Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
52. Maaf


Diandra masih duduk di atas ayunan menikmati sejuknya suasana di pagi hari.


"Iffa, cepetan renangnya." Ucap Diandra di iringi senyuman manisnya.


"Bentar lagi kakak." Jawab Iffa dengan mengacungkan dua jarinya✌️ sebagai tanda 'sabar dong kak'.


"Ok, sebentar aja ya." balasnya dengan sedikit menyipitkan matanya.


"Ok, kakak ku yg cantik dan baik hati." Sahutnya dengan sedikit nenyunggingkan senyumannya.


Diandra terpaksa menuruti kemaun Adik Iparnya itu.


Terus mengayunkan ayunananya pelan sambil tersenyum senyum karena ingat kejadian yg menimpa Vera tadi.


Sementara itu Vera dengan rasa kesalnya telah mengguyur tubuhnya di bawa derasnya air yg turun dari shower.


"Sial banget sih aku, susah banget sih mau ngerjain tu kampret. Tenang Vera, masih banyak jalan menuju Roma, itu artinya masih banyak cara untuk bisa membuat mereka kapok. Awas aja kamu kampret, hihhh.." Ucap vera kesal sembari meremas remas tangganya.


Kafka segera turun dan mencari keberadaan istri dan adiknya.


"Ke mana mereka ." ucap Kafka sambil tolah toleh mencari mereka .


Kafka terus berjalan hingga sampai halaman belakang.


Ia berhenti di pingir pintu lalu menyandarkan tubuhnya di samping pintu.


Dua tangannya Ia masukkan ke dalam saku celananya dengan senyuman tipisnya.


Ia melihat Istrinya duduk di atas ayunan, dan sangat terlihat jelas jika istrinya kini sedang merasakan kenyamanan. Kafka sengaja tak mendekatinya karena tak ingin menganggu istrinya yg saat ini berada di zona ternyaman.


Cukup lama Kafka berdiri memperhatikan istrinya, akhirnya Ia berjalan mendekati istrinya dan ikut di samping Istrinya.


"Sayang, kenapa kamu ngak ikut renang?" Tanya kafka sambil mengusap kepala Diandra.


"Tidak ah, aku malu karena aku ngk bisa renang." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Suaminya karena fokus sama Iffa yg sibuk berenang dengan berbagai gaya.


Sebenarnya Diandra ingin sekali bisa berenang tapi ia malu untuk minta ajarin Kafka.


"Aku bisa kok nagajarin kamu." Balas Kafka sambil menatap wajah Diandra.


Diandra segera menoleh ke arah Kafka dan tersenyum tipis.


"Benarkah, kamu mau mengajari ku?" tanya Diandra penuh semangat.


"Tentu saja, jika kamu mau." Jawab Kafka Tersenyum licik dengan sedikit menaikkan alisnya.


"Ngak ah,,, malu, ehm.. kapan-kapan saja ya?" Ucap Diandra lirih karena malu. Ia kembali menarik pandangannya dan melemparnya ke arah Iffa.


"ha ha ha,,, kenapa malu? Aku kan suamimu!"


"Bukan itu, tapi aku malu kalau Mama dan Papa tau jika aku ngak bisa renang, hehehe..."


Diandra menyembunyikan wajahnya yg sudah semakin memerah itu.


Kafka sedikit mengeser duduknya agak dekat dengan Istrinya.


Kafka meraih dagu istrinya agar sejajar dengannya.


Wajah mereka sangatlah dekat dan hampir menyatu. Kafka tersenyum licik sambil menaikkan alisnya.


Cuuupsss....


"Kalau ini apa kamu juga akan malu." ucap kafka dengan pandangan mesumnya.


Ingin rasanya Ia melahap bibir seksi istrinya saat itu juga.


Mata diandra terbelalak tak percaya dengan sikap mesum suaminya yg selalu mencium bibirnya di mana aja, bahkan ia tak tau tempat .


"Dasar mesum!" bengisnya lalu mendorong tubuh Kafka agak jauh darinya.


Kafka ingin melakukannya lagi, namun Diandra langsung menepisnya dengan cara menempelkan jarinya di bibir Kafka.


"Sayang, ada Iffa di sana!" ucap Diandra sambil tersenyum penuh kemenangan.


Kafka menarik lagi bibirnya dan tersenyum lesu.


"Baiklah aku kalah." Ucapnya kecewa lalu


Menarik nafasnya panjang dan kembali membenahkan duduknya.


"Kakak, kenapa kalian bermesraan di depan ku. Kakak sudah menodai mata suciku tau." Protes Vera yg habis menyaksikan adegan panas tadi .


Vera mengibas tanggannya ke dalam air dengan kasar sambil memoncongkan bibirnya. Ia merasa malu karena perbuatan kakaknya.


"Hahaha... dasar Bakpao. Salah sendiri mau melihatnya." Jawab kafka dengan tawanya yg renyah tanpa merasa malu ataupun merasa bersalah.


Diandra menatap Kafka tajam sambil mencubit perutnya.


"Dasar kakak ngak punya akhlak!" bengisnya kecut


"Aw,,, sakit sayang." Jawab Kafka merintih kesakitan.


"Awas kalian, aku pasti akan menghukum kalian." Sahut Iffa kesal.


Iffa segera keluar dari kolam dan pergi meninggalkan Kakaknya.


"Yah,,, dia marah." ucapnya lirih sambil menunjuk ke arah Iffa.


"Dasar bocah."


"Kamu tu yg bikin marah, sana minta maaf." Sahut Diandra sambil mendorong dorong tubuh Kafka.


"Bodo amet, ngak mungkin dia akan marah, bentar lagi juga akan baikan ." jawab Kafka cuek.


"Terserah kamu ajalah!"


"Sayang, apa ada masalah soal Papa." Tanya Diadra penasaran .


"Tidak ada, papa hanya bicara soal bisnis aja."Jawab Kafka sambil manyandarkan tubuhnya di kursi Ayunan.


"Aku lelah, bisakah kita istirahat." ucap Diandra lesu.


Ia menyandarkan kepalanya di dada bidak suaminya sambil mengusap perut Kafka pelan.


"Apa kamu mau tidur di pangkuanku." Goda Kafka yg di iringi senyuman mesumnya.


"Aku mau masuk." imbuhnya dengan melangkahkan kakinya sedikit agak cepat.


Kafka segera bangkit dari duduknya dan segera menyusul Diandra.


"Sayang, kita pulang aja yuk." Ajak Kafka dan di iya'i oleh Diandra.


Kafka kembali pulang setelah berpamitan sama keluarganya .


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hari sudah mulai siang, sinar mentaripun terasa menyengat membakar kulit.


Diandra dan Kafka duduk di depan tv sambil menikmati segarnya ice cream.


"Huh...segernya." ucap Diandra sambil menjilati ice creamnya.


"Dasar bocah, kaya anak kecil saja makannya." sahut Kafka sambil mengusap bibir Diandra dengan tisu.


Diandra tidak bisa makan ice cream dengan rapi.


"Bodo amet."jawab Diandra tak perduli yg masih terus menjilati segernya ice cream itu.


Ting,,, tong,,, ting,,,tong,,,


Bel apartemen berbunyi, Kafka menaruh ice creamnya dan berjalan mendekati pintu.


Sedangkan Diandra masih asyik menikmati ice creamnya tak perduli dengan bunyi bel.


kreekkk.....


Pintu terbuka dan betapa tak percayanya dengan siapa yg datang siang ini.


Kafka terkejut melihat gadis cantik yg kini berdiri di depannya.


"Kamu, ada apa ke sini?" Tanya Kafka sopan.


"Maaf jika aku menganggu istirahatmu. Bisakah aku bertemu dengan Istrimu?" jawabnya dengan anggun dan sopan.


"Tentu saja, masuklah." balas Kafka dan mempersilahkan gadis itu masuk.


Gadis itu masuk dengan langkahnya yg sedikit kaku.


Kafka segera menutup pintunya kembali dan berjalan di belakang gadis itu dengan seribu pertanyaan yg terlintas di otaknya.


Kafka segera menuju dapur untuk mengambil minuman dan membiarkan gadis itu bertemu istrinya.


Mata Diandra menjadi lebar bulat setelah melihat siapa yg datang.


Ia langsung menaruh ice creamnya dan segera bangkit dari duduknya.


Hatinya berdebar tak karuan, pikirannya melayang tak tentu arah.


Berkali kali Ia mengeryip ngeryipkan matanya, Ia takut jika ini hanya sebuah mimpi.


Ternyata tidak, ini sungguh nyata karena Ia bisa merasakan sakit di pipinya saat ia menepuk pipinya secara kasar.


Senyumannya semakin mengembang dan merekah dengan kehadiran sahabat kecilnya itu.


"Rosi, ada apa ? Tanya Diandra gugup tak percaya.


"Diandra maafkan aku." ucap Rosi sendu di iringi isak tangisnya.


Rosi memeluk tubuh Diandra erat sambil menitihkan air matanya. Sudah terlihat sangat jelas jika air matanya menandakan rasa penyesalan yg teramat dalam.


"Ku mohon tolong maafkan aku." ucapan Rosi samar dan lirih namun sangat terdengar jelas di telinga Diandra.


Diandra membalas pelukan Rosi dan menitihkan air matanya.


"Kamu tidak salah, aku yg salah. Seandainya dari awal aku jujur padamu, mungkin semua tidak akan seperti ini. Rosi, aku juga minta maaf sama kamu gara gara aku, kamu harus merasakan sakit hati." jawab Diandra serak dan samar.


Rosi melepaskan pelukannya, Ia memandang wajah Diandra sendu dan penuh penyesalan.


"Bisakah kita berteman seperti dulu lagi." Tanya Rosi penuh harapan. Ia mengenggam tangan Diandra hangat .


Diandra menepuk tangan Rosi pelan sambil tersenyum tipis


"Tentu saja, kita kan teman " ucapnya penuh semangat


" Ayo duduk."


"Terima kasih." jawabnya lalu duduk dengan anggun.


Kafka merasa bahagia, akhirnya dua sahabat ini bisa akur kembali. Ini adalah sebuah kebahagian yg tidak bisa di tukar dengan apapun. Persahabatan mereka sangat berharga baginya.


Kafka kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas jus orange.


Ia menaruhnya di atas meja dan tepat di hadapan mereka.


"Kalian pasti haus, ayo minumlah." ucap Kafka mencoba membawa suasana mencair


Karena dari tadi suasana sangat haru dan menegangkan.


"Terima kasih, Kafka." jawab Rosi sambil menyesap jus orange.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sahabat sejati akan selalu memaafkan dan akan selalu ada disaat susah maupun senang.


Tak akan pernah goyah meskipun badai menerjang, angin kencang menerpanya.


Ia akan tetap kokoh karena mereka akan saling menguatkan


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


ups...sok puitis ni aku.


Terima kasih buat kaka" yg sudah mau kirim like ,komen dan Vote maupun rate nya.


Yg belum buruan kirim langsung ya.


πŸ™πŸ™