belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Diandra tertidur dalam pelukan Raffa meskipun hatinya masih canggung saat itu.


Raffa bangun terlalu dini dan membangunkan istrinya.


Diandra merasa kaget dengan suara lembut Raffa yg terasa hangat di telinganya.


"Sayang, bangunlah sudah shubuh."panggil Raffa membangunkan istrinya.


Diandra mengangguk patuh dan pergi mengambil air wudhu.


Selesei sholat shubuh Raffa menyuruh Diandra berkemas karena Dia bermaksud mengajak Diandra pindah ke rumah Raffa.


Rumah itu bagi Raffa sebuah neraka yang sangat dalam dan tidak tahu seberapa kedalamannya.


Tidak ingin kakak ipar dan ayah mertuanya mengganggu kehidupan mereka kelak, itulah tujuan Raffa menikahi Diandra ingin membuka lembaran baru dalam kehidupan nanti.


"Kak, kenapa kita harus pindah kenapa kakak memaksa ku dan tidak tanya dulu sama aku." Tanya Diandra sedikit sensi.


Diandra membalas tatapannya dengan wajah datar dingin seperti es balok.


"Kau istriku, kau harus menuruti kata- kataku. Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak akan menyakiti mu, sekarang kemasi barang mu." Ujar Raffa meyakinkan istrinya.


Memeluk dan mengusap rambutnya pelan namun Diandra menepis pelukan


Raffa kasar.


"Kak, apa yg kau inginkan dari ku, kau menikahi ku tiba tiba sekarang kau mengajak ku pindah apa yg terjadi padamu." Tanya Diandra yg masih tidak percaya jika orang yg ia kagumi tega memisahkan dirinya dengan keluarganya.


"Aku cukup lembut pada mu, aku tidak ingin berbuat kasar pada mu. Ikut denganku atau aku akan menghukum mu." Jawab Raffa sinis.


Diandra diam dan menunduk takut jika Raffa akan menghajarnya. Dia patuh begitu saja takut dengan ancaman Raffa.


Raffa tersenyum licik merasa dirinya menang.


Diandra dan Raffa berjalan keluar menuju ruang makan.


Di ruang makan sudah ada Susana dan Ayah yg duduk dengan wajah dangkalnya. Mereka tidak terima dengan kekalahannya.


Raffa menggeser kursi untuk istrinya


dan mengeser duduk untuk dirinya. Mereka diam hening tanpa kata.


"Maaf Bu, hari ini saya bermaksud memboyong Diandra tinggal di rumahku." Ujarnya mencairkan suasana.


"iya nak, memang sudah seharusnya istri harus tinggal bersama suaminya." Jawab ibu laela memeluk putrinya.


"Sayang, kamu sudah menjadi seorang istri layani suami mu dengan baik, turuti kata katanya jangan bandel lagi." Tuturnya lembut mengusap pipi Diandra lembut.


"Iya Bu, aku akan melayaninya seperti ibu melayani Ayah ."jawab Diandra menekan kata seperti ibu melayani ayah. Diandra melirik tajam ke wajah datar ayahnya.


Ayah merasa tersinggung dengan ucapan Diandra barusan namun dia tidak berani berkutik melihat ada menantunya duduk memandangnya tajam.


Diandra memeluk ibunya erat tidak tahan air matanya menetes jatuh bercucuran. Perpisahan ini sungguh tidak ia harapkan namun apalah daya mungkin ini adalah ujian dari -Nya.


"Bu, aku pasti merindukanmu, maafkan aku jika aku belum bisa membuat ibu bahagia." Ucap Diandra yg di sambut tangisan haru oleh ibunya.


"Pergilah Nak, jika kamu rindu datanglah kapanpun kamu inginkan." jawab Ibu Laela sembari menyeka air mata putrinya.


Diandra dan Raffa berpamitan lalu pergi meninggalkan rumah mungil yg Diandra tempati selama belasan tahun bersama keluarganya.


Diandra melihat Ibunya yg masih berdiri menagisinya dari spion samping mobil.


Raffa hanya melirik pelan tidak ingin menggangunya.


Selama perjalanan tidak ada mulut yg terbuka hanya suara isak tangis Diandra yg terdengar jelas.


Mobil Raffa terpakir mulus di halaman rumah mewah dengan bangunan bercatkan putih dan tiang tiang yg kokoh menjulang tinggi ada taman yang cukup luas di depan rumah .


Raffa membukakan pintu mobil untuk istrinya sembari mengulurkan tangannya. Diandra meraih uluran tangan suaminya dengan wajahnya masih sembab merah. Dia memandangi sekitar rumah itu takjub tidak menyangka jika dirinya akan menghabiskan sisa hidupnya di rumah semewah dan sebesar itu.


Raffa mengandeng tangan istrinya lembut dan mengajaknya masuk.


Dua pelayan telah menyambut kedatangan mereka dengan wajah bahagia.


menyapa dan menundukkan kepala sebagai salam penghormatan.


Diandra dan Raffa membalasnya.


Raffa mengandeng tangan istrinya menaiki anak tangga masuk ke kamar yg cukup besar dan luas.


"Istirahatlah." Perintahnya lembut dan meninggalkan kecupan manis di kening Diandra.


Diandra duduk di sofa empuk pinggir cendela melihat setiap sudut ruangan.


"Kak?" Panggilnya pelan.


"Iya." Raffa mendekati istrinya menatapnya lembut.


"Tidak, tidak jadi." Diandra menarik lagi kata katanya.


"Ada apa?" Raffa memegang kedua pipi Diandra.


Menatap matanya lembut, bibirnya tersenyum manis.


Sebuah kecupan manis melayang di bibir seksi istrinya.


Diandra hanya diam patuh tidak menolaknya.


"kau sangat cantik dan baik, kau pantas mendapatkan ini semua ." Ucap Raffa mesra dan menggoda .


Wajah Diandra berubah merah merona.


"Besok kita akan berkunjung ke rumah orang tuaku."


Deg


Hati Diandra seperti tersengat listrik, tegang dan terkejut dengan ucapan Raffa.


" Apa, berkunjung ke rumah orang tua kakak." Ucap Diandra mengulangi kata Raffa.


"Iya, aku akan kenalkan kamu sama keluarga ku."


"Ada siapa saja di sana?"Diandra mulai panik dan bingung.


"Ada Papa, Mama dan kedua adik ku, emang ada apa?" Raffa tau jika Diandra belum siap ketemu mereka namun ia tidak ingin menunda kesempatan baik itu.


"Tidak, tidak ada apa apa hanya tanya saja."jawab Diandra gugup.


Ia sungguh tidak menyangka ini akan trjadi padanya, pikirannya tidak tenang takut jika keluarganya tidak menerima dia apa adanya, karena dia hanya gadis miskin yg sedang beruntung menikahi pangeran kaya.


🤭🤭🤭🤭🤭🤭