Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
51.Vera kena apes


Daindra dan Kafka telah tiba di Apartemennya.


Diandra terlihat sangat sedih dengan kejadian tadi.


Diandra duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya di gunungan sofa.


Derain air matanya kembali berlinang.


Kafka paham dengan apa yg di rasakan istrinya.


Kafka duduk dan menggengam tangan istrinya lembut.


Ia sedikit mengangkat dagu istrinya sejajar dengan wajahnya.


"Sayang, percayalah padaku, dia tidak marah padamu tapi ia hanya butuh waktu untuk menenangkan hatinya ."ucap kafka lembut. Kafka mengusap pipi Diandra pelan lalu mencium kening dan memeluknya hangat.


Tanggannya mengusap kepala Diandra lembut.


"Aku tidak tahu tapi yg jelas ini pasti sangat menyakitkan untuknya." sahut Diandra yg di iringi dengan isak tangisnya.


Diandra memeluk Kafka erat, pelukan itu membuat hatinya sedikit tenang dan nyaman.


Menghela napasnya panjang


"Kafka." panggilnya samar dengan sedikit mendongakkan wajahnya dan menatap wajah kafka.


"Iya." jawab kafka singkat sambil menundukkan pandangannya.


"Ada apa?" Tanya kafka penuh perhatian sambil menyeka air mata istrinya yg dari tadi mengalir deras membasahi pipinya.


Kafka tersenyum tipis lalu mencium bibir istrinya penuh cinta.


"Berjanjilah padaku jika kamu akan selalu ada di sampingku. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Marahi aku dan hukumlah aku, jika aku melakukan kesalahan tapi jangan pernah pergi meninggalkan ku." ucap Diandra penuh permohonan. Ia masih menatap wajah Kafka sembari mengengam tangan kafka dan meletakkan di depan dadanya.


"Iya, aku janji tidak akan meninggalkan mu, aku akan selalu ada di samping mu. Percayalah jika aku tulus mencintaimu." jawab kafka sembari mengecup kening Diandra lembut.


"Sudah malam, istirahatlah." lalu ia membaringkan tubuh Diandra di atas ranjang.


Memeluk istrinya hangat dan menghujaninya dengan kecupan mesra.


Dalam sekejap Diandra pun tertidur dan kini Kafka pun ikut tertidur di samping istrinya.


Kafka tetap memeluk tubuh Diandra meskipun dalam keadaan tertidur.


Kafka memang begitu mencintai istrinya.


Hingga tak ingin rasanya ia jauh sedikitpun dari Istri cantiknya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Rosi masih duduk diam terpaku di atas sofa yg berada di kamarnya.


Ia menyandarkan tubuhnya di gunungan sofa sembari menaikkan kakinya di atas sofa.


Ia membuka galeri ponselnya, mengeser dan membukanya satu persatu.


Jarinya berhenti di salah satu foto, yaitu ada dirinya, Diandra dan juga jaka saat foto bersama.


Rosi tersenyum getir dengan di iringi butiran bening jatuh dari pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak saat ingat masa-masa itu.


Tak pernah ada pertengkaran, tak pernah ada rasa sakit hati, yg ada hanya rasa bahagia.


Tangisnya terasa getir untuk di rasa dan di ingat.


"Maafkan aku, mungkin aku adalah teman yg egois, aku tidak tahu jika kalian saling mencintai. Aku tidak tahu jika Kafka benar mencintaimu. Aku hadir di hati yg salah. Kamu sudah berusaha menyerahkan Kafka padaku tapi karena ke egoisanku justru aku menolak dan membencimu.


Aku sangat bodoh,,,


Maafkan aku." ucap Rosi penuh penyesalan sembari mendekap ponselnya erat.


Air matanya semakin deras membasahi pipinya.


Rosi membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil mendekap ponselnya. Karena merasa lelah menangis akhirnya perlahan matanya mulai terpejam dan tertidur dengan mendekap ponselnya.


😭😭😭😭😭😭😭😭


Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya.


Diandra dan Kafka sudah terlihat rapi dan. bersiap hendak berkunjung ke rumah Tuan Saputra.


Diandra duduk di samping Kafka dengan menyandarkan tubuhnya di bangku mobil.


Ia terlihat lesu dan tak bersemangat.


Pikirannya masih melayang tak tentu arah, pandangannya pun masih kosong tanpa memori.


Kafka tahu jika istrinya sedang galau, ia meraih tangan Diandra dan menggengamnya hangat. Sesekali ia mencium punggung tangan Diandra mesra.


"Sayang, I love you." ucap Kafka mencoba menggoda Istrinya.


Kafka sengaja melajukan mobilnya dengan pelan dan santai agar ia bisa lama berada di dalam mobil.


Diandra hanya diam membisu tanpa menjawab ucapan kafka sembari memandang ke arah luar cendela dengan pandangan kosongnya.


Kafka meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.


Ia mengambil dagu Diandra dan mendekatkan wajahnya dekat wajah Diandra hingga sangat terasa hembusan nafasnya menerpa wajah Diandra .


Kafka mengecup bibir istrinya lembut dengan kasih dan sayang.


"I love you." bisiknya mesra


Diandra terbelalak kaget sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu menciumku di sini?" ucapnya sambil memencet hidung Kafka.


"Aku tidak ingin melihat mu sedih." jawabnya sembari mengusap bibir Diandra dengan jemarinya.


Kafka kembali melajukan mobilnya pelan.


Tangan satunya masih mengengam tangan Diandra.


Diandra hanya tersenyum tipis melihat perhatian Kafka yg sangat menyayangi dirinya.


"Kafka, tolong berhenti di depan. Aku mau beli kue buat Mama." Ucap Diandra sambil menunjuk ke arah toko kue.


Kafka menghentikan mobilnya pelan tepat di depan toko Kue.


Diandra membuka pintu mobil lalu turun dan berjalan masuk ke dalam toko.


Diandra memesan kue brownis dan beberapa kue lainnnya.


Diandra melihat ke arah pojok kue.


Ada seorang gadis cantik duduk bersama bule tampan.


Wajah gadis itu tidak asing bagi Diandra.


Diandra mencoba mengacak memorinya.


Ia berusaha mengingat nama gadis itu.


Diandra berjalan mendekati gadis itu setelah mengingat namanya.


Gadis itu menoleh dan membalas senyuman Diandra.


"Hei,,, kamu. Apa kabar??" tanya gadis itu langsung berdiri lalu memeluk Diandra hangat.


"Kabar baik kak, sepertinya kakak juga sehat. Kakak beli kue juga?" tanya Diandra akrab.


"Iya, oh..ya kenalin ini suami aku." Ucap Cici sambil menunjuk ke arah bule yg tadi duduk di depannya.


"Hai Tuan, aku Diandra." sapa Diandra ramah sambil mengangkat telapak tangannya.


Bule itu membalasnya dengan ramah.


"Ya udah kak, aku pergi dulu suami ku sudah nunggu di depan." ucap Diandra pamit karena tak ingin Kafka menunggunya lebih lama lagi.


"Ok,,, hati-hati, daaah...!" balas Cici sambil melambaikan tangannya.


"Daah....!"


Diandra pun pergi meninggalkan Cici dan kembali masuk mobil dengan senyuman yg mengembang.


"Ayo jalan." perintah Diandra ke Kafka sambil memasang sabuk pengamannya.


"Ok sayang." jawab Kafka dengan senyuman manisnya.


"Tadi aku ketemu Cici." Ucap Diandra.


"Oh..ya, apa katanya." tanya Kafka.


"Tidak ada, ternyata Dia sudah menikah."


"Baguslah kalau begitu." jawab Kafka singkat.


Mobil Kafka berhenti di depan halaman rumah Papanya.


Diandra dan Kafka keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Ada mama berdiri di ruang tamu, Mama sudah dari tadi menunggu kedatangaanya.


Mama terlihat bahagia dengan kehadiran mereka.


"Apa kabar, Ma!" sapa Kafka lalu memeluk Mamanya.


"Baik sayang." Balas Mama.


"Ma, ini aku bawakan kue buat Mama." Sahut Diandra sambil menyodorkan paper bag berisikan kue yg ia belu tadi .


Mama menerimanya dengan senyuman bahagia.


"Terima kasih, sayang. Ayo masuk." Jawab Mama lalu mengandeng tangan Diandra.


Kafka segera naik ke ruang kerja Papanya sedangkan Diandra dan Mama duduk di ruang tv.


Iffa datang dan lansung memeluk Diandra.


"Pagi kak, muach....!" Sapa Iffa sambil mencium pipi Diandra. Iffa terlihat senang dengan ke hadiran Diandra.


"pagi sayang."Jawabnya sambil mengacak rambut Iffa.


"Mana kak Kafka?"


"Ada di atas sama Papa." jawan Diandra.


"Wah,, enak ni." ucap Iffa langsung menyantap kue yg tadi di bawa Diandra.


"Iffa, kamu ini main comot aja. Cuci tanganmu dulu." protes Mama sambil menepuk tangan Iffa.


"Aww...sakit ma, udah nanggung Ma." jawabnya tak perduli sambil mengunyah kue Brownis itu hingga mulutnya di penuhi kue.


"Sayang, Mama tinggal dulu ya, Mama merasa pusing soalnya ." ucap mama.


Mama pergi ke kamarnya mau istirahat karena merasa tidak enak badan.


Vera datang dengan pandangan sinisnya.


Ia duduk agak jauh dari Diandra.


Ia hanya diam sambil menatap Diandra tajam.


"Hai Vera, apa kabar??" Sapa Diandra ramah.


"Baik." jawab Vera datar tanpa ekspresi.


Sorot matanya menandakan rasa ketidaksukaannya terhadap Iffa dan Diandra.


"Kak, ayo kita main ayunan." Ajak Iffa sambil menarik tangan Diandra agar bisa menjauh dari Vera.


Diandra pun hanya patuh dan mengikuti langkah Iffa .


Iffa dan Diandra meninggalakan Vera sendiri.


Vera merasa kesal dengan tingkah Iffa.


"Dasar kampret, malah aku di tinggal sendiri di sini, awas kalian." ucapnya kesal sambil memasukkan kue brownis ke dalam mulutnya dengan kasar.


Diandra dan Iffa duduk di atas ayunan yg berada di dekat kolam renang.


"Kak, ayo kita renang." Ajak Iffa


"Ngak ah, aku gk bisa renang." jawab Diandra dengan menyunggingkan senyumannya.


Iffa turun dari ayunan dan langsung melompat ke dalam kolam renang.


Ya,,Iffa tadi memang sudah memakai kaos oblong dan celana pendek di atas lutut jadi ngak perlu ganti baju lagi.


Diandra hanya melihatnya dari atas ayunan sambil mengoyangkan ayunannya pelan.


Vera datang menghampiri Diandra.


Ia ingin mendorong Diandra keras dari atas ayunan supaya Diandra terjatuh ke dalam kolam renang.


Vera hanya fokus dengan Diandra dan ngak Fokus dengan jalannya, tanpa sengaja ia kepleset dan terjungkir masuk kolam.


Iffa ketawa terbahak bahak melihat Vera terjatuh.


Diandra berusaha menahan tawanya karena takut Vera marah.


"Kalau mau renag pakai baju renang kak, jangan pakai rok haha... haha..haah." Tawa Iffa semakin keras ketika melihat wajah Vera merah karena kesal.


"Syukurin tu, emang enak hahaha.." ucap Iffa lirih.


"Sialan, gagal lagi gagal lagi.Awas kalian." Bengis Vera kesal.


Vera segera keluar dari dalam kolam dan berlari hendak masuk rumah.


ketika sampai dekat pintu ia Tak sengaja menabarak pot bunga yg ada di samping pintu.


"Sial, apes banget sih aku hari ini." Ucapnya sambil menendang pot bunga itu hingga terpental agak jauh dari tempatnya.


Iffa dan Diandra tertawa renyah melihat Vera singsara.