Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
69. seperti malam pertama


Vera dan An turun dari mobil dan langsung masuk ke aula tempat acar pesta pernikahan Rosi dan Egi berlangsung.


Vera terlihat cantik saat mengenakan gaun berwarna putih tulang dengan sepatu hak tingginya dan acesoris dompet lipat di tangannya.


Ia terlihat anggun dan elegan meskipun riasan wajahnya sangat tipis.


An mengenakan jas berwarna putih tulang senada dengan gaun Vera dan sepatu yg hitam mengkilap.


Vera berjalan anggun sambil menggandeng lengan An.


Mereka terlihat serasi meskipun bukan sepasang kekasih.


Diandra tak menyangka jika Mereka akan datang malam itu.


"Kafka, benarkah itu Vera dan An?" Tanyanya sambil menunjuk ke arah Mereka.


Kafka menajamkan pandangannya dan tersenyum tipis.


"hem,,, benar itu mereka, masih punya nyali juga tu anak, aku pikir dia tidak akan datang." jawab Kafka sambil menyesap minumnya.


Diandra melambaikan tangannya saat melihat mereka.


An dan Vera datang menghampiri Diandra.


"Akhirnya kalian datang juga, apa kalian sudah mengucapkan selamat sama Rosi?" Tanya Diandra.


"Belum, nanti aku akan ke sana." Jawab Vera gugup.


Vera sudah siap dengan resiko yg Ia ambil, mungkin Rosi akan marah padanya, namun saat ini Vera hanya ingin meminta maaf padanya. Ia tidak ingin punya banyak musuh lagi.


"Kak, aku mau ke toilet dulu." Ucap Vera lalu pergi meninggalkan mereka.


Hati Vera belum tenang sebelum meminta maaf sama Rosi.


Ia berusaha memberanikan diri naik ke panggung untuk mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf.


Vera berdiri di depan Rosi dengan senyum penyesalan


"Rosi, selamat ya semoga langgeng selamanya. Ros, aku ke sini mau minta maaf pada mu atas semua kesalahan ku." Ucap Vera memelas.


Rosi tersenyum sengit saat melihat wajah Vera, tapi ini adalah hari bahagianya dan tidak mungkin dia akan marah di depan semua orang. Toh kata Diandra, Vera sudah berubah dan sikapnya kini sudah baik, tidak ada salahnya jika Rosi juga memaafkan semua kesalahannya.


"Terima kasih kamu sudah mau datang. Vera, aku sudah memaafkan mu dan aku harap kamu benar-benar berubah. Jadilah orang yg baik meskipun banyak orang yg sudah menyakitimu ." Jawab Rosi lalu memeluk Vera hangat.


Vera membalas pelukan Rosi dan merasa lega.


"Terima kasih Ros, kamu sudah mau memaafkan aku, aku janji padamu aku tidak akan jadi orang yg berjiwa pendemdam lagi.". Ucap Vera dengan sungguh-sungguh lalu turun dari atas panggung.


Vera turun dengan hati yg lega karena Rosi sudah memaafkannya.


Vera kembali bergabung dengan Diandra dan yg lainnya.


"Lama banget kamu, dari mana aja?" Ketus Kafka.


"Maaf jika aku lama, aku hanya pergi ke toilet kok." Jawab Vera memelas.


"An, tolong jaga dia jangan biarkan di makan singa lain, aku sama Diandra mau pulang duluan." Ucap Kafka ke An.


"Siap Bos, pasti dia aman kalau sama saya." Jawab An antusias dan semangat.


An seperti seorang pahlawan yg di tugaskan untuk menjaga tuan putri.


"Tentu saja aku akan menjaganya, meskipun tidak ada yg menyuruh, ini kesempatan dalam kesempitan tau." batinnya .


"Aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik." Pamit Diandra lalu mencium pipi Vera.


"Ya, kamu juga hati-hati di jalan." jawab Vera sambil melambaikan tangannya.


Vera melirik wajah An pelan lalu kembali menunduk. Hatinya terasa nyaman saat bersamanya apalagi Kafka juga ngebolehin mereka berpacaran.


Kafka dan Diandra keluar dari gedung setelah berpamitan sama Rosi, Egi dan juga kedua orang tua mereka.


Selama dalam mobil Diandra hanya diam sambil senyum-senyum sendiri.


Ia membayangkan jika An dan Vera beneran jadi sepasang kekasih, lalu apa yg akan terjadi.


"Sayang, kenapa kamu senyum-senyum sendiri, apa ada yg lucu?" Tanya Kafka setelah menyadari sikap aneh Istrinya.


Kafka mengusap kepala Diandra pelan lalu mengengam tangannya.


Diandra menoleh ke arah Kafka.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma ngebayangin gimana jadinya kalau Seorang Artis menikah dengan Pria Asisten pribadi mu. Pasti mereka terlihat lucu." jawab Diandra.


"Di mana lucunya, yg ada jengkelin tau. Artis yg manja dengan An yg kocak, tau ah...no komen." Sinis Kafka.


"Hah kau ini, dasar pria yg aneh." celetunya.


Ia memoncongkan bibirnya dan langsung membuang muka. Ia enggan berbicara dengan Kafka, karena Kafka selalu menyangkal omongannya.


"Ya maaf, aku salah." Ucap Kafka lalu kembali mencium punggung tangan Istrinya.


Kafka menghentikan mobilnya di depan


halaman rumahnya.


Kafka dan Diandra turun dari dalam mobil.


Kafka langsung mengendong Diandra di Pundaknya seperti mengendong karung beras saja.


"Ah kau ini, kenapa mengendong ku?" Protes Diandra.


"Tolong turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Ketusnya lagi.


Diandra hanya diam tanpa perlawanan saat mendengar ucapan Kafka.


Diandra tersenyum dan merasakan ssesuatu yg beda saat bersama Kafka. Ia sangat yakin jika Kafka adalah suami yg baik untuknya.


Kreek...


Kafka membuka pintu kamarnya pelan lalu kembali menutup dan menguncinya.


Ia juga menyalakan saklar lampu kamarnya.


Kafka menurunkan tubuh Istrinya di atas ranjang.


Nafasnya terdengar ngos-ngosan karena kelelahan.


"Apa kau lelah, dasar cemen baru segitu aja udah k'o?" ledek Diandra lalu bangun untuk mengambilkan minum.


"Iya aku lelah." jawabnya.


"Minumlah." ucap Diandra lalu menyodorkan segelas air putih.


Kafka mengambilnya lalu menyesapnya.


Diandra dan Kafka sudah berganti baju piyama, mereka siap untuk membangun jalan di pulau kapok.


"Sayang?" panggil Kafka mesra.


"Hem, ada apa?" jawab Diandra cuek.


"Sayang?" Panggilnya lagi lalu mendekatkan tubuhnya di dekat Diandra.


Kafka ingin meminta sesuatu tapi takut jika Diandra akan menolaknya.


"Apaan sih, geli tau." Jawab Diandra cuek dan tidak peka dengan ke inginan Kafka.


"Sayang, I Love You." Ucap Kafka lagi lalu mengetip-ngetipkan matanya.


Diandra tersenyum tipis melihat tingkah laku Kafka yg agak aneh itu.


"Kenapa mata kamu, kelilipan ya?" tanyanya.


Kafka merasa bingung harus memulainya dari mana. Setelah beberapa bulan mereka memang tidak pernah bercinta dan ini pertama kalinya Mereka tidur seranjang lagi setelah beberapa bulan tidur terpisah.


Kafka menatap wajah Diandra lekat lalu mencium keningnya lembut.


Diandra pun membiarkan Kafka menciumnya.


Kafka mengusap pipi Diandra lalu mengusap bibirnya.


Kafka adalah pria normal tidak ada salahnya jika ada aliran listrik yg semakin menegang pada dirinya.


Kafka menc**m bibir Diandra lembut, Diandra hanya membulatkan matanya dan membiarkannya lagi.


Kini tangan Kafka mulai bermain lincah kesana kemari menikmati setiap lekuk tub*h istrinya.


Jarinya sudah merasuk kedalam jiwa Istrinya hingga membuat Diandra merasakan sensasi yg menggairahkan.


Diandra mengeliat seperti cacing kepanasan saat mendapatkan belain mesra pada salah satu daerah terlarangnya.


Ia menikmati setiap sentuhan mesra itu.


Bahkan Ia tak mampu lagi untuk berkata ataupun membrontaknya.


Kafka dengan lincah bermain seperti pemain sepak bola hendak memasukkan bola ke gawangnya.


Ia sangat mengila dan melakukannya dengan lembut saat mendengar desa*an istrinya.


Gairah jiwanya semakin bergelora dan membara.


Ini adalah saat yg di tunggu dan di rindukan setelah hampir setahun lamanya ia menunggu.


Nafas mereka hampir saja putus, namun mereka masih asyik menikmati setiap alunan dan gerakan yg membuatnya semakin mengeliat penuh gairah.


Rasa lelah tak mampu membuatnya untuk berhenti walupun hanya sedetik.


Kafka menghentikan aksinya setelah melihat istrinya kelelahan dan kwalahan melayaninya.


Ia tidak tega membuat istrinya lebih lelah dari ini.


Rasa lelah terbayar sudah dengan rasa puas.


Kafka mampu melakukannya berkali-kali seperti orang kehausan kasih sayang.


"Huh, aku lelah sekali." ucap Diandra dengan nafas beratnya.


"Apa aku melakukannya dengan kasar, maaf jika aku membuat mu sakit." Ucap Kafka lalu membalutkan handuk ke tubuh Diandra.


Kafka sudah menyiapkan semuanya sebelum melakukannya tadi.


Kafka segera melilitkan handuk di pinggangnya dan membopong Diandra ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri secara bersama.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Ups,, kalian yg baca ikut ngos-ngosan ngak, eh ngak usah baper lo ya.


Jangan lupa like, komen, rate dan vote karya aku.


Mampir juga di novel aku yg lainnya.


🙏🙏🙏