
Matahari telah menjulang tinggi.
Sinarnya yg tajam dan embusan anginnya seperti sedang beradu. Diandra duduk di atas kursi yg bergelayutan menikmati pemandangan taman yg di penuhi ratusan bunga indah yg bermekaran.
Senyuman mengembang terpancar di bibir mungilnya.
Antara bahagia dan sedih masih berhamburan di otak dalamnya.
Ia bermimpi dalam lamunannya.
Raffa tersenyum tipis melihat orang terkasihnya kini berada dalam istananya.
Berjalan mendekati dan duduk sejajar dengannya.
"Sayang, apa kau bahagia?" Tanyanya lembut.
Suara lembut Raffa membuyarkan lamunannya.
Diandra masih diam seribu bahasa hanya meliriknya pelan dan kembali memandang bunga mawar di depannya.
"Sayang, kau masih marah?tanyanya lagi.
Raffa tak tahan di cuekin istrinya.
Menghela nafas panjang membuangnya kasar.
Meraih dagunya pelan dan menatapnya lembut.
"Cuups." Satu kecupan manis mendarat di bibir munggil istrinya, senyuman licik terpancar di wajah tampannya.
Dindra diam tak percaya matanya bulat lebar pipinya merah merona.
"Aku menghukum mu."ucap Raffa licik.
Diandra tersenyum tipis dan memanggutkan kepalanya.
"Apa kau merasa baikan?"Sambungnya
Diandra mengangguk tak ingin suaminya menghukumnya lagi.
"*A*pa semua pria seperti itu sangat nafsu jika melihat istrinya diam." Bisik diandra dalam hati.
"Kruuuk." Suara perut Diandra berbunyi, ia mendongak menatap suaminya dan tersenyum malu.
"Mau lapar kan, ayo kita makan?" Ucap Raffa menarik pergelangan tangan Diandra pelan.
Mereka meninggalkan taman melangkah menuju meja makan. Ada berbagai macam sayur dan lauk pauk yg tertata rapi di atas meja.
Mata Diandra terbelalak melihatnya. Seumur umur ia tk pernah melihat makanan sebanyak dan seenak ini ketika masih tinggal bersama ibu dan ayahnya.
"Kak, apa ada tamu?"tanyanya penasaran.
"Tidak, Bibi menyiapakan ini untuk menyambut mu." jawab Raffa sembari menggeser satu kursi untuk istrinya.
"Tapi ini pemborosan kak, kita cuma berdua tapi makanannya sebanyak ini." Balas Diandra
sembari menyiapkan makanan untuk suami dan untuknya.
"Ya, baiklah besok biar Bibi masak seperlunya saja." jawab Raffa .
Diandra tersenyum sembari menikmati makannanya.
Diandra makan dengan lahap,
Raffa melihatnya merasa bahagia.
Selesei makan siang mereka bersantai di rung tv.
Raffa meletakan kepalanya di atas pangkuan istrinya.
Hati Diandra merasa tak karuan jantungnya berdebar tak menentu. Darahnya mengalir begitu cepat seperti ada aliran listrik menyengat kepalanya.
Raffa menatap istrinya lembut namun Diandra mengalihkan pandangannya jauh. Dia menjadi salah tingkah di buatnya.
"Oh Tuhan, jauhkan pandangan itu dariku, tak sanggup hati ini menatapnya."bisik Diandra dalam hati.
"Sayang." panggil Raffa mesra.
"Iya."jawab Diandra tanpa melihatnya dan masih membuang mukanya jauh.
Raffa melingkarkan tangannya di leher belakang Diandra pelan dan menundukkannya, wajah mereka kini sejajar.
Mata Diandra kembali bulat, detak jantungnya terpompa lebih kencang.
Raffa menempelkan bibirnya di bibir istrinya, ********** tanpa ampun.
Diandra memberontaknya namun Raffa semakin keras menahannya.
Diandra hanya diam patuh tanpa perlawanan.
Puas rasanya Raffa membuat Diandra mati kutu.
Nafas Diandra terasa sesak, jantungnya terasa sangat cepat berdetak.
"Sayang, bersiaplah kita akan ke rumah mama sekarang." Ucap Raffa menyudahi ciumammya.
Diandra diam menata nafasny yg tak beraturan.
Raffa bangkit dari tidurnya dan mengandeng istrinya masuk kamar.
Diandra telah bersiap memakai gaun cantik yg sudah di siapkan Raffa.
Raffa meraih tangan Diandra dan mengandeng tangannya lembut.
Diandra hanya patuh begitu saja
melangkah pergi meninggalkan kamar menuju garasi.
Diandra masuk mobil dengan hati tak karuan.
Ini pertama kalinya ia akan bertemu mertuanya.
Hati senang berkacambuk resah dan gelisah.
Senang akan bertemu mertuanya, akan sedih rasanya jika mereka tidak menerimanya sebagai menantu.
Secara mereka bagai langit dan bumi
jauh berbeda, Raffa orang terhormat dan kaya.
Sedangkan dirinya hanya gadis miskin tidak punya apa apa.
Tangganya menjadi dingin sedingin es balok.
Menggigit bawah bibirnya keras, memejamkan matanya lekat, Menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
Raffa menggegam tangan kananya erat dan lembut.
Dia sadar jika istrinya gugup Raffa mencoba menenangkan.
Nerkali kali Fiandra mencoba mengambil nafas dalam dan mengeluarkan pelan.
Mobil Raffa parkir di halaman rumah yg terlihat mewah bahkan lebih mewah dari pada rumah Raffa yg sekarang mereka tempati.
Raffa membukakan pintu untuk istriny, Diandra keluar dengan hati yg gugup dan gelisah tak menentu.
Raffa melingkarkan tangganya di pinggang Diandra dan mengajaknya masuk.
"Yakinlah, mereka orang yg baik."ucap Raffa dan membuat hati Diandra sedikit lega.
Seorang pelayan paruh baya membukakan pintu dan membungkukan badan sebagai salam sapa.
Mereka membalas membukukkan badannya.
berjalan menuju ruang tamu.
Ada Mama dan Papa berdiri menunggu kedatangannya.
Mama tersenyum dan menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum Ma."ucap Diandra ragu dan gugup. Mama dan papa tersenyum.
"Wa'alaikum salam sayang."jawab Papa dan Mama.
Mama memeluk Raffa dan berganti memeluk Diandra.
"Sayang, ayo duduk." ajak Mama menarik tanggan Diandra.
Diandra merasa plong lega karena mereka menyambutnya dengan ramah .
Diandra patuh dan nurut sama mertuanya.
Mereka duduk dan saling bertukar kabar.
"Sayang, kamu sangat cantik."ucap Mama.
Diandra tersenyum malu.
"Makasih Ma."jawab Diandra malu malu.
Mereka melajutkan ngobrolnya.
Di tengah asiknya mengobrol ada adik Raffa datang.
"Kak Raffa."teriak gadis cantik dari seberang sana. Berlari kecil mendekati Raffa dan memeluknya erat.
"Kak, aku kangen."ucap gadis itu manja.
Diandra melihatnya iri dan tersenyum tipis. Dia sangat iri dengan kedekatan mereka.
Seandainya Susana memperlakukanny seperti itu mungkin Dia tidak akan menderita.
Gadis itu menatap wajah Diandra lekat dan berjalan menghampiri Diandra.
"Hai kak, aku Iffa."ucap gadis itu mengulurkan tangganya.
"Hai,, gadis cantik, aku Diandra."jawabnya membalas uluran tangan Iffa.
Iffa dan Diandra sama- sama baru lulus SMA.
"Kakak juga cantik, tidak heran jika kakak ku menggilai mu."tambahnya centil.
Dindra hanya tertawa kecil dan mereka ikut tertawa.
Ada seorang pria tampan datang membuka pintu dan berjalan menghampiri mereka.
Diandra menatapnya kaget, senyumannya menjadi pudar hatinya bertanya tanya.
"Kenapa dia ada disini?"pikir Diandra dalam hati.
"Sayang, kamu sudah pulang?"tanya Mama.
"Iya Ma."jawabnya sopan tapi terlihat lesu.
Pria itu menatap Diandra tajam.
ia tau jika Diandra adalah istri Raffa.
Mendengar kata " Iya Ma" Diandra semakin deg deg kan. Sekarang dia tau jika pria sombong itu adalah adik Raffa itu berarti adik iparnya.
"Sayang, kenalkan dia adik ku, Kafka."tutur Raffa mengenalkan adiknya.
Diandra mengangguk.
"Sayang, personilnya sudah lengkap, ayo kita makan malam."Ucap Mama bercanda.
Mereka satu persatu meninggalkan ruang tamu dan duduk di meja makan.
Raffa dan Diandra duduk bersebelahan.
Kafka dan Iffa duduk di seberang.
Mereka menikmati makan malamnya dengan lahap.
Hanya Diandra yg merasa canggung apa lagi ada Kafka di depannya. Kafka menunduk dan menikmati makanannya tanpa berbicara.
Diandra makan pelan merasa tidak nyaman.
"Diandra, makan yg banyak jangan sungkan sungkan." Tutur Papa yg melihat Diandra merasa tidak nyaman.
"Iya Pa makasih."jawab Diandra sopan.
Diandra melirik suaminya dan berganti melirik Kafka.
"*Di*a memang bersaudara tapi beda sekali wataknya.Bagaikan langit dan bumi."ucap Diandra lirih.
Kafka mendengarnya dan menatap Diandra tajam. Diandra sadar jika ia habis ngedumel, malu dan menundukkan kepala.
"Kamu ngomog apa sayang."Tanya Raffa mendengar ocehan istrinya yg tidak begitu jelas di telinganya.
"Tidak, aku bilang makanannya sangat enak." Jawab Diandra berbohong.
bersambung....
****
jangan lupa like,komen dan tulis sarannya ya kak,vote ,rate dan beri tanda ♥️
terima kasih
mampir juga ke novel aku yg berjudul
**roda kehidupan dan
**tujuan hidup