
"Udah ah aku mau istirahat." Diandra keluar tanpa ngasih saran apapun karena Diandra ngak mau ikut campur urusan mereka.
"Sayang, kamu ke kamar dulu ya, nanti aku nyusul. Aku mau ngobrol dulu sama Vera bentar!"
"Ok,,, aku pergi dulu."
"Heem." Kafka menganguk.
Entah apa yg mereka bicarakan, sepertinya serius banget, hanya mereka dan Tuhan yg tau. Kita para pembaca hanya akan tau setelah selesei membaca,,, hehehe...
Lanjut ya gaesss...
Vera pergi menemui An untuk mencari jawaban dan titik terang dari masalahnya.
"Kak, Kaka Kafka mau ngebantuin kita buat gagalin perjodohan kita, nanti malam kamu datang ya ke rumah, kamu harus ngomong sama Papa sesuai rencana kita." Ucap Vera.
"Ok Nona, aku siap kok. Senyum dong, biar aku tambah semangat buat rencana kita nanti malam." An mencubit pipi Vera pelan.
Vera bisa tersenyum lega, pada akhirnya An mau nuruti semua keinginannya.
Ia akan berjuang demi dirinya, ini yg Dia mau karena dia sangat mencintai An melebihi apapun yg dia miliki. Cuma An yg bisa membuatnya bahagia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Malam yg di nantikan telah tiba.
An datang bersama Denis.
Entah sejak sejak kapan mereka jadi akrab seperti yg sekarang.
An dan Denis duduk bersanding, di seberang ada Mama dan Papa, di sebelah ada Vera dan Iffa.
Kafka dan Diandra duduk di tempat lain sebagai penonton dan pendengar setia.
Lebih asyik lagi di temani teh hangat dan keripik belinjo.
"Kalian mau bicara apa, katakan sekarang?" Tanya Papa dengan wajah galaknya.
Vera meremas jemarinya kuat sambil mengigit bibir bawahnya, hatinya semakin tidak tenang karena hingga saat ini belum ada titik terangnya.
"Maaf Om, saya, An dan Vera sudah bicarakan ini sebelumnya dan sudah memikirkan matang matang untuk mengambil keputusan ini. Mungkin ini akan membuat Om dan Tante sedikit kaget, tapi ini adalah perasaan kita yg sebenarnya." Jawab Denis dengan wajah tegangnya. Peluhnya keluar bercucuran membasahi tubuhnya. Rasa gemetar dan hati tak karuan, pikiran melayang tak tentu arah, menunggu sebuah kepastian.
"Tuan, saya ingin melanjutkan ucapan Denis.
Saya ke sini hanya ingin melamar anak Tuan yaitu Vera. Karena saya sangat mencintai Vera, dan saya siap mendapat hukuman dari Tuan." Lanjut An, An sedikit tenang karena dari awal An sudah mempersiapkan mental dan hatinya sekuat baja.
"Apa maksud kalian, jelaskan semuanya. Apa kalian pikir semua itu sebuah permainan apa." Balas Papa sedikit meninggikan nada bicaranya. Bola mata memandang tajam ke arah mereka bergantian.
Mama mengusap pundak Papa lembut sembari mendinginkan suasana yg dari tadi sudah menegang. Ya, mama hanya sebagai penegah dalam kursi bundar itu.
Papa menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya kasar. Ngak habis pikir jika ternyata mereka berani mengungkapkan perasan mereka di hadapannya.
Iffa yg dari tadi duduk diam mendengarkan obrolan mereka sontak kaget tak percaya.
Iffa membulatkan matanya sambil tersenyum tipis melirik Denis.
"Apa ! ternyata dia juga suka sama aku. Apa aku ngak salah dengar ni, atau aku hanya mimpi." Batin Iffa girang.
Mencubit tangannya kerasa yg membuat dirinya merintih kesakitan. "Oh, tidak, ternyata ini nyata dan aku tidak mimpi."
Diandra dan Kafka yg duduk di tempat berbeda hanya melongo tak percaya mendengar pengakuan Denis.
Tak menyangka orang yg kelihatannya lugu dan pendiam itu berani melamar adiknya di depan orang tuanya.
"Apa kalian serius dengan pilihan kalian, apa kalian sudah siap menerima resikonya?" Tanya Papa sedikit menegang.
"Siap Om, siap Tuan." Ucap An dan Denis barengan.
"Lalu bagaimana dengan mu Iffa, apa kamu siap menerima lamaran Denis, jika kamu tidak siap maka dengan terpaksa Denis tetap akan menikah dengan Vera." Ucap Papa.
Iffa menundukkan pandangannya, berfikir sejenak mencari jawaban yg pas.
"Gimana ini, kasihan kak Vera jika tidak jadi nikah sama Kak An. Ya sih, aku memang suka sama kak Denis tapi aku kan masih kuliah. Terus gimana ini, aku harus jawab apa?" Ucap Iffa dalam hati.
Vera mengangkat pandanganya dan mencoba menarik nafasnya pelan dan menghembuskan sama pelannya.
"Pa, aku akan menerima lamaram Kak Denis." jawab Iffa dan kembali menundukkan pandangannya. Entah itu jawaban yg benar atau salah, dia hanya tidak ingin jika Vera dan An berpisah karenanya
Denis kaget dan seneng banget mendengar jawaban Iffa saat itu.
Denis tersenyum lega kini tinggal menunggu jawaban dari Orang tua Iffa.
"Ok, kalau itu ke inginan kalian, aku akan merestui kalian, tapi ada syaratnya. An, kamu harus nikahi Vera minggu depan terhitung mulai hari ini. Kamu Denis, Kamu boleh nikah sama Iffa tapi kamu harus nunggu Iffa lulus kuliah dulu." Syarat Papa yg membuat mereka tercengang tak percaya.
An ingin menikah tapi bukan secepat ini sedangkan Denis pingin cepet nikah sama Iffa dalam waktu dekat ini. Tapi apalah daya syarat Papa justru kebalik tak karuan.
Masih ada waktu untuk bernegoisasi, Mereka masih berfikir keras untuk bertukar posisi.
Entah apa rencana mereka selanjutnya. Yg jelas hanya mereka yg tau.
Kalian para pembaca hanya ikut alurnya saja, biar author yg urus semuanya, hehehe....😃😃😃
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Hai para pengemar novel aku, terus pantengin terus novel aku karena tinggal beberapa episode lagi sudah mau tamat lo.
🙏🙏🙏🙏