
Vera merasa sakit hati atas perlakuan Rosi.Ia pergi meninggalkan Rosi dengan seribu kata kotor keluar dari mulutnya.
Bukan Vera namanya jika tidak mampu membuat orang lain sakit hati.Entah apa lagi rencana Vera selanjutnya.
*******
Pagi ini Rosi sudah berdandan rapi dan terlihat sangat cantik.
Ia sudah bersiap untuk pergi ke kampus.
Tiba tiba ada pesan masuk dari Egi.
Wajah Rosi terlihat sumringah ketika membaca pesan dari Egi.
Dengan segera Rosi keluar menemui Egi.
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Rosi dengan senyuman indahnya.
"Aku ingin menjemputmu, bisakah kita pergi ke kampus bareng?" Ucap Egi sambil membukakan pintu mobil untuk Rosi.
Rosi menganguk dan langsung masuk mobil Egi.Egi terlihat bahagia karena akhirnya Ia bisa dekat dengan Rosi.
"Sayang, hari ini kamu sangat cantik." ucap Egi merayu,kebiasaan Egi adalah merayu Rosi.
Rosi hanya tersipu malu mendengar rayuan Egi.
"Dasar tukang gombal." jawab Rosi tersenyum sambil menyunggikan bibirnya.
"Hai Nona,aku memang raja gombal,tapi bukan gombal sembarangan,gombalku hanya untuk dirimu seorang." balas Egi sambil mengedipkan matanya.
Rosi tertawa lepas saat mendengar gombalan Egi.
"Hei Tuan,kamu memang Raja gombal,tapi maaf gombalanmu tidak berlaku untukku." jawab Rosi.
"Benarkah,oh...sungguh malang nasibku,jika gombalanku tak mampu menaklukkanmu maka aku akan pakai panah cinta untuk memanah hatimu." ucap Egi sambil tertawa lebar.
Rosi semakin tertawa renyah sampai perutnya terasa sakit karena mendengar rayuannya.
"Egi...kau memang jenius,bisa membuat orang jadi sakit perut .ok, aku kalah." Jawab Rosi menyerah.
"Kau tidak seru Nona,kenapa harus menyerah sebelum berperang,lalu bagaimana dengan panah cintaku,apa mengenai hatimu?" tanya Egi sambil memarkirkan mobilnya di parkiran kampus.
"Tentu saja belum,kau harus belajar lebih keras lagi Tuan,agar panah cintamu bisa menembus hatiku ." jawab Rosi sambil membuka pintu mobil.
Mereka terlihat bahagia dengan guyonan ringannya.
Egi dan Rosi masuk ke kelas barengan.Semua mata terpanah melihat keromantisan mereka.Banyak yg berfikir jika mereka adalah sepasang kekasih.
Vera mengawasi setiap gerak gerik Rosi.Kini ia sudah menemukan cara untuk membuat hubungan mereka hancur.Bukan Vera jika tak mampu menghancurkan hubungan orang lain.
EGI
***************
Diandra sudah terlihat rapi sedangkan Kafka masih tertidur pulas.
Diandra mencoba membangunkannya.
"Kafka,ini sudah siang ayo cepetan bangun." ucap Diandra sambil mengoyak- ngoyakkan tubuh kafka .
"Aku masih ngantuk,Setengah jam lagi ya." jawab Kafka lirih sambil menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.
Diandra menarik selimutnya kasar.
"Ayo cepetan bangun." Teriak Diandra keras sambil menarik kaki Kafka hingga Kafka terjatuh dari ranjang.
"Sayang, kau tega sekali." jawab kafka lesu.
Kafka masih enggan untuk bangun dari lantai.
Diandra hampir menyerah karena Kafka susah untuk di bangunin.
"Jika kamu mau bangun,maka aku akan menciummu, cepat mandi sana." ucap Diandra membujuk.
Ternyata rayuan Diandra sangat mujarab.
Kafka segera bangun dan sedikit lari menuju kamar mandi.
Diandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar mesum." ucap diandra lirih.
"Sayang, jangan lupa nanti cium aku ya?" Teriak Kafka dari kamar mandi.
"iya." jawab Diandra menyesal karena Ia berjanji akan menciumnya.
Kafka keluar hanya memakai handuk putih yg terlilit di pinggangnya.
"Sayang,ayo." ucap Kafka sambil menunjuk mulutnya.
"apa?" tanya Diandra balik yg berpura-pura tidak mengerti.
"Hey,,,kau kan sudah janji tadi, ayo cepetan."
Dengan langkahnya yg terlihat lesu,Diandra terpaksa mencium bibir Kafka.
"Terima kasih sayang,aku tidak akan memintanya tapi aku akan memberinya." jawab Kafka sambil terkekeh.
"Terserah kamu lah." sahut Diandra pasrah.
Diandra mulai menyiapkan sarapan untuk Dirinya dan juga Kafka.
Kafka datang setelah selesei bersiap.
"sayang,kamu masak apa?" Tanya Kafka sambil mencium kening Diandra.
"Masak makanan kesukaanmu." jawab Diandra singkat.
"Terima kasih sayang." jawab kafka.
Mereka mulai menyendok dan menikmati makanannya.
**Di kantor**
Kafka dan Asisten An pergi ke luar karena ada urusan penting yg harus di seleseikan.
Sedangkan Diandra sibuk dengan pekerjaanya.
Diandra cukup lama menunggu Kafka datang.
Karena Ia merasa kesepian tanpa adanya Kafka di ruangannya.Diandra memutuskan untuk berkeliling kantor di temani dengan Novi.Novi adalah salah satu pegawai Kafka yg paling penurut dan pendiam.
"Novi, berapa lama kamu kerja di sini?" tanya Diandra mencoba lebih akrab.
"Sudah tiga tahun Nona." jawab Novi seperlunya.
"wau...sudah cukup lama ya, apa kamu sudah menikah?" tanyanya lagi.
"Belum Nona." jawabnya singkat.
"Novi,mau ngak aku kenalin sama temenku?" ucap Diandra dengan tersenyum.
"Maaf Nona,tapi aku takut pacaran." jawab Novi jujur.Novi pernah di jodohkan sama orang tuanya,tapi pria yg di jodohkan dengan dirinya kabur pas di hari pernikahannya.Sejak saat itu Novi merasa takut untuk berpacaran.
"Novi,yg mau aku kenalin ke kamu adalah sahabat aku,aku kenal baik dengannya.Aku dan dia berteman sejak kecil.Dia baik dan juga tampan.Kamu pasti suka.Kapan kapan aku kenalin kamu sama dia ya." ucap Diandra meyakinkan.
Awalnya Novi merasa ragu namun akhirnya ia setuju dengan ucapan Diandra.Novi merasa tidak enak jika menolaknya.
"Nona dan Tuan Kafka sangat cocok dan serasi." Ucap Novi memuji.
"Benarkah,kamu dan temanku juga sangat serasi."balas Diandra sambil tersenyum lebar.
Novi hanya tersenyum malu dengan ucapan Diandra.Novi yakin jika teman Diandra adalah orang yg baik.Tidak mungkin bosnya akan mengenalkanny dengan pria jahat.
Novi kembali bekerja setelah selesei mengatar Diandra keliling kantor.Sedangkan
Diandra kembali keruangannya setelah mendapat telfon dari Kafka.
"Kafka,apa urusanmu sudah beres ?" Tanya Diandra sambil mengambil air putih untuk Kafka.
"iya,semua sudah beres.Aku dan An sudah menemukan pelakunya !" jawab Kafka lega, namun Ia tak menceritakan siapa pelaku sebenarnya.Kafka ingin lebih banyak bukti untuk menjebloskannya ke penjara.
Tak sengaja Diandra menjatuhkan gelas yg tadi akan di berikan ke Kafka.
Perut Diandra terasa sakit tak tertahankan.
Keringat dingin bercucuran,Ia tak tahan dengan rasa sakit di perutnya.
Kafka panik melihat istrinya merintih kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Kafka bingung.
Ia mendudukan tubuh Diandra di atas sofa
"Kafka bisakah kau ambilkan air minum untukku." ucap Diandra lirih.
"iya." jawab Kafka lalu pergi mengambil segelas air minum dan menyodorkan ke istrinya.
Diandra mengambil obat dari dalam tasnya lu meminumnya.
"Jangan khawatir,aku hanya sakit rutinan." ucap Diandra sambil meringis kesakitan.
"Apa sakit rutinan,sakit apa itu,kenapa aku baru mendengarnya jika ada sakit rutinan." jawan Kafka tidak paham dengan ucapan Diandra.
"huh...aku sakit perut karena datang bulan." jelas Diandra lalu pergi ke ruang istirahat.Ia membaringkan tubuhnya dia atas ranjang yg ada di ruangan kerjanya.
"Kafka,tinggalkan aku,aku mau istirahat dulu." ucap Dindra lirih.
"Tapi sayang...."
"Sudahlah aku tidak apapa,nanti juga sembuh.Cepat kerjakan tugasmu,supaya kita bisa cepat pulang." sahut Diandra.
Kafka mengangguk dan pergi meninggalkan Diandra.Ia ingin cepat menyeleseikan tugasnya sesui pinta Diandra.
😃😃😃😃😃😃😃😃😃😃
terima kasih kak buat yg sudah like,vote dan Kirim ratenya.
Semoga kalian tetap sehat selalu.
Jangan lupa baca juga karya aku yg lainnya.
🙏🙏🙏🙏🙏