
Hari sudah larut malam, namun Rosi belum bisa memejamkan matanya.
Ia masih teringat foto pernikahan Diandra dan Kafka.
Entah apa yg di pikirkan Rosi saat ini, yg jelas hatinya sangat terluka.
Pagi telah tiba Rosi masih bermalas- malasan di atas ranjangnya. Ia enggan untuk turun dari ranjangnya walau hanya sekedar untuk membasuh mukanya.
Ada suara ketukan pintu dari luar,Rosi segera membukanya.
"Ada apa Bi ?" tanya Rosi setelah melihat asistennya yg mengetuk pintu.
"Non, di bawah ada Tuan Egi sedang meunggu Nona." jawab Bibi.
Rosi segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesei mandi Ia berganti baju dan merias wajahnya tipis.
Ia segera turun setelah selesei semua.
Ia melihat Egi duduk di ruang tamu sedang asyik memainkan ponselnya.
"Ada apa, Gi ?" tanya Rosi sopan.
"Hei Ros, aku ke sini hanya ingin melihatmu." jawab Egi dengan senyuman manisnya .
"Kenapa ponsel mu tidak aktif ?" Tanya Egi lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"O,,,ponsel ku rusak ,Gi ." jawabnya singkat
Mereka asyik mengobrol,Rosi sedikit melupakan masalahnya dengan Diandra.
Egi adalah cowok yg humoris,tidak heran jika Rosi akan melupakan masalahnya di saat bersama Egi.
Egi dan Rosi memutuskan untuk pergi jalan jalan. Egi tau permasalahan Rosi dengan Diandra, Jaka yg memberitahunya.
Diam diam Egi memang suka sama Rosi.
Namun Ia tahu jika Rosi menyukai Kafka, makanya Ia tak berani menyatakan perasaanya ke Rosi.
Mereka udah tiba di Mall terbesar di kota itu.
Mereka memutuskan untuk menonton di bioskop.
"Rosi,apa kamu suka dengan filmnya?" tanya Egi pelan,karena tak ingin mengganngu penonton lainnya.
"iya aku suka." jawab Rosi singkat sambil menikmati pop corn di tangganny.
Egi mencuri-curi kesempatan. Ia sengaja melingkarkan tangannya di pundak Rosi.
Rosi hanya diam membiarkan Tangan Egi melingkar di pundaknya. Mungkin karena saat ini Ia butuh tempat bersandar untuk melupakan semua masalahnya.
Dengan sengaja Rosi menyandarkan kepalanya di pundak Egi .
Dengan girang Egi membiarkannya.
Egi terus tersenyum bahagia melihat Rosi bersandar di pundaknya.
Jantungnya berdegup kencang seperti genderang mau perang.
"Rosi, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Egi penasaran.Sejujurnya Ia ragu menanyakannya,namum ia penasaran dengan perasaan Rosi yg sebenarnya.
"Boleh,mau tanya apa?" jawab Rosi yg masih bersandar di pundak Egi.
"Tidak ,tidak jadi." jawabnya singkat.Ia mengurungkan niatnya,tak ingin membuat hati Rosi menggingat hal itu.
Mungkin itu akan membuat hati Rosi terluka.
Lampu ruagan sudah menyala terang,itu tandanya film yg di putar sudah selesei.
Semua penonton berhamburan keluar,begitu juga dengan Rosi dan Egi.
Rosi mengandeng tangan Egi erat sambil tersenyum tipis.
Egi meliriknya dan ikut tersenyum juga.
"Rosi, kamu mau makan apa?" tanya Egi dengan senyuman manisnya.
"ehm,,,terserah kamu aja deh!" jawab Rosi singkat.
Egi mengajak Rosi duduk di salah satu lestoran yg ada di mall itu.
Egi memesan beberapa olahan seafood ,karena itu adalah makanan kesukaan Rosi.
"Egi, dari mana kamu tahu jika aku suka seafood." tanya Rosi penasaran.
"Ehm,,,hanya menebak saja." jawab Egi berbohong.
Ia tahu semua itu dari Jaka.
Tak lama berselang dua pelayan datang membawa nampan berisikan pesanan Egi.
Pelayan itu manatanya di atas meja dengan Rapi dan teliti.
Egi dan Rosi langsung melahapnya tanpa ampun.Mereka begitu menikmatinya hingga lupa dengan semua masalah yg menimpanya.
Egi tersenyum tipis melihat bibir Rosi belepotan terkena minyak dan bumbu masakan seafood itu.
Ia mengambil tisu lalu mengusap bibir Rosi lembut.
Ia memandang wajah Rosi dengan senyuman yg mengembang.
Rosi tersenyum tipis melihat perhatian Egi.
"Egi, kenapa kau baik padaku?" tanya Rosi penasaran.
"Karena aku menyukaimu." jawab Egi tulus dari dalam hatinya.
Rosi memuncratkan semua makanannya hingga mengenai wajah Egi.
Ia terkejut mendengar jawaban Egi.
Tak menyangka jika Egi akan menyukainya.
"Maaf, tidak sengaja." ucap Rosi sambil mengusap wajah Egiyg terkena makanan dari dalam mulutnya dengan menggunkan tisu.
"tidak apapa." balas Egi tersenyum.
"Maaf jika aku terlalu jujur padamu.Kamu tidak perlu menjawabnya, karena aku tahu perasaanmu!" ucap Egi lembut.
"Terima kasih atas pengertianmu." jawab Rosi.
***************
Hari sudah mulai siang, Diandra masih diam di dalam Kamar.
Diandra hanya tidur-tiduran di atas ranjang,sedangkan Kafka sibuk dengan laptopnya.
"Sayang,tolong kemasi barangmu,sore nanti kita akan pindah." perintah Kafka ke Diandra.
Kafka sengaja tak memberitahu Diandra akan pindah ke mana.
Diandra terkejut mendengar ucapan Kafka.
"apa,kita pindah,pindah kemana?" tanya Diandra kaget.
"Sudah jangan banyak tanya,cepat bantu aku mengemasi barang-barang kita." jawab Kafka mengelak.jika Ia katakan sejujurnya maka Diandra akan menolaknya keras,makany ia sengaja tak memberitahunya.
"Apa mama tahu jika kita akan pindah?"
"Tentu saja tahu,aku sudah bicarakan ini semua sama mama." jawab Kafka.
Diandra segera membantu Kafka mengemasi barang-barangnya.Sejujurnya Ia tak ingin pindah, karena jika mereka pindah itu artinya mereka akan satu kamar dan satu rumah tanpa orang lain.
Sekitar jam tiga sore Diandra dan Kafka turun ke bawah dengan membawa dua koper berisikan pakaian dan beberapa barang lainnya.
Ada Mama, Papa dan Iffa menunggu di bawah.
"Ma, kita akan pindah sore ini." ucap Kafka ke Mamanya.
"Iya sayang, jaga istrimu baik-baik, jangan biarkan dia lelah,buatlah dia bahagia." tutur Mama lembut.
"Jika kamu berani membuat istrimu kecewa,maka aku sendiri yg akan menghajarmu." ucap Papa serius sambil memeluk Kafka hangat.
"Iya Ma, Pa ,aku janji akan buat dia bahagia, iya kan sayang." jawab kafka sambil merangkul pundak Diandra.
Diandra hanya mengangguk pelan.
"Kak,kenapa harus pindah sih, aku jadi ngak ada temennya kan??" rengek Iffa sedih.
"kak, tinggal sini ya." ucap Iffa sambil memeluk Diandra.
Diandra hanya tersenyum tipis.
"Sayang, nanti aku akan sering kesini kok,benarkan,sayang." ucap Diandra kaku menyebut nama sayang.
"Iya, pao jaga mama dan papa ya?" jawab Kafka.
"Beres kak!" balas Iffa
Kafka dan Diandra meninggalkan halaman Rumah Mama.
Kafka mengendarai sendiri mobilnya tanpa Han.
"Kafka, kita mau pindah kemana?" Tanya Diandra saat di tengah perjalanannya.
"Nanti kamu juga tahu sendiri." jawab Kafka licik sambil mengusap kepala Diandra.
Kafka menghentikan mobilnya di depan Apartemen mewah.
Diandra terkejut melihat Kafka memarkirkan Mobinya di situ.
Ia tak menyangka jika Kafka akan membawanya ke situ.
"Kafka,kenapa kita kesini,kenapa kita tidak tinggal di rumah kak Raffa aja." protes Diandra kesal.
"Sayang,rumah Raffa sama kantor jauh,jadi aku memilih tinggal di sini karena dekat dengan kantor dan juga lestoranku.Apa kamu mengerti." jawab Kafka berbohong.
Bukan itu alasan yg sebenarnya.Ia sengaja tinggal di apartemen karena ingin lebih dekat dengan Diandra,dengan begitu mereka akan sering bertemu dan bertatap muka,Karena di apartemen itu hanya ada satu kamar sedangkan di rumah Raffa banyak kamar,mungkin mereka akan tidur terpisah jika tinggal di rumah Raffa.
Diandra hanya mengangguk dan patuh begitu saja.
Kafka membuka pintu lalu mengajak Diandra masuk ke dalam apartemennya.
Diandra melihat setiap sudut ruangan,Ia terkejut karena di apartemen itu hanya ada satu kamar,itu tandanya mereka harus tidur sekamar.
"Kafka,apa kita akan tidur sekamar?" tanya Diandra ragu..
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Yuk kak jempolnya di tinggal di sini,biar author lebih semangat lagi dalam menulis.
Jangan lupa mampir ke karya aku yg lainnya
🙏🙏🙏🙏