Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
81. kejutan


"Sayang, apa kamu habis menangis?" Tanya Mama.


Mama mengangkat dagu Vera dan menyilakan rambutnya yg menutupi wajah kusut Vera.


"Katakan sama Mama, apa yg membuatmu menangis?"


"Ma, aku dan Denis tidak saling cinta, bagaimana mungkin kita akan menikah dan hidup bersama. Ma, bisakah Mama dan Papa batalkan acara perjodohan ini?" Pinta Vera.


"Sayang, Mama dan Papa tidak bisa membatakan perjodohan ini karena sudah sejak kecil kalian di jodohkan sama orang tua kalian. Vera, Mama hanya menjalankan amanat orang tua kamu, sayang." Mama pergi meninggalkan Vera.


Vera memukul kasur dengan ke dua tangannya, Mengacak rambutnya yg dari tadi sudah berantakan, kini malah semakin berantakan. Menghentakkan kakinya keras dan menjerit tak karuan seperti orang depresi di tinggal ke kasihnya pergi.


Vera berjalan lesu menuju kamar mandi, menguyur seluruh tubuhnya di bawah shower.


Vera melepaskan semua kesedihan di dalam kamar mandi.


😭😭😭😭😭


Kafka dan Diandra datang mengunjungi orang tuanya.


Membawa sebuah kotak besar untuk mama dan papanya sebagai kado ulang tahun pernikahannya.


Mereka duduk di ruang tamu, ada Mama dan Papa.


"Maaf tidak bisa kasih kado apa-apa selain ini Mah, Pah." Kafka menyodorkan kotak itu ke Mamanya.


Mama penasaran dengan isi yg ada di dalam kotak itu.


Kotak itu besar tapi ketika di pegang terasa ringan sekali seperti kotak kosong saja.


Mama mulai membuka kotak itu.


Di dalam kotak itu banyak kotak lagi mulai dari besar hingga kecil.


Mama dan Papa merasa kesal di buatnya karena sudah berkali-kali membukanya masih ada aja kotak lain di dalamnya.


Ruang tamu terlihat berantakan dengan sobekan kertas dan kotak-kotak kecil yg di bawa Kafka tadi.


Kafka dan Diandra hanya ketawa lirih melihat raut wajah Papa dan Mama nya kesal karenanya.


"Kafka, sebenarnya apa sih isinya kok dari tadi gk selesei ngebukanya." Ucap mama kesel.


Papa memukul punggung Kafka berkali-kali karena merasa jengkel dengan ulah Putranya.


Bisa-bisanya Kafka ngerjain orang tuany sendiri.


"Pagi Kak!" Sapa vera.


Vera datang menghampiri mereka dan duduk di samping Mama. Tak berselang lama Iffa juga datang duduk di sebelah Vera.


Suasana rumah semakin rame ketika mereka pada ketawa melihat Mama dan Papa kesal ngebuka kado dari Putranya.


"Sini biar aku bantu Ma." Vera segera mengambil kotak itu dari tangan Mamanya.


"Ma ini kado buat Mama dan Papa dari aku."


Vera memberikan amlop kecil untuk Mama.


Mama membukanya dengan mata berbinar.


"Terima kasih sayang." Mama memeluk Vera hangat seperti anak kandungnya.


Begitupun Papa.


Iffa diam tertunduk karena Ia lupa kalau hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Mama dan Papanya.


"Maaf ya Ma, Pa, aku lupa kasih kadonya, tapi tenang saja pasti aku belikan, hehehe... Kadonya nyusul ya Ma."ucap Iffa cengar cengir.


"Dasar kamu, ingatnya cuma makan aja." Ketus Kafka. Kafka melempar bantal ke badan gendut Iffa.


"Ah, Kakak. Biarin namanya juga lupa, wekk." Balas Iffa dengan menjulurkan lidahnya.


Vera membukanya dengan telaten, ada sebuah amlop kecil di dalam kotak itu.


Di ambilnya dan dibukanya.


Vera hanya memelotinya saja tidak paham dengan isinya.


"Coba Mama lihat, ini apa sih." Vera memberikan kertas hitam putih itu ke Mamanya.


Mama menutup mulutnya dan tersenyum, Mama memandang Papa dengan mata berbinar.


Sebuah kebahagian yg tidak bisa di gambarkan oleh apapun.


"Pa, lihat ini. Kita akan punya cucu Pa?"


"Benar Ma, kita akan jadi kakek dan Nenek."


Papa menepuk keras bahu Kafka.


"Tidak sia-sia usaha mu, Nak." Ucap Papa yg bikin Malu Diandra.


"Maksudnya kak Diandra hamil gitu ya Ma." Tanya Iffa yg di angguk'i oleh mamanya.


"Selamat ya Kak, sebentar lagi aku punya keponakan." Iffa menepuk bahu Vera keras hingga membuat Vera merintih kesakitan.


"Aw,,, adik,, sakit tau." Vera ikut seneng mendengarnya meskipun kini dirinya sedang galau.


Vera sudah tau lebih dulu karena kemaren An sudah memberitahunya.


Vera menundukkan kepalanya dengan raut


wajah sedihnya.


Vera berdiri dan kembali ke kamarnya untuk menutupi kesedihannya.


Bahkan sampai lupa mau kasih kue buat orang tuanya yg ia simpan di dapur tadi malam.


Diandra menagkap sinyal kesedihan pada diri Vera.


"Pa, Ma, saya ke kamar dulu ya." Mereka semua mengangguk.


Tokk...tokk.


Diandra mengetuk pintu kamar Vera.


"Masuk!"


Diandra masuk dan duduk di samping Vera.


"Ada apa, apa kami ada masalah?" Diandra mengusap pundak Vera lembut.


"Dra, dulu waktu kamu nikah sama Kak Raffa kan di jodohin ni, terus gimana." Tanya Vera belepotan.


"Maksudnya gimana, aku ngak paham sama pertanyaan mu."


"Dra, Mama sama Papa mau ngejodohin aku sama Denis, terus aku harus gimana?"


"Siapa Denis?" Tanya Diandra yg tidak pernah dengar nama itu.


"Dia anak dari teman Papa. Kamu tahu kan kalau aku cuma suka sama An, terus aku harus gimana?"


"Vera, apa An tau soal ini." Vera mengangguk.


"Lalu apa katanya." vera mengelengkan kepalanya.


"Aku ngak tau. Dia bilang, dia ngak bisa nentang perintah Papa dan mama karena mereka sudah banyak ngebantuin dia.


Aku kecewa sama dia, dia tidak mau berjuang untukku. Dia malah mundur dan nyerah gitu aja dengan alasan yg tidak masuk akal." jelas Vera panjang lebar.


Vera membanting tubuhnya kasar dan kakinya ia kejang-kejangkan seperti anak kecil minta uang jajan sama mamanya.


"Hah... pusing aku, hahhhhh !"


"Vera, kamu jangan kaya gitu ah, geli lihatnya." Goda Diandra.


Diandra menepuk kaki Vera keras.


"Aw,,, kenapa kamu menepuk ku, sakit tau.


Aku pusing, harus gimana ni." Vera mengacak rambutnya dan kembali guling-guling di atas kasur.


Kafka masuk dan tertawa geli ngelihat Vera yg kaya anak kecil.


"Ada apa dengannya, apa dia kehabisan obat kok bisa st*es kaya gitu."Tanya Kafka.


Kafka menepuk kaki Vera keras.


"Aw,,,, tadi Istrinya sekarang Suaminya, kenapa kalian kompak sih?" celetunya.


"Aku dengar kamu mau nikah sama Denis ya, terus mau kamu kemanain si An?" ledek Kafka, Kafka bukan ngebantuin malah dia asik makan cemilan yg ada di atas meja Vera.


"Hih,,, Kakak, cepat keluar sana." Vera mendorong tubuh Kafka untuk keluar dari kamar tapi Kafka tidak juga mau keluar malah dia duduk di atas ranjang dengan membopong toples isi kacang asin.


Diandra terkekeh melihat mereka ribut sendiri.


Ya begitulah Kafka dan adik-adiknya seperti kucing dan tikus kalau ketemu.


Saat jauh rindu, kalau dekat berantem mulu.