Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
27.raffa marah


"ih...apaan sich,cepat mandi sana."ucap diandra malu sembari memukul dada suaminya pelan.


raffa pergi ke kamar mandi,sedangkan diandra membereskan pakain suaminya yg tadi ia lucuti.


diandra kembali bersedih jika ingat suaminya menderita penyakit itu."kenapa kau sembunyikan dariku,kenapa kamu pura pura sehat di depanku,aku tahu sebenarnya kau menderita dengan semua itu.tuhan cobaan apa lagi yg kau berikan padaku.aku lelah dan hampir menyerah dengan kenyataan pahit ini.ku mohon angkatlah semua penyakit yg ada di tubuh suamiku."ucap diandra dalam hati


raffa kembali dari kamar mandi,melihat istrinya duduk di sofa sambil menangis terisak.


raffa membuang kasar handuk yg ia pakai untuk mengeringkan rambutnya.


mendekati istrinya lalu memeluk dan mengusap rambutnya lembut.


"sayang,ada apa,kenapa kau menangis."tanya raffa lalu menyeka air mata diandra dengan telunjuknya.


diandra menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.air matanya semakin mengalir deras, bak air hujan turun dari langit.


diandra melepaskan pelukan raffa lalu mendongakkan wajahnya sejajar dengan suaminya.


"kak,kenapa kau lakukan itu padaku,aku adalah istrimu,tak sepantasnya kau rahasiakan hal sebesar ini dariku.aku mencintaimu tulus,aku ingin hidup bersamamu dalam keadaan suka maupun duka ."ucap diandra serak dan samar.


namun itu terdengar jelas di telinga raffa.raffa mencerna setiap kata yg keluar dari mulut istrinya.


raffa menatap wajah istrinya dan memegang kedua pipi diandra.


"sayang,apa yg kau katakan,katakan yg jelas."jawab raffa lirih.


"kak,katakan padaku yg sejujurnya,apa benar kakak punya penyakit itu."balas diandra tak menyebutkan nama penyakitnya yg jelas.


raffa mengerti yg di maksud istrinya.


raffa semakin memandang istrinya tajam.


"darimana kau tahu itu,siapa yg memberi tahumu?" tanya raffa sedikit emosi.


"tak perlu kakak tau, aku tau dari siapa.katakan yg sejujurnya,apa benar....."


"iya benar,aku mengidap kangker otak ,sekarang kau sudah tau yg sebenarnya,apa kau juga akan meninggalkanku seperti yg di lakukan ruka padaku." sahut raffa dengan nada sedikit keras.


"aku melakukan itu karena aku takut kehilanganmu,dirimu yg mampu membuatku berjuang untuk melawan penyakit ini. jika kau ingin pergi,pergilah." ucap raffa emosi.ia tak menyangka jika istrinya akan menanyakan hal sebodoh itu.


raffa berdiri dan pergi meninggalkan diandra.


ia keluar kamar dan membanting pintu keras.


diandra menangis terisak isak.ia tak menyangka jika suaminya akan semarah ini.


diandra mencoba berlari mengejar suaminya.


namun lagkah raffa lebih cepat darinya.


raffa masuk ke ruang belajar dan mengunci pintunya dari dalam.tangannya mengempal dan melampiaskan dengan menghantam cermin yg ada di depannya.


pyaarr....


kaca pecah dan hancur lebur.tangannya masih terkepal dengan darah segar yg keluar bercucuran.tangannya terluka terkena serpihan kaca.namum luka di tanggannya tak begitu ia rasa,luka di tangannya tak sesakit dengan pertanyaan istrinya tadi.


diandra berdiri di depan pintu ruang belajar.


mengetuk pintu pelan.


"kak,buka pintunya.kumohon maafkan aku.maaf jika pertanyaanku telah membuat hatimu terluka.tapi aku tidak ada maksud begitu."ucap diandra namun tak ada sahutan dari raffa.


"kak,tolong buka pintunya.biarkan aku masuk."diandra terus berusaha mengetuk pintunya berharap suaminya akan membuka pintunya.namun lagi lagi raffa tak meresponnya.


"aku mencintaimu,aku ingin hidup bersamamu.apa pun yg terjadi aku akan selalu ada untukmu.aku tidak akan meninggalkanmu,meskipun tinggal ragamu.kak,ku mohon maafkan aku."


raffa mendengar jelas setiap ucapan yg keluar dari mulut istrinya.namun ia masih kecewa dan kesal padanya.ia tak ingin melihat istrinya bersedih karena penyakit yg ia derita.dia berusaha menyembunyikannya namun tak menyangka jika istrinya akan mengetahuinya.


"pergilah dan tinggalkan aku."ucap raffa keras .


diandra mengerti jika kini suaminya dalam keadaan emosi.diandra pergi dan kembali kekamar.


___


di jam yg sama namun di tempat yg berbeda rosi menikmati kencannya.hatinya bahagia karena ia bisa pergi kencan bersama kafka.kafka adalah cinta pertamanya.ia berharap kafka akan menjadi pasangan hidupnya.


kini mereka duduk sejajar di dalam bioskop.


"kak,apa kau suka filmnya."bisik rosi


"lumayan."jawab kafka.


sejujurnya kafka tidak suka pergi nonton,namun kini ia lakukan hanya demi membuat hati diandra bahagia.


rosi tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya di bahu kafka.


kafka diam tk menolak dan membiarkannya.


"kak,terima kasih kamu sudah menemaniku."ucap rosi pelan.


"he'em...tidak masalah."ucap kafka singkat.


tandanya film sudah selesei di putar.


semua penonton berhamburan keluar termasuk rosi dan kafka juga keluar.rosi mengandeng tangan kafka.kafka membiarkannya,ia tak ingin membuat hati rosi kecewa.


"mau kemana lagi."tanya kafka.


"terserah kakak."jawab rosi singkat.


kafka mengajak keluar dari gedung dan pergi menaiki mobil.


kafka menghentikan mobilnya di tempat sepi dan remang.hanya ada beberapa lampu warna warni yg terlihat menyala menerangi gelapnya malam.


kafka mengandeng tangan rosi berjalan menyusuri jalan itu.rosi hanya patuh dan nurut dengan ajakan kafka.


kafka berhenti dan menunjukkan sesuatu ke rosi.


"ini lestoranku,di belakang ada danau kecil buatan papaku."ucap kafka lalu mengandeng tangan rosi berjalan menuju belakang lestoran.


"wau...menakjubkan.apa kakak sering kesini."tanya rosi lalu duduk di atas rerumputan.


kafka ikut duduk.


"tidak juga,sekarang aku lebih banyak membantu bisnis kakakku.jadi aku jarang ke lestoran.dulu diandra sering kesini karena dia bekerja di lestoranku.hampir tiap sore di duduk sini."ucap kafka.


"apa kakak juga deket dengan diandra?" tanya rosi.


"tidak,tidak sedekat itu."jawab kafka.


"kak,terima kasih untuk waktunya."


"he'em...santai saja."jawab kafka.kafka melepas jaketnya lalu membalutkannya ke tubuh rosi.


rosi tersenyum lebar dan menerimanya.


wajah rosi menjadi merah merona melihat perlakuan manis kafka.


"terima kasih."ucapnya.


hampir satu jam mereka duduk bersama.


rosi menyandarkan kepalanya di pundak kafka.kafka tidak menolaknya dan membiarkannya.


kafka tersenyum membayangkan jika yg duduk dan bersandar di bahunya adalah diandra.


dia menarik senyumannya dan kembali padam ketika melihat wajah rosi .


mungkin itu khayalan belaka untuk bisa bersanding dengan diandra.


____rumah raffa


diandra masih bersedih hingga larut malam.ia tak bisa memejamkan matanya,masih kepikiran dengan keadaan suaminy.ia menyesal telah menayakan hal itu.


diandra keluar dan berdiri di depan pintu ruang belajar suaminya.


ia mencoba mengetuk pintunya kembali.


"sayang,buka pintunya,aku mau masuk."ucap diandra .


tak ada sahutan dari dalam.


"sayang,buka pintunya aku mau bicara."ucapnya lagi.


tetap tak ada sahutan dari dalam.


"aku akan berdiri di sini sampai kamu akan membuka pintunya untukku."ucap diandra mengancam.


raffa mendengar ucapan istrinya.ia tak mungkin membiarkan istrinya semalaman berdiri di depan pintu.raffa terpaksa membuka pintunya meskipun hatinya masih terluka.


"apa kau gila akan berdiri sini terus."ucap raffa ketus .


"iya aku gila,kau yg membuatku gila."jawab diandra lalu memeluk suaminya.


"maafkan aku,aku sudah membuatmu terluka.aku janji,aku akan selalu ada di sisimu apapun yg terjadi.aku mencintaimu dan aku sangat sangat mencintaimu."ucap diandra menangis.


raffa tak tega melihat istrinya menangis.ia paling benci melihat air mata istrinya keluar dari kelopaknya.


raffa membalas pelukannya lalu mencium kening istrinya.


"maafkan aku telah membuatmu menangis,aku hanya takut kehilanganmu."jawab raffa.


**********


terima kasih kawan sudah mau mampir ke karya aku.


semoga kawan semua suka.


jangan lupa tinggalkan jempolnya.👍👍