
Kini Diandra sudah dipindahkan di ruang perawatan. Dengan setia Kafka terus mendapingi dan berada di samping Istri tercintanya. Tangan Kafka mengenggam tangan Diandra erat dan menciuminya dengan penuh cinta.
Hingga larut malam Diandra belum sadarkan diri karena Dokter memberinya obat penenang dan obat biusnya juga belum habis.
Kafka duduk di samping Diandra dengan wajah sedihnya.
Air matanya terus mengalir mengenangi pipinya. Rasa sesal berselimut di hatinya.
Kafka selalu meyalahkan dirinya sendiri atas apa yg menimpa istrinya saat itu.
"Sayang, sudah lama kamu tidur, sekarang ayo bangunlah, aku merindukanmu. Bukalah matamu demi aku. Jangan buat diriku lebih cemas lagi." Kafka berusaha menyadarkan Istrinya, Ia tak sanggup jika harus kehilangan Istri yg paling dicintainya.
Vera masuk dengan membawa baju ganti dan makanan untuk Kafka. Vera tak tega melihat kakaknya terus bersedih seperti itu.
"Diandra pasti akan sembuh kak, Dokter sudah melakukan yg terbaik kan?" ucapnya menenangkan Kafka.
"Kak, ayo cepat ganti baju mu, lalu makanlah." tuturnya dengan mengusap punggung Kafka lembut.
"Aku tidak lapar." ketus Kafka.
Enggan rasanya untuk pergi meninggalkan Istrinya.
Ia tak ingin sedikitpun jauh dari istrinya, ingin tetap di samping Diandra hingga dia sadar dan sembuh.
"Kak lihatlah tubuhmu, baunya sangat amis banget, baju mu juga bau amis. Kau terlihat jorok. Diandra pasti akan marah jika lihat kakak jorok kaya gitu. Cepat mandi dan ganti bajumu atau istri mu akan marah padamu." Vera berusaha membujuk Kafka agar mau berganti pakain. Ya, memang baju Kafka sangat bau amis karena terkena darah Diandra.
Bahkan Kafka yg tadinya tampan kini berubah seperti orang yg hidup di jalanan, kusut, bau dan acak-acakan.
Kafka masih diam tak mengubris ucapan Vera. Ia tak ingin melakukan apapun selain duduk di samping Diandra.
"Kak, ayolah cepat mandi sana, Diandra tidak akan suka melihat kakak kusut seperti itu.
Bukankah kakak ingin menjaga dan merawat Diandra, kalau kakak sakit siapa yg akan ngejagain dia, kalau aku ogah banget." Tegasnya dengan memoncongkan bibirnya.
Vera hampir menyerah dengan usahanya.
Vera masih diam dan sedikit kesal pada Kafka karena susah di bujuk.
Kafka terdiam sejenak memikirkan omongan Vera. Dia benar takut jika Diandra akan marah atau tidak suka dengannya karena bau amis.
Kafka segera berdiri dan mengambil pakaian ganti yg di pegang Vera.
"Sini bajunya, aku mau mandi !" jawabnya sinis. Kafka segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Vera tersenyum akhirnya usahanya tidak sia-sia.
Vera duduk di samping Diandra dan mengengam tangan Diandra lembut.
"Dra, aku ingin kau memaafkan ku, aku sudah begitu jahat padamu, aku begitu membencimu hanya karena orang yg aku cinta telah memilihmu. Ku mohon maafkan aku." Dengan tulus Vera meminta maaf padanya. Ia benar-benar telah menyesal karena sudah membenci orang sebaik Diandra.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi setidaknya Ia msih punya hati untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Selalu ada hikmah di balik musibah.
Kafka kembali dan berdiri di samping Vera.
Vera segera menarik tangan Kafka menuju sofa makan.
Mereka duduk di sofa yg tak jauh dari Diandra.
Vera membuka nasi kotaknya lalu menyuapi ke mulut Kafka
"Buka mulut mu, aku akan menyuapi mu, aku tidak ingin kau sakit." ketusnya lalu menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke mulut Kafka.
Kafka hanya diam dan patuh begitu saja dengan ucpan Vera. Dengan pandangan kosong Kafka berusaha mengunyah dan menelannya.
"Kenapa kau baik padaku?" tanya kafka dan menatap wajah Vera lekat. Kafka heran dengan sikap baik vera.
"Kau ini, bisa-bisanya bertanya seperti itu padaku. Apa salahnya jika aku baik pada kakak ku sendiri." Vera sedikit kesal mendengar pertanyaan Kafka.
Vera mengambil sesendok nasi penuh dan sambal lalu memasukkan ke mulut Kafka secara kasar.
"Hei,,, apa kau ingin membunuh ku, kenapa kau menaruh sambal di nasi ku." protes Kafka yg hanya di diami Vera. Kini mulut Kafka dipenuhi dengan Nasi dan sambal yg sangat pedas.
Wajahnya berubah semu merah karena kesulitan mengunyah dan juga kepedesan.
"Rasain tu, karena kakak terlalu crewet padaku." Ketusnya lagi.
"Ya, aku minta maaf." Kafka mencubit hidung Vera pelan dan memainkan alisnya naik turun.
"Aku minta maaf jika selama ini aku selalu jutek dan kasar sama kakak." Vera memoncongkan bibirnya dan menaikan
alisnya.
"Baiklah, aku juga minta maaf jika selama ini aku kurang perhatian padamu. Sekarang kita baikan kan?" Kafka mengancungkan jemari kelingkingnya dengan senyuman manisnya
Vera membalasnya dengan penuh kebahagian. Setelah bertahun tahun mereka tidak akur, akhirnya kini mereka kembali akur lagi.
Dulu Vera dan Kafka memang sepwrti tom & jerri, suka berantem tapi berkat musibah i i akhirnya mereka kembali baikan.
"Kak, aku mau keluar dulu, kasihan Kak An sendirian di luar." Ucap Vera setelah selesei makan.
"Iya, temani dia dan suruh dia cari penginapan untuk istirahat." jawab Kafka yg hanya di angguk'i oleh Vera.
Kafka kembali menemani Diandra yg masih tak sadarkan diri.
Vera keluar dan duduk di samping An.
"Kak An, kenapa masih di sini, sebaiknya Kakak cari penginapan untuk istirahat biar aku dan Kak Kafka yg menjaga Diandra.
An hanya bengong seperti sa*i ompong melihat perhatian Vera.
"Sejak kapan dia baik padaku, biasanya dia selalu menyusahkanku." Batinnya.
"Kak, kenapa lihatin aku kaya gitu, apa ada yg aneh sama aku." Ucap Vera yg heran melihat An bengong saja.
"Em.. anu Non, maksud aku ada apa Non? Maaf tadi aku ngak denger." jawab An glagapan dan merasa malu dengan sikap konyolnya.
"Hem,, Kak Kafka bilang katanya Kakak di suruh cari penginapan saja supaya kamu bisa istirahat. " Vera mengulangi lagi ucapannya tadi.
"Hehe,, tidak perlu Non,aku ngak apapa kok kau harus tidur di sini." Tegas An dengan senyum tipisnya.
An melihat kalau Vera kedinginan, akhirnya An melepaskan jaketnya dan membalutkan ditubuh Vera.
"Pakailah jaket ku karena udara dingin tidak bagus untuk kesehatan gadis secantik dirimu." Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir An.
Vera memang hanya mengenakan minidres dengan bahu dan leher yg sedikit terbuka.
Vera menarik kedua ujung bibirnya dan menatap An lembut.
Vera merasa nyaman saat ada di samping An
"Terima kasih." jawab vera dengan wajahnya yg semakin memerah.
"Astaga, kenapa jantungku, aku merasa ada yg aneh pada diriku. Tidak,, mungkin aku hanya Kagum padanya." batinnya.
Vera menepis semua tentang perasaanya.
Ya, memang baru kali ini Vera mendapatkan perhatian seorang pria dengan tulus. Semenjak jadi artis teman-teman Vera menjauhinya dan minder begitu saja.
Selain itu sifat jutek Vera membuat para pria enggan untuk mendekatinya.
Begitu juga dengan An yg merasa jantungnya berdegup kencang saat ada di samping Vera.
Vera kali ini benar-benar membuat hati An ingin terbang.
An mulai halu dengn perasaanya.
"Non, maukah kamu menemani ku minum kopi di kantin?" An kembali memberanikan diri untuk lebih akrab dengan Vera.
"Tentu saja mau, oh ya, jangan panggil aku Non, panggil saja aku Vera." Jawab Vera lalu berdiri berjalan menuju kantin.
An mengikutinya dari belakang. Ia masih merasa canggung dengan Vera.
An menarik nafasnya dalam lalu sedikit mempercepat jalannya agar bisa berjalan sejajar dengan Vera.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
ups,,, setelah membaca jangan lupa selalu like, komen vote dan Rate5 nya kakak.
Author sangat berterima kasih sama kalian yg sudah dengan setia mengikuti alur ceritanya.
Terima kasih juga untuk semua dukungan kalian..
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏