Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
14.kafka gila


Dia menyutujui usulan suaminya.


Raffa keluar ruangan dan langsung kembali ke kantor, sedangkan Mama pamitan keluar ada urusan yg harus Dia seleseikan.


Di ruangan hanya ada Diandra dan Kafka.


Hati Diandra merasa tidak tenang merasa canggung.


Pikirannya berkeliaran entah kemana memikirkan apa yg akan terjadinya.


Dia tidak ingin hal serupa sepeerti kemaren kembali terjadi lagi padanya.


Kafka sadar perlahan membuka matanya.


Dia melihat ada Diandra duduk di sofa agak jauh dari ranjangnya.


Menatapnya penuh senyuman karena ada wanita yg ia cintai duduk di sana.


Diandra tidak menyadari jika adik iparnya sudah sadar dari pingsannya. Dia masih diam mematung binggung harus ngapain.


Kafka masih dalam pandangganya menatap Diandra tidak ingin sedetikpun ia mengetipkan matanya.


Mama kembali ke ruangan.


Diandra mendongkkan kepalanya setelah melihat mama mertuanya datang.


"Sayang, kamu sudah bangun?"tanya Mama kepada Kafka.


"Iya Ma, aku sudah bangun."jawab Kafka sambil melirik Diandra pelan.


"Diandra sayang, bisakah kamu jaga Kafka sebentar karena Papa menyuruh ku mengambil berkasnya yg ketinggalan di rumah, sebentar lagi Iffa juga datang?" Pinta Mama kepada menantunya.


Diandra diam dan ragu menjawabnya.


Melirik Kafka dan kembali menatap mertuanya.


Tidak tega menolak permohonan Mama mertuanya lagi pula sebentar lagi Iffa juga akan datang. Pikiran Diandra sedikit lega setelah mendengat jika Iffa akan datang ke situ.


"Iya Ma."jawab Diandra pelan.


Mama pergi dengan langkahnya yang buru buru.


Kafka merasa menang bisa melihat Diandra ada di dekatnya.


Mengambil ponselnya yg tergeletak di atas meja.


Mengirim pesan singkat ke nomor watshapp adiknya.


"Pao, kamu ngk usah ke sini karena aku mau istirahat lagian aku sudah sehat."send


"Baiklah kakak, cepat sembuh ya." Balasan dari Iffa.


Seorang perawat membawa nampan berisikan makan siang untuk Kafka dan meletakkannya di atas meja lalu keluar ruangan setelah tugasnya selesei.


Di ruangan hanya ada Diandra dan Kafka.


Diandra merasa tegang dan hatinya gelisah tak tenang menunggu kedatangan Iffa yg tak kunjung datang juga.


"Bantu aku makan." Pinta Kafka kepada Diandra.


Diandra menoleh dan berjalan mendekati Kafka. Langkahnya pelan dan sangat lambat seperti siput.


Kafka ketawa keras dalam hati tapi dia mencoba menahannya.


Diandra mengambil mangkuk yg berisikan nasi, sayur dan ikan.


Menyodorkan ke Kafka tanpa melihatnya.


"Tolong suapin." Pintanya lagi.


"Apa, dasar kau ini."ucapnya sedikit keras.


menatap Kafka tajam.


"Selang infus masih tertancap di tangan ku susah untuk di gerakkan."alasan Kafka.


Dindra terpaksa menuruti permintaan Kafka.


Hati Diandra merasa mengumpal dan kesal ingin rasanya ia menjambak rambut lurus Kafka.


Diandra menyuapi Kafka tanpa melihatnya. Pandangannya masih fokus dengan tembok putih yg ada di depanya.


Kafka memandang wajah Diandra lekat.


Tidak ingin jauh darinya ingin rasanya ia memeluk dan menciumnya.


Selesei menyuapi Kafka, Diandra kembali duduk di sofa dan membaca buku yg tergeletak di atas meja untuk menutupi keresahannya.


Kafka masih dengan pandangannya,


memandang Diandra tanpa ingin berkedip.


"Bantu aku ke kamar mandi."pinta Kafka lagi.


Menarik nafasnya panjang dan menghempaskannya kasar.


Mendekati Kafka dan memapahnya ke kamar mandi dengan hati terpaksa.


tangan kafka melingkar di leher diandra.


Kafka masuk kamar mandi sedangkan Diandra menunggunya di depan pintu.


Diandra memberontak dalam hati berteriak keras memanggil nama suaminya.


Berkali- kali dia melihat ke arah pintu berharap Iffa akan segera datang.


Diandra tidak tau jika Kafka sudah mengirim pesen ke Iffa menyuruhnya untuk tidak datang ke rumah sakit.


Kafka kembali dari kamar mandi. Diandra kembali membantu memapahnya dan membaringkan ke atas ranjang.


Kafka menarik tangan Diandra pelan.


Wajah Diandra sangat dekat dengan wajah Kafka.


Mata Diandra lebar membulat, hati dan jatungnya bedetak kencang takut jika Kafka akan nekat ngelakuin hal yg tidak ia inginkan.


"Makasih sudah mau membantu ku."ucap Kafka pelan.


Diandra mendorong tubuh Kafka dan pergi menjauh darinya.


Diandra kembali duduk di sofa dan mengambil buku itu lagi.


Mencoba melawan rasa kesal dan takutnya.


Kafka masih memandangnya, pandangannya sangat lekat dan tak bisa di artikan.


Melepas infus yg tertancap di punggung tangannya.


Melangkah mendekati pintu dan langsung mengunci pintu itu dari dalam pelan.


Diandra masih membaca buku tak menyadari jika Kafka mengunci pintunya.


Kafka duduk di sebelah Diandra tanpa merasa berdosa.


Diandra terkejut melihat Kafka yg tiba- tiba sudah duduk di sebelahnya.


Dia menggeser duduknya sedikit menjauhi Kafka dengan hati tegangnya.


"Apa kau menghindari ku."tanya Kafka.


Dia berdiri ingin keluar ruangan itu namun Kafka menghentikannya. Menarik tangan Diandra kasar dan terjatuh di pelukan Kafka.


Hati Diandra seperti di aduk tak karuan, merasakan takut dan sangat takut jika Kafka akan melakukan hal gila padanya.


Kafka memegang leher Diandra dan tangan satunya masih memegang tangan Diandra.


Kafka sudah tidak tahan melihat wajah Diandra yang putih dan bersih itu.


Dia langsung mel**at bibir seksi Diandra tanpa ampun.


Diandra memberontak dan mendorong Kafka Tubuh kafka yg kekar berotot itu tidak mudah untuk Diandra robohkan.


Kafka semakin gila di buatnya, Dia terus mel**at bibir Diandra penuh gairah.


Diandra menggigit bawah bibir Kafka keras hingga berdarah.


Kafka melepaskannya dan merintih kesakitan.


Diandra menamparnya keras dan memakinya.


"dasar baji*gan, beraninya kamu menyentuh ku. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu." Makinya penuh amarah.


Diandra hendak keluar tapi pintu masih terkunci rapat.


Kafka berjalan mendekati Diandra dengan gaya soknya.


"Cukup, jangan mendekat atau aku akan teriak." Ucap Diandra mengancam.


Kafka diam tidak bergrerak


"Aku hanya ingin diri mu, tidak perduli kamu milik siapa. Dia sudah merebut mu dari ku."jawab Kafka sedikit berteriak.


Deg...


Hati Diandra merasa tersambar petir mendengar ucpan Kafka mencerna setiap kata yg keluar dari bibirnya.


"Apa maksud mu?"tanya Diandra


"Apa kau tidak sadar dengan perhatian ku selama ini. Kau bekerja di Restoran ku dan setiap hari aku memperhatikan mu. Aku ingin memiliki mu tapi dia hadir dan merebut mu dari ku."jelas Kafka.


"Tidak, kau pasti berbohongkan." Balas Diandra.


Diandra menangis dia merasa bersalah.


Dia ingat ucapan suaminya semalam


jika hati Kafka berubah dingin dan keras karena patah hati karena cewek.


"Apa aku cewek yg membuatnya patah hati."


Diandra merasa bersalah, dia menangis keras tanpa henti.


"Apa kau tau, dia selalu merebut apa yg aku suka. Dia juga merebut Papa dan Mama, kasih sayang mereka hanya untuk Raffa


dan sekarang dia juga merebut mu dari aku."ucap Kafka, Kafka menangis dan meluapkan semua isi hatinya.


"Aku berusaha mengalah namun kali ini aku tidak ingin mengalah darinya, aku akan mengambil mu darinya."ucap Kafka


"Kamu jangan nekat, dia kakak mu dan aku hanya mencintainya camkan itu baik baik.


Ku mohon biarkan aku pergi karena masih banyak wanita di luar sana yg jauh lebih baik dari ku yg pantas untuk mu.


Ku mohon buka pintunya atau aku akan berteriak." Ancam Diandra


Kafka memeluk Diandra namun Diandra menepisnya.


Diandra berterik keras, telapak tangan Kafka membungkam mulut Diandra.


Kafka melihat wajah Diandra yg ketakutan, tidak tega menyakiti lebih dari itu.


Kafka mengepal tangannya dan melampiaskannya ke tembok.


Diandra melihatnya dengan hati hancur dan seluruh badannya gemeteran.


Kafka membuka pintunya kasar. Diandra berlari keluar sembari menangis pilu.


Hatinya sudah hancur, Dia takut jika Kafka akan lebih nekat dari itu. Dia tidak ingin menyakiti suaminya.


Apa yg akan terjadi pada dirinya jika suami yg menyayanginya tau hal itu. Pasti hatinya akan lebih hancur dari itu.


😭😭😭😭😭😭


Diandra masih menangis dengan hati yg terluka. Wajahnya lebam dan matanya terlihat bengkak. Sampai rumah Diandra berlari menuju kamarnya.


Membanting tubuhnya kasar di atas ranjang


menangis dan berteriak histeris.


________


Raffa kembali ke rumah sakit hendak menjeput istrinya.


Masuk ke ruangan di mana Kafka di rawat namun Dia tidak mendapati istrinya, Dia hanya melihat Kafka duduk di sofa dengan wajah kesalnya.


"Apa kau baik- baik saja?"tanya Raffa.


Kafka hanya mengangguk tanpa membuka mulutny.


Kedua tangannya terkepal keras ingin rasanya ia memukul Raffa setelah apa yg Dia lakukan padanya.


"Ke mana istriku?"tanyanya lagi.


"Sudah pulang." Jawabnya singkat.


Raffa merasa heran kenapa Diandra tidak menunggunya tapi Raffa mencoba berfikir positif tentang istrinya.


Mama datang mengahampiri Raffa.


"Sayang, kau sudah di sini, mana istrimu?"tanya Mama.


"Dia sudah pulang Ma, mungkin dia tidak enak badan."jawab Raffa sedikit berbohong.


Raffa berpamitan.


"Sayang, kenapa kau di sini?"tanya Mama heran melihat Kafka duduk di sofa dengan infus sudah tixak tertancap lagi di tangannya.


"Aku mau pulang Ma, aku sudah sehat."jawab Kafka.


Mama menuruti permintaan putranya.


___


Ini rumah sakit milik keluarga Kafka.


Ayahnya sebagai dokter spesialis bedah


kafka memanggil adiknya(Iffa) dengan sebutan "Bakpao."


***


Habis baca jangan lupa tinggalkan πŸ‘like, vote dan ⭐rate ya.


Di tunggu juga komen dan sarannya


Mampir juga di karya aku yg lainnya


Terima KasihπŸ™πŸ™πŸ™