
Vera dan Denis tersenyum barengan karena pada akhirnya mereka saling tau tentang perasan mereka yg sebenarnya.
Vera menatap ke langit memandang bintang yg bertaburan mengelilingi bulan. Semilir angin malam menerpa wajah cantiknya. Tak terasa sudah satu jam mereka duduk bersanding menikmati malam itu.
"Vera, kalau boleh tau apa pekerjaan mu?" Tanya Denis. Bukan maksud apa hanya sekedar ingin sekedar kenal saja.
"Ehm... aku hanya seorang artis."
Vera dengan lembut menjawab pertanyaan Denis. Sempat kagum dengan ketampanan Denis tapi itu hanya sebuah kekaguman karena Vera yakin jika hanya An yg paling Ia cintai dan tidak mungkin berpaling darinya.
Vera kembali diam sesaat ketika ingat wajah An yg menurutnya sangat tampan dan menggemaskan. Menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman indah.
Sadar atau tidak, Denis sempat memperhatikan kecantikan Vera dalam kegelapan malam.
Bisa di bayangkan jika kekasihnya juga sudah pasti tampan. Selain cantik Dia juga asik di ajak ngobrol dan mudah menyambung.
Malam pun berlalu begitu cepat, Vera masuk bersama Denis.
Para Orang Tua memperhatikan kebersamaan mereka saat barengan masuk dan membuka pintu.
"Sepertinya mereka sudah ada kecocokan ya Pak?" Tanya Mama ke Pak Ruslan.
"Iya, aku berharap mereka akan menerima perjodohan ini tanpa ada paksaan." Jawab Pak Ruslan.
Karena sudah malam Pak Ruslan dan Denis berpamitan pulang. Pak Ruslan barharap Anaknya dan Vera akan berjodoh.
Vera kembali ke kamar merebahkan tubuhnya, merasakan nyamannya saat berada di atas kasur yg empuk dan hangat itu.
Ia berfikir sejenak memikirkan gimana caranya menolak perjodohan itu.
Ia beranjak dari dalam kamar lalu keluar. Vera duduk di lantai balkon kamarnya.
Menghembuskan nafasnya kasar dan merebahkan tubuhnya di lantai.
Mencari jawaban tentang persoalan yg menimpanya.
Kring..kring...
(Telpon masuk di ponselnya, Vera mengangkatnya.)
"Hallo Kak?" Jawab Vera.
"Hallo sayang, kamu sedang apa?" Tanya An dari seberang sana. Saat itu An juga sedang rebahan di atas kursi panjang yg ada di balkon kamarnya.
"Aku sedang rebahan di depan kamar."
Jawab Vera dengan nada sedihnya.
Ia ingin sekali menyembunyikan semua ini dari An, karena Ia tidak mau An mundur hanya karena tau kalau Vera sudah di jodohkan sama Denis.
"Ada apa, apa ada masalh?" Tanya An menyelidik. Dari nada suaaranya An tau jika saat ini Vera sedang ada masalah.
"Sayang, kamu kok diam, apa benar kamu sedang ada masalah, cerita saja apa masalah mu siapa tau aku bisa bantu." An masih berusaha membujuk Vera supaya mau cerita keluh kesahnya.
An merasa tidak tenang setelah mendengar nada bicara Vera yg terdengar berat.
Tanpa pikir panjang An bangkit dari tidurnya, masuk dan mengambil jaket. Ia turun menuju garasi rumahnya dan langsung menghidupkan mobilnya.
Karena tidak tenang An melajukan mobilnya dengan kencang menerobos jalanan yg saat itu masih cukup ramai dari para pengguna kendaraan roda empat maupun roda dua.
Sesampai di depan gerbang An menelpon Vera untuk menemuinya.
Vera pun segera berlari keluar yg kebetualan saat itu Mama dan Papa nya sudah berada di dalam kamar.
Kreekkk..
Vera membuka pintu pelan-pelan agar semua penghuni rumah itu tidak mendengarnya.
Vera keluar dan berbisik lirih di depan para satpam, menyuruh satpam membukakan pintu gerbangnya.
Satpam itu hanya mengiyakan saja dan langsung membuka gerbangnya pelan.
"Kak An, ada apa kok malam-malam datang ke sini?" Tanya vera saat berada di depan An.
Ia tau jika An datang ke situ pasti ingin menanyakan masalahnya. Vera mendongakan pandangannya dan tersenyum lebar demi menutupi kegelisahannya.
An memegang kedua pundak Vera dengan memincingkan matanya.
Ia menatapnya lekat dan sedikit menarik nafasnya.
Vera masih menundukkan pandanganya dan mengigit bawah bibirnya keras hingga terasa sakit.
Berpikir sejenak untuk mencari alasan yg tepat.
Menghembuskan nafasnya kasar dan menutup matanya rapat.
"Kak An." panggilnya lirih.
Vera mengangkat pandangannya menatap sendu wajah An.
"Mama dan Papa..." Vera menghentikan ucapannya. Ia tidak tega ngomong semua itu ke An, takut membuat hatinya tersinggung.
"Katakan ada apa dengan Nyonya dan Tuan?" An semakin penasaran di buatnya.
An menajamkan padangannya dan mengusap pipi Vera lembut.
"Maaf Kak, jika ucapan ku nanti akan menyingung mu. Mama sama Papa mau menjodohkan ku dengan Anak dari sahabat Papa." Vera menutup matanya erat dan kembali menundukkan kepalanya.
An terdiam memaku dan melapaskan tangannya dari pundak Vera. Sekujur tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
Kehidupannya berhenti sejenak,
nafasnya terasa berat.
An menatap Vera sayup seakan tak sanggup lagi untuk bertutur kata.
"Lalu, apa kau menerimanya." ucapan An terdengar berat.
"Aku ingin menolaknya." Vera pun merasakan kesedihan yg mendalam, tidak tau apakah Mama dan Papanya mau membatalkan perjodohan itu atau tidak.
"Vera, mereka adalah atasan ku, aku tidak mungkin melanggar perintahnya. Sepertihalnya ini, aku tidak mungkin menghentikan usaha mereka untuk menjodohkan kamu dengan pilihan mereka." Jawab An pasrah.
An memalingkan wajahnya dan menatap jauh ke arah yg tak menentu.
"Apa kau akan menyerah begitu saja dan tidak mau berjuang untuk cinta kita?"
"Aku tidak tau. Vera, aku memang mencintai mu tapi, entahlah aku sendiri juga binggung. Akan ku pikirkan nanti, sekarang kamu masuklah karena sudah malam." An berusaha mengalihkan pembicaraa karena sesungguhnya Dia sendiri juga tidak tau apa yg harus ia lakukan.
Vera berganti posisi berdirinya dan menghadap ke An.
Tatapan matanya membuat An jadi tambah binggun dan dari sorot matanya sudah menunjukkan rasa kecewa.
"Aku ingin tau jawaban mu sekarang, apa kau akan menyerah begitu saja atau kau akan berjuang demi cinta kita." Vera membulatkan matanya dan sedikit emosi.
"Aku tidak tau." Jawab An sedikit membentak.
An mengusap mukanya kasar dan menatap Vera.
"Maaf, maksud aku, aku belum tau jawabannya dan akan ku pikirkan nanti." An terlihat binggung dan masih berdiri kaku.
"Aku kecewa sama kamu, aku pikir kau akan berjuang mati-matian untukku tapi ternyata aku salah, hanya karena bales budi kamu rela mengorbankan kebahagian mu sendiri dan juga kebahagian ku. Aku kecewa, kecewa sama kamu." Vera meneteskan air matanya dan mendorong tubuh An. Vera berlari masuk tanpa menoleh ke arah An. Tangisannya semakin pecah ketika An tidak memanggilnya saat ia berusaha pergi dari hadapannya.
An teriak kesal dan menendang ban mobilnya.
Masuk ke mobil dengan hati yg masih mengumpal marah. Tangannya memukul setir keras hingga terasa sakit dan membekas merah. An melajukan mobilnya kencang tanpa memperdulikan rambu lalu lintas yg ada.
Seumur-umur baru kali ini An merasakan kesedihan yg luar biasa.
Vera menangis terisak di sudut kamarnya.
Tak menyangka jika orang yg Ia cintai akan menyerah begitu saja, sesungguhnya Ia hanya ingin hidup bersama An untuk selamanya bukan bersama Denis.
Hingga hampir pagi Vera masih terjaga dari tidurnya. Matanya semakin membengkak karena lama menangis, suaranya terdengar serak dan lirih bahkan terdengar terisak-isak tangisannya.
Baru satu jam memejamkan matanya, Mama sudah masuk ke kamar Vera untuk membangunkannya.
Mama terkejut melihat Mata Vera membengkak.
Vera duduk menunduk dengan wajah kusutnya, rambutnya acak-acakan tak karuan seperti gembel jalanan.
Ia tak berani menatap wajah Mamahnya, tak ingin mama tau kesedihannya.
"Sayang, apa kamu habis menangis?" Tanya Mama.
Mama mengangkat dagu Vera dan menyilakan rambutnya yg menutupi wajah kusut Vera.
"Katakan sama Mama, apa yg membuatmu menangis?"