Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
64. Masa lalu.


Hari sudah mulai gelap, terdengar jelas suara kemericik air hujan turun dari langit, dinginnya angin membuat suasana semakin syahdu.


Diandra sudah membenamkan dirinya di bawa selimut tebal dan barbau harum.


Tubuhnya terasa hangat saat ada di bawa tebalnya selimut itu.


Kafka masih sibuk dengan laptopnya, sesekali Ia melirik ke arah Istrinya.


Senyumannya semakin mengembang, tak sabar ingin rasanya bermesraan dengan Belahan jiwanya.


Kafka berusaha menyeleseikan pekerjaannya dengan cepat supaya bisa ikut tidur di samping istrinya


Kafka segera menutup laptopnya dan langsung melompat di atas ranjang bersama Diandra.


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" Tanya Kafka mesra lalu memeluk Diandra dari belakang dan menciumi rambutnya.


Wangi rambut Diandra telah memanjakan rongga hidung Kafka.


Diandra langsung bangun karena terkejut mendengar suara Kafka.


Diandra menajamkan pandangannya dan mengerutkan keningnya.


Tanpa pikir panjang Diandra langsung menendang tubuh Kafka keras dengan kedua kakinya, hingga membuat tubuh Kafka terpental jauh dari atas ranjang.


"Siapa yg menyuruh kamu tidur di atas ranjang, kamu harus tidur di atas sofa sana!" Ketusnya dangan tatapan jutek yg membuat mata Kafka melotot tak percaya.


"Sayang, kenapa kamu menendangku?" protes Kafka sembari memegang pantatnya yg terasa sakit akibat tendangan Diandra yg cukup keras itu.


Kafka berdiri dan menatap Diandra sendu.


"Sayang, aku ini suami mu, biarkan aku tidur di samping mu, ok!"Wajah Kafka begitu melas saat berucap.


"Tidak boleh, kamu harus tidur di sofa atau aku akan mengusir mu." Ketus Diandra dengan tatapan mata yg membuat jantung Kafka seperti tersayat sembilu.


"Sayang, kali ini aja , boleh ya, ya ya."


Kafka menyatukan kedua telapak tangannya dan mengedip-ngedipkan matanya, berharap Diandra akan punya rasa kasihan padanya.


Ia rela bersujud dan memohon di depan Istrinya demi bisa tidur seranjang.


Diandra menyiutkan pandanganya dan menyatukan kedua alisnya.


Kedua tangan Diandra berada di pinggangnya.


"Tidak,,, boleh,,, !" Diandra segera menutup tubuhnya dengan selimutnya dari bawah hingga kepalanya.


"Ya, Tuhan apes banget hidupku. Susah bangat punya Istri hilang ingatan, pingin tidur seranjang aja ngak bisa. Boro-boro tidur seranjang, nyium aja ngak bisa. Apes, apes." Ucap Kafka lirih sambil megusap mukanya kasar.


Kafka berjalan lesu menuju Sofa yg ada di kamar itu.


Hatinya sedikit kecewa karena gagal akan bermesraan dengan Istrinya.


Lagi lagi Kafka harus menahan hasratnya.


Malam sudah begitu larut, Diandra sudah tertidur pulas, namun mata Kafka masih terjaga.


Kafka tersenyum licik dan berjalan pelan-pelan mendekati ranjang.


Perlahan tapi pasti, Kafka mengendap-endap lalu ikut tidur di samping Diandra dan memeluk tubuh Diandra pelan.


"Selamat tidur sayang." ucapnya lirih lalu mencium kening Diandra pelan agar Diandra tidak terbangun.


Hari sudah mulai pagi, Diandra terbangun lalu merenggangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-ototnya


Bola matanya tiba-tiba melebar setelah melihat Kafka sudah tidur di sampingnya.


Diandra memukul tubuh Kafka keras.


"Beraninya kau tidur di sini, cepat pergi atau akan teriak maling. Cepat bangun dan pergi dari sini!" Ketus Diandra sambil menggoyang-goyang tubuh Kafka.


Kafka memang susah untuk di bangunin, bahkan dia tidak perduli dengan ocehan Istrinya. Kafka langsung menarik tubuh Diandra dan memeluknya erat, kaki kananya sengaja Ia tindihkan di tubuh Diandra.


Diandra tidak bisa bergerak bahkan untuk bernafaspun sangat susah dan terasa sesak.


"Sayang, aku mencintai mu aku tidak ingin tertidur terpisah dari mu. Kau adalah Istriku dan aku adalah Suamimu jadi kita harus tidur seranjang kan. Aku tidak tahan jika harus jauh dari mu." Ucapnya lalu mencium Diandra dengan paksa.


Kini tubuh Kafka sudah ada di atas tubuh Diandra. Kedua tangannya memegang tangan Diandra erat agar Diandra tidak bisa bergerak atau kabur lagi darinya.


Kafka memainkan alis dan matanya,


Ia merasa puas bisa ngerjain Istrinya.


Diandra berusaha memberontaknya namun tenaganya tak begitu kuat.


"Lepaskan aku atau aku akan berteriak keras supaya orang-orang mengusirmu." Bengisnya dengan menajamkan pandangannya.


Kafka tidak perduli dengan ancamannya. Kafka malah tertawa renyah mendengar ucapannya.


"Ok, terserah apa katamu tapi sekarang lepaskan aku dulu." Teriaknya keras.


Kafka tidak tega melihat Diandra kesal seperti itu, dengan terpaksa Kafka pun melepaskannya.


"Maaf jika aku sudah keterlaluan padamu, tapi aku hanya ingin selalu berada di samping mu itu saja yg aku inginkan." Jelasnya memelas.


Tiba-tiba kepala Diandra merasa pusing dan pandanganya terlihat samar.


"Aduh,, kepalaku pusing banget, Kafka bisakah kau turun dari tubuh ku." ucapnya sambil memegang kepalnya.


Kafka segera turun dan duduk dengan cemas.


"Sayang, kamu kenapa? sebaiknya kita pergi ke dokter saja ya."


Wajah Kafka terlihat cemas dan Khawatir dengan kondisi Istrinya.


Kafka mengambil air putih dan memberikan ke Diandra.


Diandra menyesapnya sedikit dan memandang Kafka lekat.


Pandangannya membuat mata Kafka jadi menyempit.


kedua tangannya memegang wajah Kafka, tak terasa air matanya menetes begitu saja.


"Kafka, apa kau pernah melakukan itu padaku sebelumnya, aku mengingatnya tapi samar. Kafka, apa ada pria yg mirip dengan mu." Tanya Diandra sedih.


Kafka masih bingung di buatnya. Ia bingung harus menjawab apa.


"Apa Raffa yg dia maksud, apa Raffa pernah melakukan hal yg sama seperti yg aku lakukan tadi. Kenapa dia harus mengingatnya dan kenapa dia tidak mengingatku sama sekali." ucap Kafka dalam hati.


Kafka mengenggam tangan Diandra hangat dan tersenyum tipis.


"Sekarang mandilah dan bersiaplah, aku akan menunjukkan sesuatu pada mu." Jawab Kafka lalu mengusap kepala Diandra.


Diandra hanya mengangguk lalu pergi ke kekamar mandi.


Ia menguyur tubuhnya dengan air dingin namun pandangannya saat ini benar-benar kosong.


Diandra sudah selesei mandi dan berganti pakain begitupun dengan Kafka.


Kafka dan Diandra pergi ke rumah Raffa.


sesampai di rumah Raffa, Kafka segera mengajak Diandra menuju lantai dua di sana ada kamar Raffa dan Diandra ketika masih bersama.


Kafka membuka pintu kamar dan masuk bersama Diandra.


"Sayang, apa kau ingat dengan kamar ini?" tanya Kafka sambil menunjukkan isi ruangan itu. Diandra hanya menggelengkan kepalanya.


Di dinding kamar tertempel foto Raffa dan Diandra.


Banyak foto tertempel di sana termasuk foto keluarga juga.


"Apa dia yg kau ingat tadi? Dia adalah kakakku, dan juga Suami mu, tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu."


Tangannya menunjuk ke arah foto Raffa.


"Iya, dia yg aku ingat, lalu kenapa kamu bilang kalau kamu juga suami ku?" tanya Diabdra masih bingung.


Diandra duduk dan menatap foto yg ada di depannya.


Kafka segera mengambil kertas putih dan memberikannya ke Diandra.


Diandra mengambilnya lalu membacanya dengan seksama.


Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja.


"Apa kamu menikahiku karena surat ini?"


"Tidak, dari awal aku sudah mencintai mu, jauh sebelum kamu menikah dengannya.


Tapi kamu lebih memilih dia dari pada aku, dan aku menikahi mu bukan karena surat itu, tapi karena aku benar-benar mencintai mu." jelas Kafka lalu mengenggam tangan Diandra.


Pandangannya terlihat sayup dan sendu saat harus mengulang cerita di masa lalu.


Diandra memandang wajah Kafka lekat, Ia kembali mengingat sesuatu yg begitu samar di memorinya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Terima kasih buat kalian yg sudah ngedukung terus karya aku.


Yg belum, yuk mulai sekarang dukung karya aku dengan cara Like, komen, vote dan rate5.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏